Melihat Dengan Beberapa Lapis Penglihatan

Bangbang Wetan edisi Juni ini diselenggarakan di tempat yang walaupun bersifat perulangan terbilang “tidak seperti biasanya”. Forum bulanan bagi siapapum ia di Surabaya raya jatuh pada hari Rabu, 19 Juni 2019 tanggal dimana suasana lebaran dan senyum cerah pasca Ramadhan mewarnai banyak khalayak. Halaman TVRI Stasiun Jawa Timur yang terletak di jalan Mayjend Sungkono No. 124 itu menjadi media bagi digelarnya tema bertajuk “Perkauman Sedarah Sedaging”

Iringan beberapa lagu dari UKM musik Institut Tekonologi Adi Tama Surabaya (ITATS) seperti menjadi sambutan hangat bagi datangnya jama’ah yang perlahan hingga pertengahan malam memenuhi pelataran beraspal. Mata acara pembuka berupa nderes Al Qur’an, wirid Maiyah dan lantunan sholawat dilalui oleh mereka yang didaulat secara adat untuk menggawanginya.

Setelah menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf atas segala kekhilafan, Tamalia dan Yasin sebagai moderator mengurai sedikit penggambaran mengenai tema yang prolog dan posternya telah disebarluaskan. Selanjutnya, mereka berdua mengutarakan adanya workshop yang untuk teknis pelaksanaannya maka jama’ah dibagi ke dalam 3 kelompok. Masing-masing kelompok menerima tiga pertanyaan dari Mbah Nun. Pertanyaan tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan bagi terbukanya pemikiran dengan rincian :
Maiyah kedepannya harus seperti apa terhadap negara, keluarga dan masyarakat?
Maiyah harus bersikap dan bertindak seperti apa terhadap kepemimpinan NKRI kedepannya?
Apa saran anda dalam waktu dekat yang harus dilakukan?


Mbah Nun yang merumuskan dan memberi tiga pertanyaan tersebut bermaksud menjaring informasi spontan jama’ah tentang kandungan hati, pemikiran serta harapan berkenaan jati diri kemaiyahan dan ketersambungannya dengan situasi terkini Indonesia. Tentu saja, muatan tersebut diharapkan juga berisikan proyeksi ke depan yang tidak harus dibatasi terminologi hitungan waktu tertentu.

Malam yang terasa dingin karena bersihnya langit dari mendung itu dihadiri pula kelompok seniman dan LSM “Yayasan Abiyoso” dari THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya. Mereka tengah berjibaku dengan upaya mempertahankan keberadaan THR dari rencana pengalihan fungsi. Sebagai satu situs kebudayaan, sudah selayaknya THR dijaga keberlangsungan bahkan terus dicarikan cara menuju revitalisasi. Bukan justru dieliminasi dari kehidupan masyarakat.

Selain membahas sejarah dan peran cagar budaya Balai Pemuda dan THR yang pernah melahirkan seniman sekaliber Asmuni, mereka juga membahas filosofi mbonek. Secara sederhana, pola pikir yang “ati karep bondho cupet” ini menjadi energi bagi arek Suroboyo untuk mempertahankan hidup dan meraih impian.

Sebelum menutup pembicaraan dengan pembacaan puisi berjudul “Topeng”, Yayasan Abiyoso mengungkapkan prinsip-prinsip budaya sebagai satu hasil pergulatan batin yang seharusnya melahirkan output yang terdiri dari unsur-unsur :
Ngedipeni : Mempunyai daya tarik tinggi
Mrenani : Memaknai atau bisa membuat pranatan baru
Migunani : Berguna bagi sekitarnya

Tepat pukul 23.30, dengan iringan lagu dari almarhum Franky Sahilatua berjudul “Perahu Retak”, Mbah Nun mengawali pembicaraan dengan satu kalimat pengantar bahwa “Mripatmu itu berlapis-lapis. Sebagai penilaian awal memang hanya menilai fisik. Namun segera lakukan penglihatan berikutnya menggunakan mata batin”.

