“Tolong Cak Nun…,  Tolong Cak Nun…,“ Teriak bapak Abu bakar sambil memegang kepala, begitulah cara beliau mengekspresikan dan memeragakan  sebuah fenomena di mana ketika itu beliau dihujani pukulan secara bertubi tubi oleh Garnisun ketika malam Tahun baru. Yang membuat pikiran kami melompat jauh dan berimajinasi adalah hilangnya beliau ketika di tengah kepungan orang-orang yang mencoba melukai beliau. Tiba-tiba tanpa sadar tubuh yang awalnya berada di Pantai Losari berpindah menuju Jalan Tarakan sembari memanggil nama Cak Nun. Perpindahan itupun menuai pertanyaan terhadap dirinya sendiri dengan rasa tidak percaya,  berkali kali beliau bilang “ tidak masuk akal,  tapi itu kenyataan”. Kami pun sempat berpikir liar,  jangan jangan Pak Abu punya keahlian seperti Ninja Assasin,  tapi sudahlah. Cerita kemudian berlanjut pada acara perjamuan makan siang dengan menu ikan ikanan yang tentunya menggugah nafsu makan.

 

Pak Abu Bakar

 

Pak Abu Bakar yang akrab di sapa Abu oleh teman-temannya mempunyai ikatan emosional yang baik dengan Mbah Nun.  Rumah beliau mejadi salah satu tempat bermuara nya Diskusi Maiyah Paparandeng Ate setiap rutinan yang sudah disepakati waktunya.  Rumah itu juga yang menjadi rumah tujuan kedua kami setelah Rumah singgah utama yang disediakan Mbak Hijrah, rumah Adat Mandar dengan konsep Vernakular yang indah.

Perkenalan  kami dengan dulur-dulur Teater Flamboyan pun berlangsung di rumah beliau. di malam yang penuh khidmat itu, kami manfaatkan untuk saling bertukar informasi dan perkembangan Maiyah di setiap simpul. Beberapa Dulur dari Simpul Maiyah Papparndang Ate menceritakan betapa cintanya mereka terhadap Mbah Nun. Cerita-cerita mereka tentang Mbah Nun bukan hanya sebatas tentang kontribusi sosial yang bersifat materil tapi non materil. “Mbah nun adalah tokoh nasional yang bersedia bersaudara dengan Orang Tinambung yang pekerjaannya  menengah kebawah,  seperti Jual bensin,  foto kopi,  yang penting halal dan tidak mengambil hak orang lain. “ sahut pak Abu Bakar.

 

 

Suasana di kediaman Pak Abu Bakar

 

Dari Cerita dulur-dulur Teater Flamboyan dan Papperandang Ate tentang Mbah Nun, membuat kami semakin yakin bahwa nilai-nilai Maiyah akan selalu menjadi penyegar,  penjaga rasa paseduluran ini ke arah kemanusiaan itu dijunjung tinggi. Seperti Apa yang dikatakan Pak Munu, salah satu tetua di Simpul Papperandang Ate. “Sifat Maiyah itu adalah bahasa Tuhan.” Seketika itu hening memecah percakapan. Ungkapan yang selalu melekat dalam benak kami sebagai uang saku yang sangat bernilai.

Dengan mendengarkan beberapa pengalaman orang-orang Mandar tentang perjalanan spiritual Mbah Nun,  membuat kami harus menata kembali logika berpikir yang bersifat materil menuju non-materil,  karna banyak pengalaman yang sulit untuk dinalar dan diterima jika kita mengedepankan akal. Ada banyak hal yang harus kita percayai bahwa,  Tuhan memperkenalkan Cinta tidak dengan banyak bahasa,  salah satunya Bahasa Maiyah. (YSS)