Oleh : Prayogi R Saputra

          Bulan puasa segera  tiba. Seperti biasa, Orang-orang Tjigrok menyambut datangnya bulan puasa dengan selamatan megengan, sebagai ungkapan rasa syukur atas datangnya bulan ramadhan. Dulu, megengandilakukan di tiap rumah. Berupa selamatan kecil-kecilan dengan menu tak selengkap selamatan kiriman tahunan untuk anggota keluarga yang telah meninggal. Selamatan megenganbiasanya dilakukan  selepas ashar menjelang malam 1 ramadhan. Satu keluarga mengundang para tetangga. Begitu seterusnya berpindah-pindah, bergiliran. Sebab,  setiap keluarga menyelenggarakannya.  Biasanya, dalam satu lingkungan jumlahnya bisa 10 hingga 20 keluarga.

Maka tak heran, jika nasi, lauk-pauk dan segala ubo rampeselamatan kemudian tidak semua bisa dimakan habis. Sebagian besar justru berakhir di jemuran nasi sebagai karak. Karena itu, entah siapa yang mengusulkan, akhirnya dibuatlah kebiasaan baru, bahwa selamatan megengan tidak perlu dilakukan di masing-masing keluarga. Cukup tiap keluarga membuat beberapa paket porsi  untuk kemudian dibawa ke Langgar. Acara doa dilakukan bersama-sama di Langgar. Dengan cara itu, selain bisa menghemat pengeluaran keluarga, sekaligus menghindari makanan yang dimasak dengan susah payah dan sungguh-sungguh terbuang sia-sia. Dan kebiasaan baru itu sudah berjalan bertahun-tahun, menjadi tradisi yang hidup di masyarakat Tjigrok.

Namun, menjelang bulan puasa tahun ini, ada ontran-ontranmenjelang megengan. Semenjak Suko, cicit Mbah Kaji pendiri Langgar Tjigrok mengikuti sebuah aliran Islam yang “aneh”, kebiasaan yang sudah bertahun-tahun berjalan di Langgar dia tentang. Dia mengatakan bahwa megenganitu bid’ah, Rosulullah tidak pernah memerintahkan atau melakukan megengan. Sehingga,  haram untuk dilakukan. Maka, orang-orang Tjigrok pun naik pitam. Mereka tidak tersinggung dengan kata bid’ah, tapi sangat tersinggung dengan kata-kata “haram”.

“Suko!? Anak yang lahirnya baru kemarin sore sudah berani mengharam-haramkan?”  kata Sarimun.

“Oalah, Le, Le. Setinggi apa ilmumu sehingga berani melarang-larang orang tua?” Mbah Lindu menimpali.

“Kalau memang menurut dia megenganharam,  biar saja. Ndak apa-apa. Biar dia masuk surga sendirian. Kita sejak dulu melakukannya. Para santri juga melakukannya. Kenapa tiba-tiba haram. Bedesss elek!!!” kutuk Samin.

“Bahkan, Mbah buyutnya, Mbahnya, juga Bapaknya dulu juga melakukan. Bisa kuwalat anak ini,” Yu Sarti tak mau kalah.

“Loh…sekarang Bapaknya juga ikut-ikutan anaknya lo Kang. Sok suci. Sedikit-sedikit haram. Dikira kita nggak tahu kelakuannya. Suka nyerobot batas tanah tetangga. Nggak cocok omongan sama perilakunya. Memang Bajingan orang satu itu,” umpat Mbah Lindu tak terkontrol.

“Belum pernah dibacok anak satu ini,”ujar Kemis dingin.

Orang-orang terbelalak.

Memang beberapa hari sebelumnya, Suko menyampaikan kepada beberapa orang bahwa tahun ini, di Langgar tidak akan ada megengan. Dia sebagai cicit  pemilik Langgar mulai tahun ini akan mengambil pengelolaan Langgar dari Mbah Guru. Mbah Guru yang sudah bertahun-tahun menjadi  imam di Langggar Tjigrok, akhirnya digeser.

Mbah Guru seorang guru agama di desa. Bertahun-tahun dia menemani anak-anak dan orang-orang desa mengeja agama. Kendati hasilnya juga tak juga nampak. Memperkenalkan Tuhan di Tjigrok ibarat menanam padi di lahan tandus: hampir mustahil. Namun Mbah Guru tak lelah melakukannya.

Akhirnya, orang-orang Tjigrok bersepakat untuk mengadukan hal ini kepada Mbah Guru. Mereka memilih 3 orang sebagai perwakilan untuk menghadap Mbah Guru, meminta solusi atas persoalan ini.

“Orang-orang semua tidak terima dengan keputusan Suko Mbah Guru!” kata Moh Marwan ketika dia, Sarimun dan Samin menemui Mbah Guru di suatu petang yang hangat.

“Apalagi, dia ngomongnya pakai haram-haram Mbah Guru. Itu yang membuat kita nggak terima. Apa surga itu milik dia?” Sarimun menimpali.

