Setelah perjalanan Salat Jumat di Masjid Nurut Taubah, Imam Lapeo, perjalanan kami lanjutkan sowan ke salah satu anak laki-laki Imam Lapeo yang masih hidup. Kami dijamu dengan hangat seperti menjamu keluarganya sendiri. Banyak cerita tergali termasuk kisah perjalanan Imam Lapeo yang dikisahkan oleh cucunya. Selanjutkan, kami meneruskan perjalanan di mushola pertama Imam Lapeo yang berlokasi di Campalagian untuk salat ashar berjamaah dan mewiridkan surat Al-fatikhah sebanyak 99 kali untuk Imam Lapeo, sesuai anjuran Mbah Nun.

 

Rumah Cucu Imam Lapeo, Dusun Lapeo kec. Campean

 

Dengan hati yang bergetar karena merasakan ada koneksi antara diri kami dengan hawa dan nuansa tanah Mushola Campalagian, semakin mengkhusyukkan kita menuju ketenangan dan getaran yang menitikkan air mata ketulusan dan kerinduan. Perlu diketahui juga bahwa mushola Nurul Huda, Puppole Tomadio–yang sekarang sudah dipugar–merupakan rute perjalanan Mbah Nun setiap datang ke Mandar. Perjalanan Mbah Nun selalu dari Tinambung-Lapeo-Campalagian.

Sebelum bertolak pulang, kita sowan kepada saudara wanita Imam Lapeo bernama Ibu Anangguru Kuma, yang sekarang sudah sepuh. Beliau sangat gembira atas kedatangan kami. Sebelum pulang, kami masing-masing disangoni rajah dari salah satu potongan surat Al-kahfi sebagai wasilah doa Ibu Hammanah kepada kami agar terjaga dari segala macam bahaya yang datangnya dari luar dan dalam diri. Selanjutnya pulang untuk mandi, tapi sebagian dari kami memilih mandi sore di sungai Tinambung yang merupakan tempat Mbah Nun mandi dan lomba berendam dengan pemuda Mandar, anggota Teater Flamboyan.

Kami sengaja napak tilas dan merasakan suasana, kesan, pesan, dan mengalami sendiri apa yang menjadi sejarah pengalaman Mbah Nun di Tanah Mandar. Menurut Bang Tamalele, kalau orang luar yang sudah minum dan mandi di sungai Tinambung, maka sudah terlantik menjadi orang Mandar. Suatu kebanggaan besar dari kami terlantik menjadi orang Mandar.

Waktu makan malam tiba, kali ini kami dijamu di rumah H. Latapa. Rumah H. Latapa selalu menjadi transit Mbah Nun dan pakdhe-pakdhe KiaiKanjeng ketika datang ke Mandar. Selanjutnya, kami bersenandung bersama dengan ‘anggota’ Teater Flamboyan yang sekaligus juga pegiat Paparandeng Ate. Yang membuat kami tergetar ketika dari generasi muda menyuguhkan musik puisi dari naskah Mbah Nun yang berujudul “Bismillah”. Memberikan kesan kedalaman batin masyarakat Mandar, khususnya Teater Flamboyan kepada Mbah Nun yang telah berpengaruh terhadap kebiasan masyarakat mandar dulu yang pemabuk, judi, dan suka membuat onar menjadi manusia yang menjaga nilai-nilai luhur Islam. Terima kasih Imam Lapeo dan Mandar atas pengalaman dan sambutan mesranya. (AU)

 

 

Campalagian-tinambung, 23 November 2019