Oleh: Fitriatunnisa

Sangune lho piro?” Pertanyaan itu kerap datang ketika mengetahui saya sengaja datang dari Kalimantan “hanya” untuk Maiyahan di Jawa. Menurutku bukan hal aneh sebenarnya, karena yang memutuskan untuk melakukan hal itu bukan hanya saya. Kalau dibandingkan dengan yang lain, saya termasuk yang hanya sesekali datang kalau rindu sudah tak tertahan.

Meski saya berangkat Maiyahan urusannya hanya cinta, acapkali cinta tersebut “dibayar kontan” oleh Tuhan. Uang yang saya gunakan untuk tiket dan akomodasi lain tergantikan. Hal ini mengingatkan saya dengan nasihat Mbah Nun, “Atas niat baikmu Allah tidak hanya menyukai, tetapi juga bertanggung jawab memfasilitasinya”.

Tapi sungguh bukan itu yang saya cari. Ada banyak hal yang tak ternilai harganya ketika bisa hadir, nyedulur, dan srawung dengan teman-teman Maiyah. Kami yang tak pernah bertemu dan mengenal sebelumnya, tiba-tiba serasa teman lama yang saling memendam rindu. Apa saja bisa jadi bahan obrolan.

Adalah yang menjadi sunnatullah-Nya ketika seseorang berkumpul berada dalam satu frekuensi yang sama. Kecintaan terhadap Gusti Allah dan Kanjeng Nabi tanpa prasyarat apapun. Di dalam Maiyah saya menemukan itu.

Kenapa bermaiyah?Setelah bermaiyah rutin apa yang diperoleh?Kok mau-maunya menghabiskan waktu semalam suntuk untuk berdiskusi, ngomong ngalor ngidulngurusi negara yang belum tentu mau ngurusi kita. Mungkin jawaban yang tepat hanya karena cinta, mawadahkita terhadap Allah, Kanjeng Nabi, dan bangsa ini. Kecintaan ini membuat kita lupa sementara–semalam saja–kalau utang kita banyak, negara kita tergadai, atau seabreg masalah lainnya.

Banyak cerita yang menjadi latar belakang bagaimana seseorang dipertemukan dengan Maiyah. Cara bermaiyahnya pun berbeda-beda, ada yang hikmat mendengarkan apa yang ada di panggung, ada yang sekadar ngopi dan ngobrol bareng teman, ada juga yang cuma pindah tidur. Tidak ada yang merasa lebih baik di antaranya.

Bagi saya, itu menjadi sangat berharga karena tentu tidak setiap bulan bisa hadir. Merindu. Ibarat orang pacaran, saya sekarang menjalani hubungan LDR dengan Maiyah. Mudah-mudahan jarak tidak menjadi penghalang. Biarlah yang menjadi penghalang hanya kuota yang seret dan gangguan siynal. Ya! Saya hanya satu dari sekian banyak jamaah streaming karena jarak.

Seperti kata Si Mbah,”Siapa yang perlu materiketika hati sudah terikat”. Menanti didepan laptop tiap bulan berharap ada streaming bagai mencarisuplemen untuk menjalani hidup.Entah kerinduan macam apa ini?Tiap bulan saya pasti merindukan untuk melewati malam panjang di depan laptop dengan jaringan internet seadanya, sekadar untuk menyimak Maiyahan via live streaming. Kerinduanku semakin mendalam untuk melewati tanggal 17 tiap bulan menanti upload-an Maiyahan lewatakun youtube Mocopat Syafaat yang sayangnya sekarang semakin jarang upload karena ulah koki “sop buntut”.

Maiyah seperti suplemen semangat hidup ketika di dunia nyata berkutat dengan realitas dan rutinitas jemu. Lewat Maiyah saya menemukan diriku senyatanya dan di”dunia maya” itu aku benar-benar diterima. Manusia yang dimanusiakan. tampilan seadanya, hingga celetukan manusiawi macam ndasmu, asu, asem, bahkan jancok.

Informasi baru dan bahan renungan yang disajikan tidak pernah memaksaku untuk mempercayai apalagi meyakini dan menganutnya sebagai sebuah ajaran. Kita hanya diajak berpikir tentang keadaan yang ada. Maiyah adalah guru yang tidak pernah menggurui. Metode pengajaran yang tidak pernah saya peroleh dari bangku kuliah keguruan.

 

Fitriatunnisa, penulis merupakan JM Syafaat Batangbanyu, Banjarmasin. Bisa disapa melalui akun Facebook: Fitriatunnisa.