Rahim

Memaknai Hidayah melalui Secangkir Teh Hangat

Oleh: Iha Nurhanifah

Memaknai sebuah hidayah. Ku tahu hidayah itu datang entah dari manapun dan kapanpun. Wujud hidayah itu sendiri bermacam-macam. Melalui tulisan ini akan sedikit kubagikan kepada kalian tentang bagaimana aku memaknai sebuah hidayah dari momen yang paling aku suka. Seperti momen saat aku duduk bersandar sambil menikmati secangkir teh hangat di pagi hari dengan ditemani sinar mentari. Hmm… nikmat dan menenangkan, bukan!?

Lantas di mana letak hidayahnya!?

Ketika kita mencoba untuk menikmati hidayah, turut sertakan rasa cinta kepada Tuhan agar kita bisa merasakan di mana letak hidayah.

Ku coba untuk membongkarnya satu persatu. Ketika kita bisa melihat dan merasakan betapa cantik dan indah sinar mentari terbit, nikmat mana yang kita dustakan? Ketika kita merasakan udara yang sangat segar dan menenangkan di pagi hari, nikmat mana yang kita dustakan? Ketika kita bisa duduk menikmati secangkir teh hangat dan masih bisa membuka mata untuk menikmati setiap momen di pagi hari, nikmat mana yang kita dustakan? ketika organ-organ di dalam tubuh kita yang masih berfungsi dengan baik, nikmat mana yang kita dustakan? Bayangkan saja jika Allah mengambil kenikmatan-kenikmatan itu, sebagian saja,  yakinlah kita bakal mengeluh.

Lalu, muncul pertanyaan kembali, di mana letak hidayahnya!?

Jawabannya adalah rasa syukur…

Sepatutnya dari banyaknya kenikmatan yang kita rasakan setiap hari, kita harus bersyukur atas kenikmatan yang sudah diberikan Allah. Terkadang kita yang sudah diberi banyak kenikmatan pun, masih mengeluh dan kurang bersyukur. Jika kita terbiasa bersyukur dan ber-khusnudzon di setiap keadaan, insyaallah, Allah akan menambah nikmat dan kebaikan kepada hamba-Nya.

Dari hal yang sederhanapun kita bisa menikmati rasa syukur tersebut. Teringat pernah ku membaca sebuah kalimat motivasi dari Mbah Nun yang tertulis, “Rumus Allah itu sudah jelas kok. ‘Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’ (Q.S. Ibrahim: 7)”

Mbah Nun juga pernah ngendikan bahwasanya, “Jangan suudzon kepada siapapun dan apapun yang tidak kamu sukai. Karena yang tidak kamu sukai belum tentu jelek bagimu. Maka ber-khusnudzonlah kepada Allah.“

Jadi, sudah berapa kata kunci hidayah yang kita dapat!?

Ada dua yakni: khusnudzon dan syukur.

Tidak hanya matematika yang bisa terkalkulasi, hidayah yang diberikan Allah juga bisa. Bedanya, matematikanya Allah berbeda dengan matematika kita. Matematika manusia hasilnya selalu pasti,  sedangkan matematika Allah hasilnya bisa tak terhingga. Sama halnya seperti hidayah yang diberikan Allah, tak terhingga dan tak disangka arah datangnya.

Iha Nurhanifah. Penulis merupakan mahasisiwi yang suka membaca dan menyukai dunia anak-anak. Bisa ditemui melalui akun instagram @ihanurhanifah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.