Oleh: Ahmad Karim

(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

 

Dua belas tahun sudah BangbangWetan melingkar sebagai satu dari simpul besar lingkaran Majelis Masyarakat Maiyah Nusantara yang tidak hanya terus mencoba menjadi pembuka sekat, penerobos sumbatan, dan pelonggar himpitan, tetapi juga menjadi oase ilmu bersama yang menampung sekaligus mengalirkan energi pencerahan bagi warga Kota Pahlawan dan sekitarnya.

Dalam rentang itu, saya sebenarnya amat minder dan malu menyisipkan secuil narasi sumbang di tengah-tengah telaga luas khazanah nilai dan spirit heroisme arek-arek Suroboyo. Apalagi, dari 12×12 pertemuan paseduluran yang secara istiqomah dilakukan, saya sudah tertinggal jauh sebanyak 141 nilai penting yang dibeber dan di-sinau bareng-i untuk membuka sudut pandang baru tentang segala hal yang berkaitan dengan rantai nilai individualitas (kemanusiaan), religiusitas (ketuhanan), kolektivitas (kemasyarakatan), bahkan entitas kenegaraan dan peradaban.

Dari srawung singkat saya pada tiga kali maiyahan  BangbangWetan terakhir, itu pun karena faktor ndilalah saya harus memilih Surabaya sebagai lokasi ethnographic fieldwork yang sedang saya lakukan, secuil narasi ini saya anggap saja sebagai sebuah perkenalan sekaligus kulonuwun saya kepada sedulur pegiat Maiyah dan arek-arek Jamaah Maiyah BangbangWetan yang terus setia melingkar bersama.

Kesan singkat saya ketika pertamakali dipertemukan dengan sedulur semua di BangbangWetan hanyalah satu kata: “terbuka”, ya senyum sambutannya, ya hatinya, ya pikirannya, ya tangannya, ya pintu rumahnya, ya dompetnya juga. Nuansa keterbukaan ini adalah kunci yang membuka satu cakrawala baru yang sangat penting bagi saya dalam nyinauni Maiyah sebagai sebuah pendekatan, metode, dan proses pengamanan (securitization) masyarakat.

Dan nampaknya, proses pengamanan masyarakat “yang membuka” ini adalah satu dari sekian banyak upaya dan ijtihad pencarian jawaban atas persoalan-persoalan mendasar kemanusiaan, mulai dari sekedar cekcok antarindividu dan keluarga, konflik akibat penebalan sekat-sekat primordial antarkelompok, antaretnis, dan antaragama, sampai sejarah panjang perang antarkabilah, antarsuku bangsa, dan antarnegara, bahkan puncaknya yang oleh Samuel Huntington (1993) hipotesiskan sebagai clash of civilization, di mana identitas golongan kultural dan agama-lah yang akan menjadi sumber konflik utama peradaban manusia pasca perang dingin hingga era millenial sekarang ini.

Ironisnya, dari kantor pusat UN Security Council (Dewan Keamanan/DK-PBB) di New York City sana, sampai dengan “dewan keamanan HANSIP” sebagai tangan kanan Dwifungsi ABRI yang berlaku di masa Orde Baru   di seluruh pelosok negeri ini, “template” kebijakan, pendekatan, metode, dan strategi pengamanan masyarakat yang “di-mainstream-kan”, digunakan, diterapkan, dan terus dikampanyekan sama persis, yaitu pengamanan masyarakat “yang menutup”.

Kala itu, doktrin Hankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta) pernah sangat populer dan menjadi salah satu justifikasi dan pelanggengan Dwifungsi ABRI (tentara dan polisi), yaitu sebagai penjaga keamanan dan ketertiban negara sekaligus sebagai pemegang keuasaan dan pengatur administrasi kenegaraan yang memungkinkan kekuatan militer berada pada posisi tertinggi di bidang politik, ekonomi, dan sosial, bahkan dalam urusan agama, termasuk dalam seluruh urusan pelayanan publik bagi warga negara.

Dengan sistem tersebut, definisi ancaman keamanan (security threats) dan tindakan pengamanan (security measures, procedures, and interventions) praktis sepenuhnya didikte secara struktural dari  Jakarta hingga tingkat RT, yaitu mulai dari pemanfaatan satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di tingkat elit sampai dengan dibentuknya Hansip (organisasi Pertahanan Sipil) sebagai komponen hankam terbawah dan tangan kanan ABRI pada level grassroot yang dilegitimasi melalui Keppres No. 55 tahun 1972.

Maka jangan heran, ketika idiom-idiom keamanan disebut (mulai dari pasukan DK-PBB, ABRI, dan Hansip), memori publik akan merujuk pada pasal-pasal resolusi keamanan yang menjustifikasi tindakan pengamanan dalam rangka merespons security threats yang lazim disebut dengan embargo, condemnations, executions, demanding, calling, dan yang oleh kelima anggota tetap DK-PBB sering simply diterjemahkan sebagai establishing and applying military operations.

Nuansa “penutupan” tersebut pernah sangat detail diadopsi oleh rezim pemerintah di era sebelumnya (meski sampai saat ini belum benar-benar berubah), dengan apa yang familiar dikenal dengan pembredelan, pembubaran, dan segala macam tindakan penutupan (termasuk penculikan, pemenjaraan, dan pelabelan khusus sebagai “musuh negara dan musuh masyarakat”).

Sederhananya, semua yang dianggap dan kemudian didefinisikan sebagai security threats harus ditutup keberadaannya, identitasnya, aksesnya, dan ruang geraknya. Bahkan, jika ditarik sedikit lebih jauh ke belakang di jaman kolonial Belanda, security threats itu harus dibuang, diasingkan, dan benar-benar ditutup usianya dengan satu dalih, agar masyarakat aman.

