Kolom Jamaah

Menahan Koyak Komodifikasi

Menahan Koyak Komodifikasi
Oleh: Dalliyanayya Ratuviha (Mbak Viha)
Terbit di BMJ (Buletin Maiyah Jatim): Bulan MARET 2016

Kemampuan adaptasilah yang membuat manusia menjadi spesies yang masih lestari di bumi sampai saat ini. Dengan berbagai kondisi, kita seperti semakin ber-evolusi menjadi makhluk hidup yang bertahan dari generasi ke generasi. Di tubuh kota-kota besar, pada umumnya banyak manusia menggantungkan diri sebagai pekerja di sebuah perusahaan. Diberi gaji secara periodik sekali sebulan, setiap individu punya penyesuaian atas kelangsungan nyawa dengan standar biaya hidup yang telah ditentukan.

Minggu pertama bisa jadi periode menggembirakan bagi lidah, karena ia bisa merasakan estetika rasa dari berbagai masakan berkualitas dengan nutrisi yang terjaga. Minggu terakhir di mana secara konsumsi segala pengeluaran ditekan, lidah sering dipaksa buta – membiarkan apapun saja dimakan. Asal kenyang.

Untuk beberapa hal tersebut, yang menarik bukan tentang mekanisme adaptasi berupa penghematan dan penyesuaian anggaran pribadi; tapi apakah kemudian pergeseran keinginan atas nama pemenuhan kebutuhan itu ternyata bias dengan pemahaman individu terhadap nilai-nilai sosial yang dimiliki? Pada skala yang lebih besar misalnya begini, boleh jadi, pemerintah hanya perlu menyediakan listrik bagi satu pulau saja di sebuah Negara karena alasan keterbatasan anggaran, ketersediaan itu lengkap dengan fasilitas umum yang sangat memadai baik perangkat maupun personelnya.

Sedang di tempat yang lain, meski di Negara yang sama, karena pengawasan media yang tidak terlalu massif, hanya cukup ruang fisiknya saja yang dibangun. Tidak perlu serius sangat fungsional, asal terlihat bagus, bisa difoto dan masuk laporan, maka beres-beres saja. Atas nama pelaporan yang baik dan terdapat bukti fisik (meski fiktif), potensi kejahatan korupsi menjadi tidak terdeteksi. Wajar tanpa pengecualian.

***

Kita telah masuk era di mana role model adalah apapun yang di-model-kan oleh media. Segala aspek masuk di dalamnya sebagai suguhan-suguhan tak terbatas. Penampilan menjadi komoditas utama. Dimanjakan mata kita oleh bahasa visual dan kalimat-kalimat (yang katanya) faktual meski melalui serangkaian proses editorial dengan penyesuaian kepentingan tertentu. Kita lihat, lapak mega luas bernama industri pertelevisian yang menjadikan segala sesuatu di dalamnya menjadi bahan dagangan, semua masuk dan dihabisi oleh regulasi pemilik media.

Tahun 2004 barangkali masyarakat Indonesia masih ingat betapa eksposur media terhadap figur-figur menjadi begitu intens. Momentum pemilihan umum langsung pertama menjadi sejarah baru perjalanan Negara, sekaligus semakin memperjelas gurat muka pemilik media yang dengan mudah berpaling dari idealisme ‘menyediakan tontonan yang bermanfaat dan bernilai pendidikan’ menuju ‘menyediakan tontonan yang bermanfaat sesuai pesanan’. Terlihat jelas dari beberapa stasiun televisi dan media cetak sebagai saudara dekatnya, masing-masing berubah sebagai mesin pembius pemirsa.

Dengan perencanaan yang matang, kepribadian seseorang bisa ditampilkan sesuai dengan bentukan keinginan pasar. Dicitrakan baik dan santun, ramah, dekat dengan rakyat, sehingga diciptakannya dongeng tentang manusia idaman penjawab kekalutan zaman. Atau bahkan menciptakan kenyataan bahwa ada sosok teraniaya perlu dipanggul bersama menuju kursi pemimpin Negara; sehingga menyerahkan seluruh nasib kita padanya akan menjadi aman saja karena toh ia tak lagi punya keinginan pribadi. Tahu terima kasih dan rela mengorbankan diri.

Hampir semua bidang tak ingin ketinggalan punya performance di ranah media; yang disinggung tadi mungkin menjadi salah satu contoh saja. Belum lagi atraksi-atraksi bidang hukum, agama, bahkan kemanusiaan, dikemas dalam plastik dagangan yang menggiurkan bagi siapa saja yang mau membeli. Jangan salah, pembeli di sini bukan berarti mereka yang membutuhkan untuk konsumsi intelektualitas saja; bisa jadi merekalah yang kemudian menjadi pemegang tali sais untuk kerbau dan kuda mana saja yang bisa ia tunggangi.

Begitu mudah kita terjebak dalam komoditas persona. Dan budaya materialisasi ini diciptakan dengan sangat terstruktur dan diam-diam.  Betapa terkepung, seperti tak punya daya apa-apa kecuali menjadi bagian dari rantai cengkram komodifikasi multi-struktural. Pendidikan, yang menjadi harapan untuk membebaskan manusia dari kepandiran nyatanya tak jauh dari para pelaku jual-beli citra dan pencetak harga-harga. Sinisme terhadap bangsa sendiri justru sudah ditanamkan sejak dini, banyak hal yang tinggal landas hanya sebagai retorika – semisal kalimat “bangsa ini adalah bangsa yang besar budaya dan peradabannya” – yang kemudian hanya berakhir sebagai apologi untuk ketidak-berdayaan diri di tengah jutaan penjajah pemikiran.

Kemudian pendidikan kita menyerah mudah pada kiblat-kiblat baru, seperti silau pada logam-logam teknologi, berlomba-lomba mengakrabi ‘barat’ dengan menjunjung bahasanya sebagai acuan modernitas. Sehingga kemudian tidak heran jika masih menjamur ‘Sekolah Bertaraf Internasional’, ‘Sekolah Unggulan Berstandar Internasional’, dan label-label lain yang seolah memang perlu untuk menegaskan bahwa ‘Lho! Pendidikan ini bisa kok memenuhi standarmu.’

***

Akut sudah kegamangan akan istilah kebudayaan. Tidak mengherankan bila banyak sosok yang dilabeli sebagai Budayawan pun tidak memiliki tempat di media, hanya sebatas penyebutan saja – tetapi seolah tidak valid sebagai narasumber yang perlu digali benar formulasinya bagi penyembuhan penyakit-penyakit kebudayaan.  Atau barangkali para guru ini dianggap ‘tidak menjual’, karena justru lebih berbahaya dan patologis terhadap sistem nilai baru karya para tamu yang telah berabad-abad dibangun.

Tapi mau bagaimana lagi. Kalau harus berharap pada pemangku kebijakan saja barangkali nasib tidak akan pernah berubah. Hingga beribu kajian mengenai permasalahan bangsa hanya berakhir menjadi tumpukan proposal. Laju pergerakan perbaikan justru negatif vektornya jika dikombinasikan dengan percepatan pengerusakan yang terjadi dalam skala besar. Sedangkan sudah menjadi bukan rahasia bahwa ternyata kita tak lagi pandai mewariskan kuda-kuda kebaikan, turun-temurun kita terbiasa memelihara trauma dan tragedi. Skeptis terhadap atribusi subyek tertentu dan tak lagi pasang badan menjadi pemangku segalanya.

Barangkali kita memang perlu memulai membangun peradaban dalam diri sendiri; yang pondasinya cukup kuat untuk menahan koyak komodifikasi peradaban. Sibuk mengusahakan menjadi diri yang beradab; bergerak mencari dan tidak lagi berhenti pada lumrah keterbatasan pemahaman yang terlanjur dikonsep oleh sistem adaptasi pemikiran buatan dari luar diri. (*)

Oleh: Dalliyanayya Ratuviha (Mbak Viha)