Menderita ya Begitu Saja, Bukan Drama

Oleh: Riz Tugiez.

Seperti kebanyakan pemuda lain di era milenial ini, yang saya raih ketika bangun tidur adalah handphone. Selanjutnya bisa ditebak, saya mengecek notifikasi di beberapa media sosial. Ritual berikutnya adalah “wiridan” alias menggeser layar untuk melihat timeline. Biasanya yang saya lakukan adalah melihat selintas pandang. Kalau ada status yang menarik, baru saya baca dengan seksama. Seperti pada Jum’at pagi penuh berkah ini (saya mengetik kata ‘berkah’ sambil tersenyum getir), saya menyimak penuh perhatian status facebook Cak Rusdi Mathari.

Dalam statusnya, Cak Rusdi menulis ringkasan kisah hidup Pramoedya Ananta Toer yang diberi judul “BURU”. Kisah dimulai ketika Pramoedya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru sebelum usianya genap dua puluh tahun. Tulisan tersebut diakhiri Cak Rusdi dengan sangat ciamik. Cak Rusdi menjelaskan pertemuannya dengan Pram menjelang akhir usianya. Di usia senja yang masih penuh ‘penderitaan’ itu, Pram masih gagah meng-khilafah-i kehidupan. Alih-alih merengek meminta bantuan orang lain, ia justru memberi semangat kepada lainnya.

Berawal dari status facebook Cak Rusdi itulah, saya menjadi tertarik untuk menyelidiki lebih lanjut tentang penderitaan. Di balik nama besar Pram, ada begitu banyak penderitaan yang menurut orang awam seperti saya ‘terlalu berat’. Ia harus mengalami berbagai derita sejak muda hingga menjelang akhir hayatnya. Memang tidak hanya Pram yang menderita ketika itu, ada banyak teman lainnya yang merasakan penderitaan sama di pulau pengasingan bernama Buru itu. Tapi yang membedakan adalah cara Pram menyikapinya. Berbeda dengan kebanyakan temannya sesama pesakitan yang memilih bunuh diri, Pram bertahan dan justru menjadikan penderitaan itu sebagai tunggangan untuk menikmati kehidupan. Menurutnya, kehidupan ini adalah tragedi dan komedi. Keduanya sama-sama asyik jika dinikmati.

Penyelidikan saya berlanjut ke nama-nama lainnya seperti Jean Paul Sartre, JK. Rowling, Tan Malaka, Widji Tukul, dan yang terutama adalah Mbah Nun. Jika ditarik sebuah garis, ada benang merah diantara nama-nama tersebut dan tentu saja para penulis atau pemikir lainnya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu (saya tidak ingin dapat sepeda dari Pak Presiden sehingga membuatmu iri). Hampir semua nama besar (bukan yang sengaja diketik dengan huruf KAPITAL) yang saya tahu mengalami perjalanan hidup yang penderitaannya di atas rata-rata orang biasa. Dan cara menyikapi penderitaan itulah yang membuat mereka bertahan, bahkan terlihat lebih asyik menikmati hidup dibandingkan orang lainnya.

 

Kenapa bisa begitu?

Kalau boleh saya generalisasikan, mereka mempunyai pandangan hidup yang sama: ”Hidup, ya hidup. Gak usah banyak drama.” Kita ambil contoh Mbah Nun saja. Kita tentunya tidak asing dengan kisah perjalanan hidup Beliau yang penuh penderitaan. Mulai dikeluarkannya Beliau dari Gontor, hidup menggelandang di Malioboro, hingga berbagai tekanan yang dihadapi Beliau dari orang-orang yang merasa terusik. Tapi, apa pernah beliau lebay menyikapi penderitaan bertubi-tubi dalam hidupnya? Tidak. Beliau justru menjadikan penderitaan, dan juga kebahagiaan sebagaimana aktivitas normal lainnya. Tidak ada jarak antara penderitaan dan kebahagiaan bagi Mbah Nun.

Tapi kita tidak perlu meniru Beliau. Yang bisa kita tiru adalah cara Beliau menyikapi hidup. Kita harus menyesuaikan dengan kapasitas diri masing-masing. Mbah Nun sering bercerita, ada berbagai macam orang dalam menyikapi sebuah penderitaan. Ada orang yang baru diinjak sekali sudah misuh. Ada juga yang meski diinjak berapa kali pun tetap kalimat toyyibah yang keluar dari mulutnya. Artinya, Mbah Nun seakan menyampaikan bahwa kita tidak perlu meniru Beliau sedemikian adanya kecuali kalau memang kapasitas kita mampu. Demikian juga dalam meniru Rasulullah. Rasul tidak meminta umatnya meniru plek tindakan dan sikapnya. Tentu harus disesuaikan kapasitas masing-masing. Tidak akan ada manusia yang mampu menandingi kehebatan Rasul Muhammad dalam menyikapi hidup. Beliau juaranya. Ojok sok-sokan nggaya. Sedikit-sedikit diperdebatkan, dan harus sesuai sunnah rasul. Ya pecah ndasmu.

