Oleh : J.Rosyidi

“Randi itu kerjaannya hanya main Game terus.” Demikian keluh ibundanya kepada saya suatu ketika. “Padahal ini kan mau ujian semester!” Tambahnya.

Berapa banyak ayah bunda yang anaknya kesulitan memotivasi ananda untuk belajar? Berapa banyak yang kemudian memandang negatif kebiasaan bermain Game? Atau kalau misalnya kemudian bukan bermain game deh, tapi aktivitas yang lainnya yang menjadikan ananda tidak “belajar”. Apa kemudian yang biasanya terjadi? Anak divonis dan dilabeli anak pemalas adalah salah satunya. Benar bukan?

Bermain game -bahkan apabila sampai taraf kecanduan memang sudah masuk jenis penyakit oleh WHO yang mana harus segera direhabilitasi dengan tenaga ahlinya. Dalam konteks ini kita akan membahas keenganan belajar anak karena asik bermain -apapun- atau melakukan aktivitas yang membuat mereka sampai lupa waktu.

Dalam perspektif anak, bisa jadi anak ingin menunjukkan sesuatu yang digemarinya atau dalam bahasa yang lebih keren kita sebut passion. Sesuatu yang kemudian seringkali kita anggap remeh. Padahal kalau kita membaca bukunya Angela Duckworth, GRIT, menerangkan bahwa untuk menjadi sukses dan bahagia adalah paduan dari passion dan kegigihan yang kemudian diistilahkannya dengan GRIT -lain waktu akan kita bahas bagaimana menumbuhkan GRIT ini pada anak.

Nah, apa jadinya bila kemudian anak yang sedang menunjukkan passionya kemudian kita beri label atau cap yang kurang baik? Tentu anak tidak akan menemukan kenyamanan , alih-alih kegigihan yang disyaratkan sebagai anak tangga menuju kesuksesan dan kebahagian. Kalau toh memang kita kemudian merasa itu memang skala prioritas nya tidak tepat, maka bantulah anak kita untuk menyusun skala prioritas dengan memberikan alternatif manajemen waktu kepada anak. Kapan mereka “belajar” kapan mereka melakukan aktivitas yang mereka senangi -padahal keduanya adalah sama sama belajar dalam makna yang luas.

Dalam banyak kasus kita salah menangkap ekspresi yang ditunjukkan oleh anak. Padahal kita dulu pernah mengalami masa kecil seperti mereka. Karena perjalanan pengalaman kehidupan kita, kemudian kita merasa lebih tahu dari anak, sehingga akhirnya kita kehilangan kepekaan untuk menjadi “anak-anak”. Padahal kalau kita ingin mengerti anak anak kita ya kita harus berpikir dan melihat dengan perspektif mereka.

Bila anak kita “keras kepala” bisa jadi dia ingin menunjukkan sama kita ia adalah anak yang memiliki sifat ambisius, tekun, gigih dan termotivasi terhadap sesuatu. Bila kemudian anak kita adalah anak yang “tidak mau mendengar” ketika mereka sedang asik melakukan sesuatu, bisa jadi ia ingin menunjukkan kepada kita bahwa ia adalah anak yang mempunyai daya fokus yang tinggi. Nah, gimana sudah mulai berubah pandangannya?

Bila anak tidak belajar dari hukuman yang diberikan -meskipun saya tidak menyenangi adanya “hukuman”- itu adalah ekspresi seorang anak yang tangguh bukan?  Bila anak kita rasakan tidak punya atau tidak menunjukkan rasa hormat, bukankah itu salah satu ciri anak yang pemberani?

Kalau kita mau, kita bisa mengemukakan contoh-contoh yang lainnya. Dan akan sangat panjang jadinya. Yang saya maksudkan disini adalah suatu ekspresi yang ditunjukkan oleh anak, akan bisa dimaknai secara beragam. Tergantung kacamata atau perspektif yang kita gunakan. Kalau kemudian kita terjebak untuk selalu memakai kacamata orang tua tanpa pernah mencoba menengok -mempertimbangkan- dari perspektif anak, bisa jadi yang ada hanyalah emosi dan emosi lagi. Mari belajar lagi ayah bunda untuk memahami ekspresi ekspresi yang ditunjukkan anak anak kita.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi