Oleh: Rio NS

 

Selain curah hujan yang tinggi dengan genangan air di sana-sini, awal tahun di Jawa Timur kali ini diwarnai dua hal penting: munculnya kepala daerah beserta wakilnya di sembilan belas Kabupaten/Kota serta situasi-kondisi mencekam akibat pandemi. Satu hal yang bisa kita masukkan ke dalam daftar itu adalah reshuffle kabinet yang memunculkan enam nama menteri pengganti.

Selebihnya, akhir hitungan warsa berangka kembar kemarin berjalan dengan format dan pola yang nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Keterkejutan betapa dua belas bulan telah berlalu dan belum banyak yang kita dapatkan sepanjang hitungan waktu, sejumlah rencana yang diniatkan tersusun menjadi satu resolusi untuk dicanangkan bersamaan gempita tahun baru atau rasa sesal sesaat mengingat tidak bisa diraihnya sekumpulan butuh, ingin, dan mau.

Baiklah, parkir itu semua di ruang tersembunyi benak dan hati. Segera temukan rencana aksi serta—jauh lebih penting—pastikan bahwa apapun yang menyangkut diri sendiri dan kemanfaatannya, perolehan kita harus lebih baik dari kemarin. Bukankah hidup nyata-nyata adalah hari ini?

Kembali ke persoalan menyangkut hadirnya sembilan belas kepala daerah baru di seantero Jawa Timur, pertama kita sampaikan ucapan selamat kepada mereka. Dari segi kontestasi, merekalah pemenang pesta demokrasi di daerah tingkat II yang pelaksanaannya, alhamdulillah, terbilang lancar dan nyaris tanpa ekses yang berarti.

Satu hal yang patut kita syukuri sebagai warga Jawa Timur ialah tidak muncul cluster baru pasien Covid-19 sebagai hasil ikutan pasca pilkada. Kekhawatiran banyak orang menjelang hari-H pencoblosan dengan cermat telah diantisipasi oleh KPU sebagai panitia penyelenggara. Satu-dua nama yang terpapar setelah perhelatan lima tahunan itu terbukti tidak menjalin kontak atau terhubung dengan hal ihwal pilbup atau pilwali.

Beberapa di antara pasangan kepala daerah yang terpilih adalah mereka yang telah menduduki jabatan serupa di daerahnya. Pasangan berikutnya merupakan kombinasi dari calon incumbent yang bergandengan dengan pendatang baru. Selebihnya, kepala daerah beserta wakil yang benar-benar all new. Meski demikian yang baru ini pun masih terbagi antara mereka yang tidak sama sekali dikenal masyarakat pemilih karena kemunculannya beriringan dengan tahapan pilkada serta mereka yang sudah cukup tersohor di daerahnya.

Ada keunikan tersendiri bila kita mengaitkan antara kepemimpinan yang keabsahannya akan ditandai dengan pelantikan di bulan Februari nanti dengan jalan lima tahun ke depan yang akan mereka lalui. Keunikan ini adalah kenyataan bahwa virus SARS-CoV-2 belum benar-benar bisa dieradikasi. Ancaman akan lonjakan pasien serta cluster baru, mutasi virus yang dimungkinkan karena cuaca, keadaan alam dan karakter unik manusia Indonesia (menyangkut pola makan, gaya hidup, aktifitas keseharian) dan kian sulitnya mengarahkan masyarakat untuk mematuhi regulasi adalah beberapa contoh yang bisa kita amati.

Sebagai pemegang kendali eksekutif tertinggi di daerahnya, para bupati dan walikota tersebut seolah membawa persoalan yang inheren dengan masa jabatannya. Persoalan ini melekat sedari awal tahapan pemilihan yang wajib mereka ikuti dan ironisnya, berdasar fakta ilmiah dunia medis mengenai virus Corona, tidak bisa diperkirakan kapan akan berakhir. Singkatnya, mereka adalah kepala daerah yang di balik suka cita kemenangannya memiliki persoalan besar menyangkut kelangsungan hidup sekian ribu atau juta nyawa rakyat di masing-masing daerah yang dipimpinnya.

Jangan pernah berkecil hati atau pantang bagi kita untuk berputus harap. Selalu tersisa celah sempit untuk kita semua bahkan di sebidang dinding rapat yang terbentang kemanapun mata menatap. Saya mencoba mengajak pembaca untuk mengurainya dalam 3 hipotesa atau usulan solusi sebagai berikut. Pertama, para kepala daerah beserta wakilnya yang terpilih itu tidaklah berjalan dalam kesendirian. Ada sebuah garis kebijakan dan koordinasi dengan mana gubernur kita menjadi hulubalangnya. Bersama dengan kepala daerah lain yang ada, kewajiban menempatkan kesehatan dan keselamatan warga Jawa Timur merupakan tanggung jawab dengan prioritas utama dan pertama.

Kedua, mereka yang terpilih adalah mereka yang mendapat dukungan lebih banyak dari pasangan calon pesaingnya. Dari sini bisa kita tarik kesimpulan logis sederhana bahwa mereka memiliki basis massa dominan yang siap mematuhi, menjalankan dan mengawal apa saja aturan serta kebijakan yang mereka tetapkan. Pada poin ini terdapat satu anjuran yang kemungkinan besar telah diputuskan saat quick count dianggap sebagai “vonis” kemenangan yakni keharusan menjadikan pesaing bukan lagi kompetitor yang menempati posisi berseberangan. Sebuah anjuran untuk mengikutsertakan “eks-pesaing” dalam setiap upaya menjadikan daerah sebagai ladang amal bakti kemaslahatan.

Ketiga, kita semua percaya bahwa meski secara usia banyak dari kepala daerah baru ini telah melewati hitungan setengah abad; semangat, kapabilitas dan lagu keseharian mereka adalah nyanyian kekinian. Kesanggupan mereka untuk menjalankan fungsi multi tasking, keterbukaan dalam menerima informasi dan pengetahuan baru serta kecakapan untuk bekerja di pusaran gelombang milenial adalah karakter yang kita yakin mereka miliki.

Ketiga hal di atas akan menjadi profil kepemimpinan yang akan menjadikan daerahnya berada di barisan depan dalam pemenuhan indikator keberhasilan pembangunan. Misi ini jelas sangat seiring-sejalan dengan misi Jawa Timur sebagai provinsi yang akan membuat provinsi lain bukan hanya iri namun juga mengakui dan memuji; dalam hitungan angka, parameter, dan skala.

Sebagai bagian dari hidup kesejagatan dan masyarakat global, kita patuh pada aturan New Normal. Dua kata yang diterjemahkan dengan sangat bijaksana menjadi Aplikasi Kebiasaan Baru (AKB). Bersama kepala daerah yang terpilih dari pilkada sembilan Desember lalu, kita titipkan pengaharapan akan lahirnya Aplikasi Kepemimpinan Baru. Sebuah genre mutakhir dalam pengelolaan daerah yang meletakkan masyarakat sebagai pemilik saham sekaligus penumpang kelas utama di bahtera kebangsaan bernama Indonesia Raya.

 

—o00o—

Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.