Beliau mengajak kita mempertajam pandangan yang tidak kasat mata, karena kehebatan manusia bukan pada apa yang bisa dilihat melainkan lebih kepada kejujuran dan kesalehan masing-masing. Selanjutnya, beliau mencontohkan cara pandang para sahabat Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
Abu Bakar melihat hidup dengan mekanisme kultural
Umar Bin Khattab melihat hidup dengan mekanisme Radikal
Utsman Bin ‘Affan melihat hidup dengan mekanisme menimbang-nimbang
Ali Bin Abi Tholib melihat hidup itu tidak menemukan apa-apa kecuali gusti Allah

Karena hidup itu ada tiga tahap tergantung cara penglihatan kita, dengan kita melihat akarnya atau dasarnya. Mbah Nun sendiri menempatkan maiyah sebagai rumah dan jembatan untuk tidak menilai orang secara langsung atau kasat mata. Kita diingatkan bahwa jadi manusia jangan gampang susah, jangan gampang ngumunan, jangan gampang ngersulo. Kita harus bisa melihat masalah sekaligus ada hikmah dibalik itu semua.

Mbah Nun kembali mengingatkan kepada jamaah maiyah bahwa beliau bukan Gusti Allah, Nabi atau Wali. Maka jangan sampai melihat dan menempatkan beliau sampai pada apa yang kita bayangkan. Secara sederhana, beliau meminta kita untuk biasa-biasa saja kita memandang beliau dan mengagungkan beliau. Mengingatkan kembali bahwa sebenci-bencinya orang kepada beliau tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami Rosulullah SAW yang sampai dilempar batu, Mbah Nun mengatakan “Lha wong Rasulullah idolaku dilempar batu sampai berdarah saja tidak marah kok, mosok aku harus marah-marah”. Kebenciaan itu adalah cinta yang tak tercapai.

Tidak ada sebuah kegelapan, yang ada adalah tidak adanya cahaya. Tidak ada manusia jelek, yang ada dia tidak bisa mencapai kearifan. Dalam kisah orang yang melempari batu Rasulullah SAW saja, oleh Rasulullah dimohonkan kepada Allah agar yang melempar batu diberi hidayah oleh Allah atas ketidaktahuannya, bahwa beliau adalah utusan Allah.

Mbah Nun menegaskan kembali bahwa seorang pemimpin sejati tidak butuh didepan, karena pemimpin sejati adalah yang selalu menemani dari belakang. Pemimpin itu bisa dikiri, dikanan atau ditengah tergantung konteksnya. Dan memimpin itu tidak harus memimpin dunia atau pun sebuah Negara. Seperti yang dilakukan Rasulullah dalam kehidupan Madinah yang terpenting menciptakan tata kehidupan baik dan seimbang. Jika rakyatnya belum baik maka produknya adalah pemimpin yang juga belum baik. Karena rakyat yang baik pasti akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang baik. Kalau memang kita mau menjadi pemimpin yang sejati, harus siap menjadi Ing Madyo mangun Karso, siap Ing Ngarso sung Tulodho dan harus siap melakukan Tut Wuri Handayani.

Nasib adalah ketentuan dasar Allah ‘Wala nasibaka minaddunya’ menurut beliau, maksudnya jika kita di nasib kan menjadi seekor kambing maka bercita-citalah menjadi kambing. Jika kita dinasibkan menjadi seekor burung maka bercita-citalah menjadi burung yang sebenar-benarnya. Di maiyah itu kita belajar untuk menemukan apa sebenarnya maksud Allah atas diri kita masing-masing.
Dalam sebuah cerita pengalaman Mbah Nun ketika tinggal di Amerika, beliau melakukan tirakat puasa. Ketika bepergian menahan rasa keinginan untuk membaca petunjuk arah dan tanda-tanda dunia sebab simbah sedang membuktikan kepada dirinya bahwa Allah akan menuntunnya disetiap langkah hidupnya. Sehingga beliau sampai saat ini menyimpulkan bahwa, manis itu nikmat tapi tidak menyehatkan tubuh. Kecut itu untuk mencegah penyakit, dan pahit itu untuk membunuh penyakit. Jangan pula berfikir jika sedih sama dengan buruk dan senang sama dengan baik.
Bangbang Wetan Juni akhirnya harus diakhiri. Kyai Muzammil memimpin penghaturan do’a yang diamini oleh seluruh jamaah. Harapan akan ridlo Allah di setiap langkah kita dan akan pertemuan berikutnya di Bangbang Wetan bulan depan menutup forum yang usai di penghujung malam itu.

[Tim Reportase BangbangWetan]