Rahim

Memaknai Kesendirian

Oleh : Mashita Charisma Dewi Eliyas

“Sit, sama siapa? Sendirian? Gak bosen ta?”. Kalimat yang selalu saya dengar dari beberapa orang yang saya jumpai. Saya gak pernah kesel menerima pertanyaan itu, juga tidak menimpali hal tersebut dengan jawaban “buruk”. Justru kadang hati merasa bangga atas apa yang sedang saya jalani karena bisa ke mana-kemana sendiri dan mandiri.

Mandiri adalah kata yang selalu saya dengar dan menempel pada diri. Sejak di bangku sekolah menengah pertama, saya sudah menunjukan sikap mandiri.

“Ta, habis ini mau sekolah di mana?”, pertanyaan ibu setelah saya lulus dari jenjang sekolah menengah pertama waktu itu.

Saya meresponsnya, “Terserah, Bu, sak kerso e ibu. Tapi Sita yang daftar sendiri aja gakpapa“.

Mulai dari pendaftaran sampai lulus pada jenjang sekolah menengah kejuruan, semua prosesnya saya lakukan sendiri. Saya memang tergolong orang yang jarang sekali mengabari kedua orang tua tentang keputusan saya menentukan tempat menempuh pendidikan serta aktivitas di sekolah. Hanya sesekali saya mengabari orang tua perihal informasi dari sekolah karena kenakalan remaja yang mengharuskan ibu saya datang ke sekolah.

Hal tersebut berlanjut ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ibu dan ayah saya hanya sekali datang ke kampus tempat saya menempuh ilmu, itu pun pada saat saya diwisuda.  Sebagai anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, saya seharusnya berhak mendapatkan keistimewaan sebagai perempuan untuk manja dan apa-apa bisa minta tolong kepada saudara atau orang tua. Tapi hal tersebut tidak saya lakukan. Karena saya mengingat ajaran nenek dan ibu, bahwa perempuan harus mandiri dan harus bisa apa saja. Wanita harus punya sifat mandiri dan gak merepotkan siapa saja.

Saya belajar dari teladan yang dicontohkan dari nenek dan ibu. Nenek saya adalah seorang wanita yang “terpaksa” menjadi kepala keluarga dan kepala rumah tangga karena ditinggal kakek yang meninggal dunia dengan mewariskan lima anak. Berkat perjuangan nenek, kelima anaknya dapat bersekolah hingga tuntas.

Seperti halnya nenek, ibu saya juga bekerja sendiri hingga bisa menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi. Sampai di usia menjelang tua, ibu masih aktif mengasah otak dan tenaganya untuk bekerja, menjaga kios kecil di depan rumah.

Lantas, haruskah saya bersikap manja atau mengeluh ketika saya dihadapkan dengan sikap hidup dan teladan dari nenek dan ibu? Sikap tersebut secara tidak langsung tertanam di dalam diri saya sejak dini. Hari-hari yang saya lalui memang lebih banyak dilalui sendiri. Karena dengan sendiri tersebut saya dapat lebih dekat dan lebih tahu bagaimana cara bersikap dan menyikapi hidup yang saya jalani.

Kesendirian itu dapat saya maknai misalnya dengan datang di sebuah coffe shop dan memesan segelas kopi. Saya bisa duduk berjam-jam sendiri hanya untuk sekadar mengamati keadaan sekitar atau menulis di notebook yang saya bawa dari rumah. Kesendirian itu juga bisa saya maknai dengan berkeliling kota mengunakan sepeda motor dan mendengarkan musik-musik dari gawai. Semua aktivitas itu saya yakini menjadi healing bagi saya.

Aktivitas tersebut adalah ritual-ritual yang rutin saya lakukan dan menjadi cara saya memaknai kesendirian. Saya yakin, suatu saat mungkin saya tidak ditakdirkan oleh Allah untuk sendiri lagi. Dan menurut saya hal itu meruapakan sebuah bonus dari Allah karena saya bisa memaknai kesendirian.

Penulis adalah Jamaah Maiyah asal Sidoarjo yang berkecimpung dalam bidang pendidikan anak usia dini serta aktif menulis .Bisa disapa di akun instagram @sitaeliyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *