Mengapa Harus Mahal

 

 

Di forum rutinan paling awal tahun 2020, mari kita mengangkat dua idiom dalam khasanah Jawa. Pertama, Jer Basuki Mawa Beya. Tiga kata yang digunakan sebagai motto resmi Provinsi Jawa Timur ini mengarah pada kebutuhan adanya padatan energi bagi tercapainya satu tujuan. Apapun yang hendak kita raih, diperlukan permodalan. Dengan kata lain, ada harga yang harus dibayar kalau ingin rencana menjadi kenyataan.

 

Idiom kedua berbunyi Rupa Nggawa Rega. Meski pada pemakaiannya lebih sering digunakan untuk menggambarkan betapa mutu komoditas tertentu menyertakan berapa banyak uang harus kita bayarkan, sesungguhnya, idiom ini berlaku juga untuk hal-hal yang berkenaan dengan jasa, situasi atau pelayanan.

 

Mari aplikasikan keduanya ke dalam proses yang kita semua mesti jalani dari tiang ayunan hingga maut memisahkan; pendidikan. Kita spesifikasi lebih sempit lagi, pendidikan yang penyelenggaraannya melibatkan agen-agen tertentu sebagai lembaga “produsen” vis a vis masyarakat pengguna yang dalam hal ini siswa beserta orang tua. Mereka yang berperan sebagai “konsumen”.

 

Perbincangan tentang sistem pendidikan nasional selalu terkait dengan dua warisan bangsa. Pertama,  Ki Hajar Dewantara dengan Perguruan Taman Siswa. Lelaki yang lahir dengan darah biru bernama asli Suwardi Suryaningrat dan dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional ini berangkat dari semangat resistensi kultural sebagai perlawanan terhadap kepongahan kolonial. Menurutnya, “Sistem pendidikan kolonial yang materialistik, individualistik, dan intelektualistik diperlukan lawan tanding, yaitu pendidikan yang humanis dan populis, yang memayu hayuning bawana (memelihara kedamaian dunia) [Museum Kebangkitan Nasional, “Ki Hajar Dewantara; Pemikiran dan Perjuangannya”, 2017].

 

Poster BangbangWetan Januari 2020

 

Ki Hajar Dewantara (selanjutnya KHD) menggabungkan dua metode pendidikan dari Maria Montessori dan Rabindrananth Tagore untuk kemudian diramu dengan nilai-nilai luhur budi pekerti bangsa Indonesia. Dari Tagore yang melahirkan Santhini Ketan, KHD memetik prinsip pendidikan experiental teaching yang diarahkan ke upaya pencerahan dan pembentukan kemandirian siswa. Sedangkan kepada Montessorri, beliau belajar tentang bagaimana pendidikan harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mendapatkan materi ajar sesuai pertumbuhan wajar seirama dengan usianya.

 

Kedua metode yang telah mapan itu kemudian digabungkan dalam satu azas dan praktik pendidikan di Taman Siswa. Pada lembaga pendidikan yang memiliki jenjang dari Taman kanak-kanak (Taman Indria) sampai perguruan tinggi ini (Taman Sarjana), KHD mengenalkan satu ajaran yang ternyata bisa diterapkan di semua bidang kehidupan yaitu “Patrap Guru”. Patrap Guru meliputi tiga elemen utama terdiri atas Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut wuri Handayani. Bagian terakhir dari Patrap Guru kemudian dijadikan semboyan Departemen Pendidikan Nasional hingga hari ini.

 

 Kedua, model pendidikan Pondok Pesantren. Penelusuran ahli sejarah menunjukkan lembaga pendidikan ini sudah ada sejak abad ke-16. Meski belum ada kesepakatan, namun bisa dipastikan bahwa keberadaannya berasal dari tradisi pengajaran Hindu dengan sistem Begawan/Guru dengan cantrik dan mekanisme penyebaran tarekat Islam yang menempatkan Mursyid dan murid dalam satu kebersamaan intensif di periode waktu tertentu.

 

Tiga cara pengajaran di Pondok Pesantren yang masih diteruskan sampai sekarang ada tiga, meliputi wetonan/halaqoh (dengan metode pengajaran Kyai memberikan materi dan santri mendengarkan, bila perlu membuat catatan), Sorogan (pengajaran kitab-kitab kuning/klasik yang diikuti santri dengan kita yang sama di hadapannya), dan hafalan. Ketiganya menempatkan Kyai sebagai tokoh sentral dalam kehidupan Pondok Pesantren yang bersama mesjid, gothakan/pondok itu sendiri, dan santri menjadi pilar penopang kehidupan pranata persekolahan klasik dan unik di Indonesia.

 

Dari kedua lembaga di atas, Perguruan Taman Siswa dan Pondok Pesantren kita dapati kesamaan-kesamaan berbentuk metode pengajaran yang humanis, kerakyatan/egaliter, dan berbiaya murah. Betapa tidak, KHD mencanangkan Taman Siswa sebagai sekolah yang harus bisa memberikan kesempatan kepada semua “bumiputera” menjadi manusia dengan pendidikan dan intelektualitas setara dengan bangsa kolonial. Sementara Pondok Pesantren hanya mewajibkan santri-santrinya memberikan SPP yang seikhlasnya kepada Kyai. Biaya lain yang harus dipenuhi oleh orang tua adalah, melulu biaya hidup para santri yang pola konsumsinya sangat sederhana, maka itupun dalam nominal yang sangat minimal.

 

Kenyataan paradoksial mengenai pendidikan mutakhir menyergap kesadaran kita. Sekolah-sekolah yang didirikan lembaga non pemerintah mengharuskan orang tua menyetorkan dana yang terbilang fantastis, bahkan hanya untuk level pendidikan usia dini dan Taman Kanak-kanak. Terlebih untuk level-level di atasnya, SPP bulanan atau semesternya bisa berada di atas penghasilan buruh pabrik dan tenaga kerja lepas.

 

Ironi-ironi yang bisa kita sebutkan adalah bahwa untuk pendapatan kaum buruh dan karyawan, kita kenal regulasi yang memberikan batasan berbentuk UMR. Maka untuk besarnya dana yang ditetapkan sekolah-sekolah tidak diperlukan limitasi. Ironi berikutnya adalah betapa banyak orang tua yang seolah kehilangan rasionalitas terhadap angka ketika berbicara tentang besarnya rupiah yang harus mereka keluarkan bagi diterimanya anak di lembaga bergengsi itu. Ini pula yang pada akhirnya mendorong lembaga-lembaga pendidikan super duper tersebut tetap eksis dan dengan leluasa menaikkan “tarif” setiap tahun. Kenaikan yang  seirama dengan inflasi walau seringkali tetap terkesan absurd dari sudut pandang ekonomi.

 

Mengurai pendidikan yang layak bagi anak, berapa sebenarnya biaya minimum yang dibutuhkan untuk menjadikan seseorang menjadi insan terdidik dan barangkali alasan rasional dari mereka yang “kebetulan” ada di ranah “pendidikan mahal” adalah pokok-pokok permasalahan yang akan kita perbincangkan bersama di pekan kedua bulan pertama tahun kabisat. Jangan lupakan, wujudkan itu dalam percik-percik rindu atas pertemuan di mana Lapangan Unesa Ketintang siap menjadi media bagi semarak kehadiran kita semua.

—ooo000ooo—

 

[Tim Tema BangbangWetan]