Mengasyiki Peristiwa Kegembiraan

Oleh: Ungsaka

 

Wijil namanya, yang akan menceritakan kisah pengalamannya. Wijil adalah anak desa dari pulau yang katanya keras dan semena-mena. Tetapi Wijil tidak. Wijil lebih tampak pendiam, tidak banyak bicara. Mungkin maksud Tuhan melahirkan Wijil di Pulau Garam itu agar Wijil terdidik dalam budaya keislaman yang menjadi awal keberangkatan pencarian Wijil kepada apa yang sedang Wijil cari. Meski untuk saat ini Wijil sendiri belum tahu, apalagi mengerti apa yang Wijil sedang dan akan cari itu. Ingatan yang tersimpan pada badan Wijil-lah yang membuat Wijil terus menerus mencari tanpa disadari apa yang Wijil cari.

Di desanya sana dulu, waktu kecil Wijil sangat akrab dengan sarung yang menjadi pakaiannya sehari-har, dari mancing, ngancani temannya ngarit suket, nekeran, main engklek, bal-balan juga dipakai dolan ke rumah temannya. Tetapi stok sarung Wijil banyak lo, ya. Wijil juga tahu kok mana sarung yang khusus dipakai main, mana sarung yang untuk dolan, sowan, dan sembayang. Wijl mengukurnya dari kadar kecerahan warnanya–lebih tepatnya mbulak atau tidaknya.

Dalam kebudayaan sarung itu, Wijil banyak menemukan cara untuk menyikapi sarung itu agar sesuai dari apa yang Wijil lakukan. Misalnya ketika main bal-balan Wijil punya metode untuk membuat sarungnya tak nyrimpeti ruang kakinya ketika berlari mengejar dan menendang bola, yaitu dengan meraih ujung sarung bagian depan, membentuk runcing, dan dislempitkan kelempitan sarung bagian belakang. Membentuk semacam celana dalam orang modern. Apa kalau lagi main nekeran, Wijil akan menaikkan gulungan sarungnnya sampai persis seperti celana 3/4 yang biasa digunakan orang kota itu.

Wijil banyak mengalami masa kanak-kanak hingga muda di desanya dengan banyak juga terekam rekam peristiwa yang lucu-lucu dan terkadang gatelne ati jika diingat. Di desanya, Wijil bukan tipe anak yang intover, Wijil justru senang keluar rumah untuk mancing atau mbolang ke gunung bersama teman-temannya untuk memburu buah juwet. Teman wijil ada yang namanya Sinom. Sinom ini adalah anak yang moderat, modis cara berpakaiannya dan selera baju sampai lagu sangat kekinian. Terkadang Wijil juga belajar modernitas kepada Sinom ini. Ada juga Pangkur. Dia dalam segi usia memang lebih senior dari Wijil, tetapi dalam hal kedekatan seperti teman sebaya Pangkur lebih senang bermain dengan Wijil dan kawan-kawan ketimbang dengan seusia dengannya. Sedangkan Durma adalah teman Wijil yang istimewa. Dia adalah teman yang sukanya eksperimen. Suka mencari dan menemukan hal-hal baru untuk diproses menjadi pemahaman dan pengalaman. Dan masih banyak teman Wijil yang lain. Yang kali ini Wijil pungkasi dulu agar yang membaca cerita ini lebih penasaran kepadanya.

 

Surabaya,

Minggu, 25 Agustus 2019