 

Penderitaan Bukan Drama

Suatu kali, ada seorang teman datang ke rumah saya. Ia bercerita banyak hal terutama mengenai prinsip hidup. Saya lebih banyak mendengarkannya bercerita. Dalam hati, saya ingin tertawa. Kalau kebanyakan orang mencari kebahagiaan, teman saya ini justru mencari penderitaan. Tapi ia akhirnya kebingungan sendiri dalam hidupnya. Alih-alih mendapat penderitaan seperti yang diinginkannya, teman saya ini justru tertipu dengan angan-angan yang dibangunnya sendiri. Di akhir ceritanya, dia sambat kepada saya: tibak’e urip yo wis ngene wae (ternyata hidup ya begini saja).

Saya ingin menceritakan sedikit tentang apa yang dialami teman saya ini. Dia mungkin seperti sebagian besar mahasiswa lain yang baru menemukan Maiyah di pertengahan kuliah. Dia mengalami shock culture. Jiwanya terguncang begitu hebat melihat kenyataan yang selama ini dialaminya di kampus. Akhirnya dia memilih untuk mencari penderitaan-penderitaan. Tapi poin utamanya bukan itu. Ia ingin diskusi di dalam kelas menjadi seperti yang ia inginkan: penuh perdebatan. Karena teman-teman sesama mahasiswa di kelasnya tidak bisa mengikuti arahannya. Para dosen-lah yang akhirnya menjadi korban. Hampir setiap pertemuan, ia mendebat dosen. Ia tidak akan selesai sebelum sang dosen menyerah. Pokoknya, ia mencari-cari celah. Tujuan utamanya: ia akan senang jika dapat penderitaan berupa tekanan dari pihak kampus karena ia selalu mencari kesalahan stakeholder universitas. Tapi, apakah ia mendapatkan ‘penderitaan’ seperti yang ia mau? Jawabannya tidak. Ia justru seakan kehilangan gairah dalam kehidupan.

Dari kisah teman saya, setidaknya kita bisa belajar. Penderitaan, sebagaimana kebahagiaan bukanlah untuk dicari. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijalani dengan wajar. Mbah Nun sendiri, yang saya tahu, tidak pernah mencari-cari penderitaan atau kebahagiaan. Beliau hanya menjalani apa yang dilaluinya. Ketemu macan yang akan menyerang, ya dilawan. Ketemu buah manis, ya dimakan secukupnya. Hidup Mbah Nun penuh kewajaran. Meski menurut pandangan orang awam seperti saya, penderitaan Mbah Nun amat menyedihkan.

Mbah Nun mengajarkan bahwa inti dari kehidupan adalah The Power of Gak Pathek’en. Artinya, apa pun yang kita temui dalam perjalanan hidup, bisa disikapi dengan biasa saja. Dapat uang melimpah, gak pathek’en. Maka kita tidak akan menggunakannya secara berlebihan. Kita ambil sewajarnya yang kita butuhkan, sisanya dibelanjakan untuk manfaat sebanyak-banyak orang. Hutang demikian banyak, gak pathek’en. Kita menyikapinya dengan wajar, tentu saja dengan terus berusaha untuk melunasinya. Pokoknya apa pun hal yang menimpa, kita menyikapinya dengan kewajaran sehingga kita bisa menikmati hidup tanpa pura-pura.

Kalau penderitaan kita dramatisir, kita nanti akan tertipu sendiri. Ternyata yang kita sangka penderitaan, hanyalah angan-angan kita belaka. Memang teramat susah menyikapi hidup dalam kewajaran di tengah pola pikir dunia yang materialistik seperti sekarang. Penderitaan bahkan mulai didramatisir bahkan dikapitalisasikan menjadi acara televisi. Tapi, teramat susah bukan berarti tidak bisa untuk dicoba. Dari hal kecil saja, misalnya menyikapi status “Jomblo”. Jomblo ya jomblo, gak perlu didramatisir dengan berbagai jargon-jargon lain yang menyertainya. Tak perlu dikoar-koarkan atau dijadikan kesusahan berlapis-lapis. Yang sudah beristri atau bersuami, ya gak perlu kan tiap pagi kluruk, memberitahu para tetangga bahwa mereka telah menikah. Ini bisa kita terapkan ke berbagai hal lainnya. Lah sekarang yang terjadi kebanyakan orang suka mendramatisir sesuatu. Masak sejak bayi sudah jadi warga Indonesia, berkoar-koar “Saya Pancasila”? Nanti jadinya lucu dan ketipu sendiri loh kamu, mblo. “Hidup jomblo!” (Ups, saya jadi latah mendramatisir penderitaan ya?) huehehe.

 

 

Penulis : Riz Tugiez

Sedang menjalani peran sebagai staff administrasi di sebuah lembaga.

Salah satu peserta Workshop Penulisan PadhangmBulan Juni 2017