Memanajemen Rasa Was-Was


Pendopo Cak Durasim. Simpan sejenak tentang renyai dan gelora para pemuda di awal forum. Bukan menafikannya, namun tuk lebih mengendap masuk dalam tataran tema BangbangWetan April 2018, ‘Insecuricious; was-was ra wis-wis’.

Meneruskan dan memfermentasi apa yang telah dibahas di pembahasan awal tentang tema, Mbah Nun yang tiba ketika grup banjari ITS “Shohibul Qohwa” bersama para JM melantunkan shalawat pada junjungan kita, Rasulallah Saw., membuka dengan berpesan kepada JM bahwa kita di sekolah belajar ilmu; di masjid belajar agama; sedangkan di Maiyah belajar urip sebagai manusia.

Kemudian Mbah Nun mengajak jemaah untuk mentadabburi ayat ke 4 Surat Al-Quraish, yang mana Allah menjanjikan dua hal:  (1) Memberi makan bagi mereka yang kelaparan dan (2) Mengamankan mereka dari ketakutan. Mbah Nun menjelaskan bahwa kelaparan dalam kalimat tersebut bisa ditempatkan pada berbagai konteks, tidak hanya perkara perut yang merasa lapar. Sedangkan pada poin kedua, Mbah Nun menegaskan kepada para jemaah bahwa para JM tidak perlu merasa was-was atau pun ketakutan apabila Maiyah tidak diketahui dan diakui jasa-jasanya.

Memasuki pukul dua, Mbah Nun mulai merespon pertanyaan para jemaah. Terkait dengan tema, Mbah Nun kembali menegaskan bahwa dalam hidup kita tidak perlu takut untuk kalah, “orang yang selalu siap kalah, di akhir nanti dia akan menjadi pemenang sejati.” Penanya pun bertambah dan suasana semakin hangat, sesekali Mbah Nun bercerita mengenai pengalaman beliau bersama KiaiKanjeng saat berada di Saudi Arabia, yang kemudian diiringi dengan riuh tawa para jemaah.

Forum BangbangWetan yang tiap bulannya terselenggara berkat kemandirian jamaah ini diakhiri sekitar pukul tiga, ditutup dengan do’a oleh Kyai Muzammil.

Semoga para JM pulang tanpa rasa was-was dan bisa menerapkan apa yang telah didapat dari forum untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

(Tim reportase BangbangWetan)