Kita memang perlu semangat mendaki untuk mencapai sebuah puncak. Semangat pantang menyerah, menekan egosentrisme, tidak mengenal putus asa. Hal ini akan membiasakan diri agar tak mengeluh ketika menjumpai masalah-masalah dalam pekerjaan maupun kehidupan.

Awal bulan lalu, PM atau plant manager di perusahaan tempat saya bekerja memberikan breafing pagi yang berisi sebuah motivasi,” saya tidak setuju dengan falsafah hidup itu mengalir. Hidup jangan mengalir seperti air yang akan terus turun ke bawah dan tanpa ada usaha, tetapi hidup itu harus mendaki, harus ada usaha atau kerja keras untuk bisa mencapai puncak”. Puncak yang dimaksud adalah kesuksesan ekonomi, jabatan karier, prestasi atau apapun yang bersifat materialistik.

Mungkin cara pandang yang diambil oleh PM saya tadi adalah sabil dan syari’ atau arah tujuan dan proses antara mengalir dan mendaki. Lebih singkatnya, jika ia mendaki arahnya ke atas atau puncak atau ketinggian dan diperlukan etos kerja keras didalamnya.  Sedangkan saat mengalir, kita akan menuju ke bawah atau kerendahan dengan proses yang sangat pasrah tanpa melakukan apa-apa. Padahal makna mengalir dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah bergerak maju, bukan ke bawah apalagi ke belakang. Bergerak maju adalah hal yang memang harus dilakukan. Karena kita tidak mungkin bisa bergerak mundur dari kehidupan dalam ruang dan waktu yang sama.

Kita memang perlu semangat mendaki untuk mencapai sebuah puncak. Semangat pantang menyerah, menekan egosentrisme, tidak mengenal putus asa. Hal ini akan membiasakan diri agar tak mengeluh ketika menjumpai masalah-masalah dalam pekerjaan maupun kehidupan. Sejalan dengan itu, seperti firmanNya dalam surat al balad 10-11 “dan kami telah menunjukkannya dua jalan. Akan tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar”.

Akan tetapi, kekuatan fisik yang mumpuni belum tentu mampu mengantarkan kita sampai ke puncak. Harus ada mental yang terasah, prasangka yang positif, atau jiwa yang kuat untuk mendorong fisik bisa terus melangkah setapak demi setapak menuju puncak. Tidak sedikit mental yang ciut, prasangka negatif, serta jiwa yang lemah menjadi batu sandungan terbesar bagi para pendaki dalam misinya.

Dalam konteks yang skalanya lebih lembut hidup, selayaknya haruslah bersifat mengalir seperti air, mengalir ke tempat yang lebih rendah, bukan berarti dirinya lebih rendah melainkan lebih bisa berendah hati. Dia akan lebih rendah hati, karena perjalanannya akan menuju samudera. Semakin dewasa atau berpengalaman ia hidup di dunia akan semakin rendah hatinya dan semakin lapang pula hatinya seperti samudera, semakin bijaksana, seperti hilir semua aliran bermuara. Bisa menerima segalanya, menyaring yang tak berguna, menyatukan semuanya. Bukan seperti orang dipuncak yang semakin sempit pikirannya, semakin individualis mempertahankan posisinya, semakin merasa tinggi sendiri, merasa hebat sendiri, yang pada akhirnya akan turun kembali.

Pada banyak kejadian atau kenyataan dalam hidup berwujud yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya, bahkan semua yang terjadi dalam kehidupan tak pernah kita ketahui pada mulanya. Kita seakan mengalir pada waktu dan ruang yang tak pernah benar-benar bisa kita kuasai seutuhnya. Kita hanya seolah sadar melakukan, meskipun sebenarnya hanya melaksanakan apa yang berada dalam alam bawah sadar.

Pada beberapa kutipan Emha ada yang berbunyi “hidup ini aliran yang bergetar dan juga getaran yang mengalir”. Apakah mengalir sama dengan mengikuti arus atau mengikuti arus adalah bagian yang terlihat dalam mengalir? Bukankah hanya ikan mati dan sampah yang terseret oleh arus?. Seyogyanya hidup ini harus mengalir sembari mendaki, mengalir untuk berpikiran maju dan mendaki untuk selalu mengupgrade software keimanan kita agar bisa sekompatible mungkin dengan iradahNya. Mengalirlah seperti air yang menembus tanah sehingga ditemukan akal untuk diserapnya sebagai bahan kehidupan. Mengalirlah seperti udara yang siap dihirup manusia untuk menjadi siklus nafasnya.

 

Penulis : Ahmad Kafil Mawaidz, bisa dijumpai lewat twitter ”@kafil_mawaidz”