“Bahkan, Kemis darahnya sudah mendidih Mbah Guru. Dia getem-getem kalau ketemu Suko,” tambah Samin.

“Tapi yang pertama Mbah Guru, sebenarnya kami menyesalkan mengapa Mbah Guru diam saja ketika digeser oleh Suko dan Bapaknya itu sebagai imam Langgar. Kita tahulah siapa Bapaknya Suko. Kok mendadak jadi orang yang sok alim. Suko juga begitu. Bertahun-tahun Langgar diimami Mbah Guru, tidak pernah ada masalah,” kata Moh Marwan yang dianggap ketua rombongan orang-orang  Tjigrok yang menghadap Mbah Guru.

“Maaf, ya Mbah Guru. Saya, Sarimun dan Samin memang tidak pernah ke Langgar. Nglakoni sholat saja, saya akui, saya memang tidak. Tapi, kami merasa aman, nyaman dan terlindungi ketika Mbah Guru yang menjadi imam Langgar. Mbah Guru tidak pernah menyinggung perasaan dan hati kami.”

Moh Marwan menghela nafas.

“Tapi semenjak Suko dan Bapaknya mengambil alih imam Langgar, semua orang menjadi tidak nyaman. Dia suka menyerang pribadi-pribadi kami. Ujung-ujungnya, dia yang merasa paling benar. Padahal, kita semua tahu kelakuannya kan Mbah?”

Mbah Guru menggeser duduknya.

“Ayo diminum dulu,”ujar Mbah Guru mempersilakan.

Cangkir-cangkir teh hangat dan beberapa potong mendoan tersaji di meja kayu di hadapan mereka.

“Ya kalau masalah aku yang tidak lagi jadi imam di Langgar, itu tidak masalah,”kata Mbah Guru melanjutkan,”Memang itu Langgar milik keluarganya. Jadi, soal itu tidak usah diperpanjanglah. Dicukupkan saja. Aku nggak merasa ada masalah.”

Sarimun dan Sarmin nampak hendak mengatakan sesuatu, namun dicegah oleh Moh Marwan.

“Sudah sekarang kembali ke soal megengansaja, jadi kemauan orang-orang seperti apa?” tanya Mbah Guru.

“Ini megengan tinggal besok, Mbah. Sebaiknya kita ini harus bagaimana?” kata Moh Marwan mewakili Orang-orang Tjigrok.

Sarimun dan Samin menatap Mbah Guru, mengharapkan jawaban yang memuaskan mereka. Beberapa detik jeda. Mbah Guru seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Setahuku ya Wan, Mun, Min, Kanjeng Nabi memang tidak pernah melakukan megengan.”

Mereka bertiga tersentak mendengar ucapan Mbah Guru.

“Kanjeng Nabi juga tidak pernah memerintahkan megengan.”

Sarimun hampir berdiri. Namun, Moh Marwan memegangi tangannya.

“Namun, Kanjeng Nabi juga tidak pernah melarang megengan.”

Ketiganya kemudian menjadi tenang kembali.

“Kanjeng Nabi menganjurkan kita untuk bersyukur dan berderma. Wujud syukur itu bisa saja dengan berderma, memberikan makanan kepada para tetangga. Hanya saja, kalau sedang tidak ada rezeki berlebih, tidak usah memaksakan diri. Itu jadinya malah tidak baik.”

Ketiga orang itu lega.

“Nah, sekarang kalau memang di Langgar sudah tidak boleh megengan. Besok, kalian boleh membawa paket makanan kesini. Kita adakan selamatan di sini. Bagaimana?” kata Mbah Guru.

Ketiga laki-laki itu saling berpandangan sambil tersenyum lega.

“Ya. Ya Mbah Guru. Kami akan sampaikan ke orang-orang.”

Ketiganya saling berpandangan dengan senyum merekah.

Tiba-tiba, dari halaman rumah Mbah Guru, Sumardi berlari-lari seperti kesetanan sambil berteriak-teriak.

“Mbah Guru!!! Mbah Guru!!! Suko terkapar dibacok orang. Cepat Mbah Guru!!! Dia tergeletak di dekat kebun!” begitu Sumardi tergopoh-gopoh.

Moh Marwan, Sarimun, dan Samin terperanjat.

“Kemis,” Sarimun membatin.

Namun Mah Guru tetap duduk tenang. Dia menarik nafas dalam-dalam.

Sumardi berdiri di depan pintu.

Mbah Guru memandangi mereka berempat, satu demi satu.

“Mungkin, perlu hal-hal seperti ini agar Suko tahu bagaimana caranya menggunakan lidahnya. Orang tidak hanya butuh belajar, namun juga butuh bijaksana.”

Moh Marwan, Sarimun, Samin, dan Sumardi mengangguk. Azan maghrib berkumandang dari langgar-langgar di kejauhan. Sementara, dari Langgar Tjigrok tak terdengar suara Suko yang biasanya mengumandangkan azan. Mbah Guru mengajak mereka beranjak untuk menolong Suko.

 

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra