Meneladani Kewaskitaan Pemimpin Terdahulu

 

Majelis masyarakat BangbangWetan edisi Maret ini berlangsung pada hari Jum’at, 22 Maret 2019 di Pendopo Cak Durasim, Jalan Genteng Kali No.85, Genteng, Surabaya. Setelah pembacaan ayat suci Alquran dan salawat nabi usai, jemaah semakin khusyuk mengikuti majelis ilmu yang kali ini bertemakan “Negara Kertamaya”. Bertepatan juga menjelang pesta demokrasi, jemaah diajak untuk mengulas bagaimana kita mengambil pelajaran dari negara terdahulu.

Mas Yasin sebagai moderator mencoba membuka lembaran maksud dan arah tema malam itu. Ia menjelaskan asal-usul tersusunnya tema dari ideologi Mpu Prapanca dalam Lontar Kakawin Negara Kertagama. Pada masa kejayaan Majapahit, Mpu Prapanca sudah merumuskan ideologi bernegera bahwa ada pemisahan fungsi antara negara dan pemerintah sehingga bentuk kerajaan jelas secara fungsi dan tata kelolanya. Mas Yasin kembali menjelaskan bahwa kehidupan yang berlangsung sekarang ini sudah jauh berbeda dari yang sudah diwariskan oleh Mpu Prapanca. Sekarang sudah tidak ada lagi pemisahan fungsi antara negara dengan pemerintahan. Hasilnya membuat negara kita semakin tak menemui titik terang dari permasalahan dan kesejatian dirinya. Bahkan kini yang dijadikan pemimpin atau rujukan adalah idol atau artis yang telah mencitrakan diri di akun media sosial sebagai sesuatu yang layak diakui sebagai pusat perhatian dan panutan sehingga kendali kepemimpinan berada di tangannya. Semua orang berlomba-lomba mencitrakan diri agar dipercaya bahwa dirinya baik.

BangbangWetan edisi ini terasa sangat spesial karena di tengah-tengah jemaah yang melingkar, turut di-srawung-i pula oleh Cak dan Ning sebagai ikon generasi muda pilihan terbaik yang memperkenalkan Surabaya ke khalayak umum. Mereka malam ini hadir menyapa para sedulur dan jemaah BangbangWetan dengan membawakan beberapa lagu. Salah satunya berjudul “Tanjung Perak” yang dikemas secara akustik. Terasa salam sapa kegembiraan untuk menyatukan rasa antara jemaah dengan Cak dan Ning yang selama ini terasa jauh karena tak pernah bertemu dan bertatapan wajah secara langsung. Mas Hari yang juga bertindak sebagai moderator memegang kendali untuk mempersilakan seluruh anggota Cak dan Ning  ke atas panggung untuk menyapa jemaah serta memperkenalkan diri satu persatu.

Cerita tentang sejarah Kota Surabaya juga sedikit diungkap oleh mereka. Siola sampai THR (Taman Hiburan Rakyat) menjadi sebagian objek cerita mereka. Dari pemaparan salah satu Cak dan Ning, jemaah mengetahui bahwa dulunya gedung Siola merupakan salah satu tempat bersejarah di Surabaya. Tempat ini adalah toko konveksi dari noni-noni Belanda. Penuturan mereka ditutipi dengan “Ruang Rindu” yang dibawakan secara bersama-sama.

