Menata Langkah di Bulan Syawal

(Berita Singkat BangbangWetan Juni 2019)

 

BangbangWetan (BbW) edisi Juni 2019 diadakan kembali sesuai jadwal semula, sehari setelah PadhangmBulan (PB) yaitu Rabu, 19 Juni 2019. Setelah pada bulan Mei nyawiji dengan ibu seribu simpul Maiyah pada acara bertajuk “Kunci Kebahagiaan” di Mentoro, Sumobito, Jombang, kali ini BbW diselenggarakan di halaman TVRI Jawa Timur dengan mengangkat tema “Perkauman Sedarah Sedaging”.

Tentu rindu setelah sebulan absen membuat semangat berlipat bagi dulur-dulur yang menyiapkan segala ubo rampe demi kelancaran BbW sejak sehari sebelum acara. Terkhusus untuk lokasi, inilah pertama kali BbW kembali ke halaman TVRI setelah terakhir diadakan di tempat tersebut pada 21 bulan yang lalu.

Masih dalam suasana syawal, Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), Pak Suko Widodo dari Unair, Pak Didit dari Sanggar Alang-alang, dan Kyai Muzammil dari Jogjakarta rawuh untuk bersama-sama sinau bareng mbabar tema dan mesra bersilaturahmi bersama jemaah BangbangWetan.

Setelah lantunan ayat suci Alquran dan salawat berkumandang, dulur-dulur dari UKM Musik ITATS menyumbangkan beberapa lagu untuk semakin menghangatkan forum dan menemani para jemaah di setiap pergantian sesi. Tentu itu semakin manis dengan hadirnya Pak Cahya dari Yayasan Abiyasa yang membacakan puisi berjudul “Tari Topeng“ dan Mbak Nurul dari FIB Unair yang juga menyumbangkan sebuah musikalisasi puisi.

Sebelum masuk inti forum, moderator mengajak jemaah untuk membentuk tiga kelompok untuk mendiskusikan tiga pertanyaan dari Mbah Nun. Sebelum sesi Mbah Nun, masing-masing perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya yang kemudian direspons oleh Pak Suko Widodo.

Mbah Nun sendiri juga merespons ketiga kelompok tadi menggunakan terminologi dari Alquran (Attaubah: 20) amanu (iman), hajaru (hijrah), dan jahadu (berjuang).

Kalau kita sudah mengerti amanu-nya anak-anak, maka kita bisa mendeteksi dan memperkirakan hajaru-nya ke mana, dan jahadu atau yang paling diperjuangkan itu apa.” Dawuh Mbah Nun.

Sedangkan terkait kondisi akhir-akhir ini yang mengaitkan Mbah Nun dengan situasi perpolitikan Indonesia, beliau menanggapi melalui analogi kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang diperintah oleh Allah “hanya” untuk mengingatkan kembali penguasa agar kembali ke jalan yang benar. Bukan diperintah untuk menggulingkan dan menggantikan kursi kekuasaannya.

Mbah Nun juga mengambil kisah Rasullulah saw. yang dilempar baru hingga keningnya berdarah saat akan memasuki Kota Tha’if untuk membandingkan bahwa penderitaan Mbah Nun yang dijelek-jelekkan dan difitnah terutama di media sosial belum ada apa-apanya dengan penderitaan Rasullulah saw.

Jangan lupa, orang yang membencimu adalah orang yang paling berpotensi untuk mencintaimu.” Dawuh Mbah Nun sembari juga menceritakan bahwa Rasullulah saw. tidak marah dan justru mendoakan agar orang yang melemparinya segera mendapat hidayah dari Allah Swt.

BangbangWetan Juni dipungkasi dengan salam-salaman singkat Mbah Nun dengan jemaah menjelang pukul setengah empat pagi.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]