Oleh : Danang Y Riyadi

 

Satu titik yang sangat berharga dalam fase kehidupan saya adalah ketika melakukan perjalanan menuju ibu kota yang diantar oleh rangkaian gerbong besi sekitar pertengahan tahun 2017 untuk melaksanakan “tugas negara” BMJ (Buletin Maiyah Jawa Timur). Saya dan satu orang saudara Al-Mutahabbina fillah dipercaya teman-teman BMJ untuk sowan kepada salah satu marja’ Maiyah, Syekh Dr. Nursamad Kamba (beberapa orang dekat memanggilnya Buya),  untuk mewawancarai beliau. Sekaligus pula meminta perkenan beliau memberi kontribusi tulisan untuk BMJ tiap bulannya.

Pagi di Pasar Senen, kemacetan ibu kota yang khas tak bisa kami hindari. Sebelum menuju Kramat Jati, kami mampir dulu di penginapan yang terletak di komplek SMK 27, sebuah SMK Perhotelan, untuk njujurne boyok sebentar dan mandi. Ojol roda empat yang mengantarkan kami memilih jalan tol untuk menghindari macet. Terserahlah, saya tak tahu jalan tercepat menuju Kramat Jati.

Kediaman beliau amat sederhana untuk ukuran orang penting yang sering bolak-balik Mesir-Indonesia dalam rangka melaksanakan tugas sebagai perwakilan kedutaan besar Indonesia di Mesir. Dua petak rumah di perkampungan Dukuh, Kramat Jati terlihat tak terlalu mewah untuk ukuran ibu kota. Memasuki ruang tamu, beberapa lukisan terpampang di berbagai sudut ruangan, salah satunya karya Sujiwo Tejo, tak ketinggalan pula buku-buku yang tersusun rapi di rak salah satu sudut ruangan. Kami bertiga, bersama Mas Wawan, satu saudara lain dari Kenduri Cinta yang mengantarkan kami, diterima dengan jabat tangan yang saya rasakan penuh kerendahhatian. Bahkan senyumnya masih teringat hingga kini. Kami mencium tangan beliau sebagai salam takzim dan hormat kami sebagai murid. Kebersahajaan dan kerendahhatian nampak kembali ketika beliau menyempatkan diri untuk meminta maaf karena Ibu Fatin, istri beliau sedang tidak berada di rumah. Mungkin merasa tak enak karena Ibu Fatin tak bertemu dengan kami.

Lampu gantung tepat di atas rangkaian meja dan kursi tamu membuat saya kedadug ketika bangkit dari duduk untuk sekedar meminta izin ke kamar kecil. Satu peristiwa berulang yang membuat saya malu dan sungkan. Beliau tidak merokok, lebih tepatnya sudah tidak merokok, jadi kami meminta izin untuk menyalakan sebatang demi sebatang untuk menemani perbincangan kami, sekaligus pula untuk menemani kopi yang sudah terhidang. Beliau tak keberatan karena dulu sudah terbiasa merokok. Sepertinya maklum juga dengan kebiasaan merokok jamaah di forum-forum Maiyah.

Setelah beberapa perbincangan basa-basi, Buya mulai bercerita tentang pertemuan dengan Mbah Nun, Maiyah, masa kecil beliau di Pinrang, Sulawesi Selatan; mursyid, pengalaman kuliah dan bekerja di kedutaan besar Indonesia di Negeri Piramid, hingga ilmu tasawuf. Tak hanya itu, Buya juga bercerita tentang pendakian Tursina (gunung tempat pertemuan dan perjanjian antara Allah dan Kanjeng Nabi Musa) bersama Mbah Nun dan Kiai Kanjeng, juga pentas CNKK (Cak Nun dan KiaiKanjeng) di Mesir yang mengundang kagum para pejabat di Mesir.

Satu yang membuat saya terpana adalah ketika Buya Nursamad Kamba menjelaskan tentang konsep rukun Islam yang dimulai dari konsep syahadat. Yang saya tangkap adalah, bila kita benar bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, maka rukun Islam selanjutnya ya tinggal mengikuti, tidak ada alasan untuk tidak mendirikan salat dan mengerjakan rukun Islam lain. Konsep mendirikan salat pun bukan hanya berdiri untuk salat, tetapi menjadikan diri kita salat sepanjang waktu.

Kami hanya mengajukan beberapa pertanyaan, selebihnya Buya yang bercerita sambung-menyambung. Saya merasakan percikan ilmu yang sangat banyak keluar dari penuturan beliau. Tengah hari hingga selepas Isya’ perbincangan kami hanya putus ketika waktu salat dan menyempatkan sedikit waktu ke ‘belakang’. Perbincangan kami saat itu diselingi pula harmoni suara motor dengan knalpot modif brong yang memekikkan telingan, juga suara pengamen berkedok ondel-ondel  yang lewat di jalan kampung tak seberapa lebar depan rumah beliau.

Sebelum pamit, kami terlebih dahulu disajikan hidangan istimewa: sayur asem, tempe goreng, dan ikan asin. Cara makan beliau juga sangat sederhana, jauh dari pencitraan, muluk. Beliau sempat menawarkan untuk menginap, sangat disayangkan kami terlanjur memesan kamar di SMK 27. Bonus tambahan yang tak kalah penting, beliau bersedia mengirimkan tulisan tiap bulan untuk dimuat di BMJ. Tulisan beliau terentang dari 2017 hingga 2019 lalu dalam rubrik Nukleus. Saya kira beruntunglah teman-teman jamaah yang sempat mengoleksi BMJ dalam kurun waktu tersebut.

Senukil kisah perjumpaan dengan beliau adalah keberuntungan yang juga merupakan satu check point kehidupan bagi saya. Tak henti mengalir kekaguman akan kesederhanaan dan kebersahajaan dari Samudra Ilmu yang dirupakan seorang Mursyid. Saya akui, saya rindu pertemuan itu.

20 Juni 2020 Syekh Dr. Nursamad Kamba pulang secara merdeka kepada Allah. Senyum beliau yang tentram sudah beranjak menuju keabadian. Cahaya yang dipancarkannya akan terus terjaga abadi. Mbah Nun dan Jamaah Maiyah merasakan kehilangan yang amat mendalam bersama peristiwa ini. Banyak hal yang masih harus kita lakukan untuk mengamalkan curahan ilmu yang telah beliau tinggalkan untuk Jamaah Maiyah. Tugas Buya Nursamad Kamba di dunia ini telah usai, namun ilmu yang beliau tinggalkan Insya Allah tidak akan lekang sepanjang zaman.

 

Penulis adalah pengajar dan penggiat Maiyah yang berdomisili di Blitar, sehari hari bisa ditemui di twitter @DanangJunior