Memaknai Revolusi dan Menumbuhkan Jiwa Revolusioner

 

Suasana kerinduan di penghujung 2019 untuk bertemu dan menjaga rasa kekeluargaan yang terasa dalam Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan (12/12), yang berlangsung di halaman TVRI Jawa timur, kami maknai sebagai rumah berkumpul untuk sinau ilmu hidup. Sehingga kami selalu rindu dan menantikan pertemuan itu di setiap bulannya.

Kami manifestasikan sinau ilmu hidup yang kami dapatkan dari rumah ini dengan terus nyambung, menjalin, dan menjaga silaturahmi di antara kami dalam ikatan nilai Maiyah dan hamba yang mencintai Allah dan Rasulullah. Sehingga tidak ada kepentingan pribadi yang serius kami diskusikan selain sinau tentang ilmu hidup, sejarah leluhur, dan masa depan sebagai wujud katresnan kami kepada Allah dan Rasulullah, melakukan pengabdian hidup dalam segitiga cinta (Tritunggal) Maiyah, sebagaimana yang akan menjadi tema sinau semalam.

 

Acara dimulai dengan pembacaan surah Yasin

 

Kami nyicil laku revolusi spiritual dengan nderes surah Yasin, mewiridkan Wirid Akhir Zaman, Wirid Maiyah, dan bersholawat bersama. Hal itu kami lakukan untuk menggetarkan hawa dan perkenan Allah agar bersedia ndandani diri, keluarga, dan negara kita. Juga, agar Allah dan alam percaya pada kita untuk memimpin, mengelola, dan memakmurkan bumi beserta seisinya.

Mas Dewo yang membawakan nomor “Seperti yang Kau Minta” dan Mbak Risya dengan nomor “Banyu Langit” mengajak semua jamaah untuk bernyanyi bersama mengiringi kebersamaan dalam sinau kami semalam.

Menuju sesi diskusi dengan mbabar tema Tritunggal yang mangacu pada Tajuk “Pilihan 3 Daur” yang dimoderatori oleh Mas Hari. Pertama Cak Lutfi bercerita pengalaman mengawal Simbah. Menurut pengalaman Cak Lutfi selama mengawal Simbah, yang dikerahkan tidak hanya tenaga dan pikiran, melainkan dibutuhkan aktifasi wirid yang menjadi tameng penguat dalam tugas pengawalan.

Cak Amin mengajak kita membaca 3 Revolusi pada pilihan 3 Daur, dengan menganalogikan perspektif piramida pengetahuan: data, informasi, pengetahuan atau ilmu, dan kebijaksaaan. Menurut Cak Amin, “Maiyah itu mengawal semua”. Maksud Cak Amin, Maiyah sudah melakukan ketiga revolusi yang dijelaskan pada Tajuk “Pilihan 3 Daur”. Karena Maiyah sudah dipersiapkan oleh Allah, agar siap menjalani segala perubahan yang terjadi. Menurut Mas Hari, Maiyah sudah melakukan  ketiga revolusi, diantaranya Revolusi Sosial dengan terus menjaga dan melakukan rutinan bulanan yang berlangsung dan terjadwal di setiap simpul hampir 800 pertemuan dalam setahun.

Mas Acang urun perspektifnya dalam menjelaskan Revolusi Kultural, “Kebiasaan berasal dari sesuatu yang dibiasakan”. Jadi dalam menjalani Revolusi Kultural, kita perlu “dipaksa” untuk membentuk kebiasaan yang baik untuk kita ke depan. Menurut Mas Acang, lahirnya simpul sampai sekarang sudah mencapai 67 simpul, lahir sesuai kebutuhan dan menjawab permasalahan zaman. Menurut Mas Acang dengan mengutip perkataan Mbah Nun bahwa apa yang kita lakukan bermaiyah adalah menaruh bohlam-bohlam di berbagai tempat. Tinggal kita menyambungkan kabel dan mengharap perkenan Gusti Allah mengalirkan listrik untuk menghidupkan lampu bohlam.

Diskusi dijeda sejenak, memberikan kesempatan kepada pewakilan Bonek untuk menyanyikan “Song For Pride” bersama. Sebagai persembahan rasa terima kasih Bonek kepada perjuangan Persebaya selama ini.