Pengamanan masyarakat “yang menutup” tidak hanya membuat masyarakat malah menjadi tidak aman, tetapi membuat potensi dendam dan ketidakadilan yang menciptakan ancaman-ancaman keamanan baru, karena masyarakat ditempatkan pada sebuah kondisi yang nir-alternatif. Maka BangbangWetan menurut saya adalah sebuah spirit abang-abang seko wetan yang menandakan sebuah fajar pembuka hari baru dari gelap pekatnya penutup malam.

Lihatlah tiga tema BangbangWetan terakhir (dan ini bisa dirunut ke semua tema yang pernah diangkat sebelumnya), mulai dari Piala(ng) Dunia yang mencoba membuka sebuah perspektif baru tentang luasnya spektrum gelaran sepak bola paling akbar sejagad dan relevansinya dengan kehidupan keseharian Jamaah Maiyah di Surabaya dan sekitarnya.

Kemudian Urip Sesemutan yang bagi saya pribadi tidak hanya membuka wawasan baru tentang Myrmecology (ilmu tentang semut), tetapi juga analogi baru tentang organisme dan metode pengamanan kolektif yang masyarakat manusia harus rela belajar sangat serius kepada semut sekalipun (bahkan Cak Nun kemudian menganalogikan Jamaah Maiyah sebagai semut-semut peradaban masa depan).

Dan terakhir, Ruwat, tema yang menegaskan bahwa setiap individu dan kolektif harus terus membuka diri melalui penghancuran cara pandang dan paradigma lama, bertransformasi (melakukan ruwatan) agar memiliki perspektif baru yang lebih mampu merawat “cuaca” transformatif itu menjadi gerakan kolektif yang mengamankan diri, keluarga, dan semua pihak dari dampak negatif cara berpikir yang Cak Nun sebut sebagai 3C (Cethèk, Ciut, dan Cekak). Karena muara dari semua jenis konflik kemanusiaan adalah dipeliharanya ketiga pola pikir ini.

Ruang terbuka BangbangWetan di Balai Pemuda juga nampaknya menjadi “petunjuk” Tuhan bahwa  Maiyah “diamanahi” tugas berat sebagai motor pembuka peradaban yang sudah kronis terjangkiti 3C tadi. Ini sangat menarik bagi saya karena ndilalah, lokasi penyelenggaraan BangbangWetan kok ya tidak di kompleks TK seperti Mocopat Syafaat Yogyakarta (generasi Maiyah yang bertugas mengoptimalisasi fase golden age masa kanak-kanak pra sekolah), halaman taman dan galeri seni seperti di Taman Ismail Marzuki Kenduri Cinta Jakarta (fase pematangan dan pendewasaan berpikir yang sudah mulai mengedepankan estetika), kompleks masjid seperti di Gambang Syafaat Semarang (orientasi spiritual dan ketuhanan), apalagi kompleks makam keluarga seperti di Padhangmbulan Jombang, yang bisa berarti dua aspek dalam pola pikir Maiyah, yaitu pengingat leluhur atau sejarah masa lalu, sekaligus kepastian masa depan setiap orang yang harus berlabuh di dermaga kubur, namun diberi PR berat untuk mampu menuliskan nama baik pada batu nisan masing-masing.

Empat “tagline” utama BangbangWetan yang menghiasi kanan-kiri tenda yang tidak saya temukan di lingkar Maiyah manapun, menurut saya juga adalah “takdir” bahwa tradisi pergerakan, progresivitas, dan keterbukaan memang menjadi ciri khas simpul ini. Karena kodratnya, Matahari Memancar dari Timur (tetapi pancaran itu telah lama memudar karena peradaban manusia dipancari oleh tradisi keilmuan dan industri dari “Barat”), sehingga satu-satunya cara Untuk Menguak Rahasia, Bangun dari Tidur (tradisi Barat itu telah menidurkan mayoritas peradaban di Timur) adalah munculnya kesadaran baru pada Orang-orang yang Perlu Berkumpul di Timur (berkumpul adalah tradisi Timur yang dahulu output-nya adalah kerjasama dan produktivitas, bukan pembanggaan kelompok) sehingga Yang Dinanti-nanti akan Muncul dari Timur (lahir kembali untuk membuka belenggu peradaban Barat).

Satu catatan kritis, meskipun semua yang Jamaah Maiyah lakukan adalah pengamanan masyarakat “yang membuka” dalam segala macam spektrumnya, yang sering Cak Nun analogikan dengan konsep berpikir “jangka panjang” (vs jangka pendek), “marathon” (vs sprint), “ruhani” (vs jasmani), “infinite” (vs finite), dan sejenisnya, satu hal yang menurut saya jangan sampai terjadi adalah anggapan bahwa Maiyah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mengamankan masyarakat. Ia tidak perlu menjadi “mazhab” baru yang menutup “mazhab lama”.

Ia harus tetap menjadi ruang terbuka yang melatih jamaah untuk mengetahui dengan lebih presisi kapan harus menutup dan kapan harus membuka. Ia ditantang memiliki kemampuan menguatkan bukan melemahkan. Ia diharapkan mencari persamaan daripada melebarkan perbedaan. Jika menutup dan membuka hanya sebuah perbedaan metode untuk mencapai tujuan tertentu, maka yang paling hakiki dan mengamankan adalah saling membuka diri (seraya menutup ego diri) untuk mengingatkan tujuan itu, dan bersama-sama mencapainya dengan penuh kegembiraan. Selamat Milad ke-12 BangbangWetan.

 

 

Ahmad Karim, Jamaah Maiyah asal Wonosobo. Pegawai BAPPENAS, sedang menempuh studi doktoral bidang Antropologi dengan fokus tentang citizen security, new social and religious movement di Universitas van Amsterdam.