Kolom Jamaah

“Menakar Sensitivitas Persarafan Sosial Kita”

Oleh : Rio N.S

Terdapat dua jenis persarafan yang menjadi penanda sekaligus switch pada tubuh manusia. Mereka adalah sensorik dan motorik. Saraf sensorik bertugas menangkap apapun itu terkait hadirnya usikan atau rangsang, dari dalam maupun luar. Jenis kedua adalah saraf motorik. Jenis kedua ini lebih sebagai petugas estafet yang menindaklanjuti informasi yang dikirim melalui neurotransmitter dari sensorik.

Sebelum motorik tandang gawe,impuls itu harus melalui mesin pengolah informasi yang dikenal sebagai susunan saraf pusat (ssp). Letaknya ada di dalam tempurung kepala dan memanjang hingga ke sebagian tulang belakang. Peristiwa dengan flow sederhana yang bisa digambarkan sebagai rangsangan–>sensorik–>ssp–>motorik ini berlangsung fisiologis dan terjadi ribuan kali dalam 24 jam kehidupan manusia. Bukannya menyadari dan bersyukur atas hal ini, kita lebih sering melupakannya.

Mekanisme di atas adalah apa yang terjadi di dalam diri kita sebagai makhluk biologis. Lalu bagaimana proses yang sama terjadi dalam posisi kita sebagai makhluk sosial? Yang pertama harus disadari adalah bahwa di dalam konstelasi sosial kemasyarakatan, selain unik sebagai individu, kita adalah bagian yang menjadi penentu sekaligus “obyek penderita”. Peristiwa, kejadian, dan fenomena sosial tidak bisa kita hindarkan dampak langsung maupun tidak terhadap diri kita. Namun pada saat yang sama, kita memiliki otoritas dan dalam beberapa hal kemampuan untuk memberikan reaksi terandalnya.

Pertanyaan kemudian, seberapa tajam sensitivitas kita atas usikan secara komunal dan seberapa jauh respons bisa kita berikan? Di era di mana pertemuan dan tatap muka kian sulit didapatkan, reaksi dengan mudah bisa kita endapkan untuk menjadi hanya tumpukan sampah informasi yang larut dalam waktu dan kesibukan. Gejala seberat apapun di ranah sosiologis, dengan serta merta kita masukkan ke dalam pusat pengolahan limbah berita yang memang harus kita punya.

Sisi berikutnya adalah memberikan respons yang bersifat parsial, temporer dan cenderung emosional. Parahnya, karena sifatnya emosional, respons ini nyaris tanpa nilai solusi. Tingkat keparahan respons jenis ini adalah pemilihan media yang kurang tepat sehingga daya gertak dan kualitasnya ibarat pencinta yang bertepuk sebelah tangan.

Yang mesti dipelajari dengan seksama dan terus ditingkatkan kualitasnya tentu saja adalah manajemen pengelolaan informasi serta strategi memberikan reaksi yang cepat sekaligus “mematikan”. Forum-forum Maiyahan yang bersifat mandiri maupun yang dipandu oleh Marja’ dan “dzat” Maiyah adalah lubuk dalam sekaligus kaya akan mineral yang kita butuhkan untuk itu.

Singkatnya, kelangkaan premium, ditariknya secara perlahan tabung gas melon, kenaikan tarif dasar listrik, pajak yang kian menjerat, demokrasi yang bermutasi menjadi bisniskrasi serta lenggak-lenggok mereka yang mulai melemparkan jurus pembuka di panggung politik raya 2018-2019 adalah stimulus. Dan iritabilita sensorik-motorik kita terus diuji oleh itu semua.

 

Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.