Memperpanjang Ramadan

” Ramadan sejatinya adalah bulan menahan diri, namun faktanya hanya berpindah jam makan diselingi perilaku yang jauh dari menahan diri. Siang hari saat puasa menahan, malamnya, atau bahkan saat berbuka, justru melampiaskan dengan level di luar nalar, “Lha posone nang endi? ” 

 

Di sela percakapan WhatsApp grup alumni almamater saya, ada sebuah celetukan dari kakak kelas yang mengomentari postingan mengenai keistimewaan bulan Ramadan, “Seandainya seluruh bulan adalah bulan Ramadan”, begitulah isi komentar singkatnya.

 

Tidak ada yang mengomentari celetukan pendek itu selain icon jempol dari beberapa orang.

 

Saya yang tidak aktif di grup alumni ini, tak ikut bersuara meski sebenarnya ingin. Ada banyak pikiran tak sepakat yang keluar dari otak, namun rasa malas mengurungkan niat untuk menuliskan komentar yang saya yakin akan sangat panjang. Melelahkan. Akhirnya cuma pikiran agak sedikit menyepelekan saja yang keluar dari otak. “Yo nek ben wulan dadine gak istimewa maneh, mas broo. Opo maneh gara-gara itungan pahala“.

 

Setangkai mawar di sela semak belukar menjadi istimewa. Tempe bacem menjadi menu istimewa bagi orang Indonesia yang merantau ke Austria. Tapi Ramadan, ia menjadi istimewa bukan hanya karena muncul sekali dalam setahun.

 

Bagi saya saat masih SD, keistimewaan Ramadan terletak pada sajian buka puasa yang lebih spesial dibanding bulan-bulan lainnya. Kolak pisang yang tak selalu ada tiap bulan, karena yang penting makan tiga kali sehari sementara kolak adalah kudapan yang menjadi prioritas kesekian, jadi lebih sering hadir saat Ramadan. Dan tentu saja baju lebaran yang selalu baru. Bagi saya sewaktu SMA, Ramadan menjadi istimewa karena kegiatan sekolah diliburkan selama satu bulan penuh (Terima kasih, Gus Dur).

 

Tapi bagi saya sekarang, keistimewaan Ramadan justru karena terletak pada keterbatasannya. Ia yang hadir hanya sekali dalam rentang waktu satu tahun, bisa membuat 11 bulan lainnya menjadi tak kalah istimewa.

 

Mbah Nun mengibaratkan Ramadan sebagai madrasah, ujian sebenarnya adalah pasca Ramadan. Saya sangat sepakat sepenuhnya pada pernyataan ini. Bukankah lulusan terbaik kursus memasak adalah seorang yang bisa memasak dengan baik pasca ia lulus? Bukan hanya yang bisa memasak dengan nilai tertinggi saat ujian final? Analogikan saja begitu.

 

Ramadan sejatinya adalah bulan menahan diri, namun faktanya hanya berpindah jam makan diselingi perilaku yang jauh dari menahan diri. Siang hari saat puasa menahan, malamnya, atau bahkan saat berbuka, justru melampiaskan dengan level di luar nalar, “Lha posone nang endi?“, jerit hati saya. Belum lagi isi tayangan televisi dan hiruk pikuk dunia maya. Kok rasanya lebih parah dibandingkan bulan-bulan lainnya.

 

Saya jadi ndak yakin bahwa madrasah Ramadan tahun ini akan menghasilkan lulusan berkualitas. Jika dengan iming-iming pahala yang tak terhitung saja perilaku umat Islam masih tak beda dengan bulan-bulan lainnya, apa jadinya pasca Ramadan? Semoga saya salah. “Ojo ndisiki kersane Gusti Allah”, demikian nasehat seseorang yang saya hormati.

 

Saya menilai perilaku puasa di luar Ramadan justru sangat luar biasa kemuliaannya. Melakukan sesuatu karena diwajibkan, berbeda kadar kemuliaannya dengan melakukan sesuatu karena cinta dan keikhlasan. Dan sejauh yang saya tahu, Islam memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk meraih kemuliaan, kemuliaan di hadapan Allah Swt tentunya.

 

Jika dipukul, kita boleh balas memukul dengan kadar yang sama. Tetapi jika kita memaafkan perbuatan si pemukul, derajat kita akan diangkat oleh Allah Swt. Bagi saya ini adalah perilaku menahan diri, perilaku puasa.

 

Saya teringat dalam satu momen Maiyahan, saat sesi tanya jawab ada salah seorang jamaah menanyakan bagaimana cara mengasah indera agar lebih tajam dan lebih peka menerima sinyal-sinyal Langit. Waktu itu Mbah Nun menjawab, “Kalau saya caranya, ya dengan berpuasa. Salah satunya dengan melakukan apa yang tidak saya sukai, dan tidak melakukan apa yang saya sukai.”

 

Sikap hidup berpuasa ini sungguh tidak mudah di tengah perilaku melampiaskan. Karena saya mengalaminya sendiri. Tapi kemuliaan yang diperoleh saya yakin tak tertandingi, bahkan oleh pahala dan keistimewaan Ramadan sekalipun. Asalkan tujuannya bukan untuk meraih kemuliaan, melainkan karena dilandasi rasa cinta dan keikhlasan. Mohon digarisbawahi, ini hanya dugaan saya.

 

Madrasah Ramadan sudah memasuki sepertiga akhir, semoga kita masih bisa memetik pelajaran berharga darinya di waktu yang tak seberapa panjang ini. Dan semoga  kita bisa me-Ramadan-kan 11 bulan lainnya, sehingga tak senewen lagi jika membaca postingan di dunia maya, “Seandainya seluruh bulan adalah bulan Ramadan”.

 

 

Oleh : Wahyu Widhi W

*) Pria berotak eksakta yang berusaha menyeimbangkan diri dengan musik dan sastra. Kadang bercuit di @kakakwidhi