Selanjutnya sesi diskusi diperdalam bersama Kiai Muzzammil, Wak Mad, dan Pak Dudung yang sudah membersamai kita semalam. Menurut Pak dudung ketiga revolusi pada Tajuk tersebut sebenarnya saling terkait, acuan dan sebenarnya sebagai pancingan kepada Maiyah untuk merespons keadaan zamannya.

Wak Mad menyampaikan perspektifnya bahwa tidak mungkin syariat, tarikat, hakikat dan ma’rifat berdiri sendiri. Karena menurut Mbah Nun, Maiyah tidak hanya sebatas sinau bareng. Melainkan ada hal lain yang harus ditempuh Maiyah. Karena menurut Wak Rahmad, “Maiyah itu iya Islam itu sendiri”.

Selepas tengah malam, Kiai Muzzammil menyapa jamaah dengan menyampaikan kalimat, “Tidak hanya berpikir, tetapi juga lelaku atau tirakat”. Mengharap jamaah Maiyah agar datang tidak hanya badannya, tetapi juga jiwa, rohani, dan hatinya. Sinambi memberikan jokes khas Madura, yang mencairkan suasana kita dalam fokus dan keseriusan sinau. Agar segala ilmu dan hal baik terserap, masuk ke dalam pori-pori jiwa, dan hati kita menjadi partikel berkah Allah yang menuntun kita dalam menjalani hari ke depan.

Kiai Muzzammil mengajak jamaah untuk berpikir revolusioner: membela sesuatu yang substansi, bukan membela mati-matian sesuatu yang hanya alat atau wasilah. Maka ajakan Mbah Nun pada ketiga revolusi itu, agar aktif pada wilayah revolusi masing-masing. Sesuai kebutuhan dan apa yang dikerjakan untuk tetap berpikir revolusioner.

“Kita memang butuh revolusi saat ini, tetapi revolusi yang dimaksud tidak sama dengan revolusi yang terdahulu. Revolusi baru, yang bukan revolusi yang menyebabkan berdarah-darah. Menurut saya, kita sudah revolusioner, karena sudah mampu berkumpul tidak memandang siapa yang datang. Mbah Nun datang atau tidak, kita tetap berkumpul sinau dan nyicil revolusi baru bagi Indonesia, sebagaimana pada syair Bangbang Wetan,” Kiai Muzzammil mempertegas kedalaman dan fokus sinau kita.

Cak Amin melengkapi khasanah perspektif kita bahwa yang perlu dicatat, Maiyah sebenarnya sudah melakukan ketiga revolusi itu. Terbaca pada BangbangWetan sudah berlangsung model pengajian dan diskusi yang durasinya panjang sampai tengah malam, dan sudah berlangsung 13 tahun. Maiyah ini sedang mempersiapkan sumber daya manusia untuk siap melakukan ketiga revolusi agar tidak terjadi kegagalan kembali, sebagaimana yang pernah kita alami pada tahun 1998.

Wak Mad mengajak kita agar tetap pada kewaspadaan dalam bermaiyah: untuk tetap mengutamakan adab dibanding ilmu. Sehingga walaupun salah satu diantara kita tidak setuju dari apa yang disampaikan  yang lain, kita tetap menerima  untuk tidak menolak secara keras apa yang disampaikan. Wak Mad mempertegas pemahaman dalam sinau kita, bahwa kita diharapkan memaknai revolusi dari revolusi yang sudah kita jalankan selama ini. Dengan kita terus berusaha melakukan kebaikan menurut Allah, yang hasilnya pasrah terserah Allah.

 

Kiai Muzzammil saat mengisi acara BangbangWetan desember 2019

 

Kiai Muzzammil memungkasi sinau kita dengan menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Mbah Nun selama ini adalah serius. Mbah Nun mengharap kita untuk terus berpikir revolusioner, sebab Mbah Nun mengharap Indonesia berjalan sebagaimana semestinya. Yang perlu ditekankan dalam cara berpikir revolusioner adalah berjuang terus-menerus melakukan hal revolusioner, dengan tidak mengharapkan hasil dari apa yang telah kita perjuangkan.

Sinau revolusi kita pungkasi dengan bersholawat bersama yang dipimpin oleh Cak Lutfi. Menyapa Rasulullah agar berkenan menemani kita memaknai revolusi dan laku revousioner dalam bermaiyah. Dan menyapa Allah dengan berdoa bersama, mengharap kepercayaan dan rida Allah kepada kita dalam menjaga, dan merawat laku revolusi kita bersama.

 

Surabaya, 13 Desember 2019