Selanjutnya, diskusi mengenai Negara Kertamaya dimoderatori oleh Mas Ahid dengan memancing respons pertanyaan dari jemaah. Di antara jemaah ada yang membahas tentang kewaskitaan Syaikhona Kholil dalam membaca masa depan. Beliau menitipkan pesan kepada murid-muridnya tentang cara memilih pemimpin. Di antara mereka ada pula yang bertanya sampai tentang filsafat Pancasila yang selama ini tidak cukup serius dilaksanakan. Mas Rahmad merespons pertanyaan mengenai kondisi negara sekarang yang tidak manut dari apa yang diwariskan oleh leluhur kita, salah satunya Negara Kertagama sebagai warisan ilmu tentang cara bernegara. Mengambil contoh dari kepemimpinan Kanjeng Nabi yang tergolong orang waskita, begitu juga para wali dan orang-orang waskita lain. Dalam kesempatan kali ini Mas Rahmad sebagai salah satu yang didaulat sebagai tetua memaparkan bahwa asas dasar bermaiyah adalah:

  1. Tidak menjadi apa-apa pun kami tidak peduli, asalkan Allah rida pada kami
  2. Kami hanya berpegang teguh kepada kanjeng Nabi Muhammad saw.

Pak Kris Aji sebagai pengingat sejarah dan sesepuh Damar Kedhaton Gresik menceritakan sedikit sejarah tentang Majapahit. Menurutnya, Majapahit lahir ketika runtuhnya Singasari. Raden Wijaya menjadi raja ketika dibantu oleh Arya Wiraraja turun-temurun sampai Hayam Wuruk. Masa itu adalah puncak kejayaan Majapahit. Salah satu kekuatan besarnya adalah kolaborasi antara kepala negara dengan kepala pemerintahan. Hayam Wuruk sebagai kepala negara dan Gadjah Mada sebagai kepala pemerintahan. Hal itu banyak dibahas Mbah Nun didalam forum Maiyahan untuk menyadarkan kembali kesejatian diri Indonesia dengan belajar kepada cara mengelola negara dari Majapahit. Sejak Pangeran Diponegoro memimpin perang pada tahun 1825-1830 terjadi upaya Belanda untuk mengubah sejarah, sehingga banyak kitab, babat, atau kakawin pada zamannya yang merupakan karangan Belanda. Salah satu contohnya adalah Serat Darmo Gandul dan Pararaton.

Menurut kesimpulan Mas Ahid setelah mendengarkan respons dari Pak Kris, bahwa kita sudah kehilangan pemimpin yang malati. Terakhir, Kyai Muzzammil merespons pertanyaan mengenai apa resiko negara jika sudah kehilangan sosok pemimpin yang waskita dan bijaksana. Kyai muzammil mengutip sabda Rasulullah yaitu “Sebaik-baik zaman adalah pada masaku, kemudian masa setelahku, kemudian masa setelah itu, kemudian datang suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim).  Akan tetapi orang yang bejo menurut Kyai Muzammil adalah orang yang hidup di zaman seperti saat ini tapi tidak terbawa arus. Sebaiknya keadaan seperti sekarang ini harus disyukuri jangan dijadikan beban. Dengan semakin banyak koruptor, penjahat, dan maling di negara kita akan semakin menambah derajat kita dihadapan Allah. Dengan terminologi bahwa semakin besar ujiannya maka akan semakin besar pahalanya. Inilah yang disebut sebagai perilaku mewaskitakan diri. Selanjutnya, merespons mengenai cara mengatasi masalah adalah dengan menempatkan diri di atas masalah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mbah Nun bahwa takabur terhadap masalah itu boleh, sehingga menganggap masalah adalah suatu yang kecil. Respons terakhir mengenai baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur. Menurut Kyai Muzzammil, fokusnya ada pada wa rabbun ghafur. Jadi apa artinya kehidupan baldatun toyyibatun kalau tidak wa rabbun ghafur. Apa artinya negara baik kalau Allah tidak memberi pengampunan. Jadikanlah wa rabbun ghafur menjadi fokus hidup kita dan menjadikan agama bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai perilaku sehari-hari kehidupan kita. Forum BangbangWetan Maret 2019 kemudia diakhiri dengan salawat yang dipimpin oleh Cak Lutfi dan doa oleh Kyai Muzzammil. Dilanjutkan bersalaman sebagai tradisi dari saling menyambung rasa takzim dan seduluran di antara kita semua.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]