Oleh J. Rosyidi

 

Coba kita lihat di sekitar, bukankah masih banyak kita jumpai orang dewasa bertengkar. Terkadang tidak hanya adu mulut dan caci maki, melainkan juga adu fisik. Di sisi yang lain kita juga tahu bahwa terkadang orang malah menutup diri dan bersembunyi ke dalam “gua”-nya sendiri ketika permasalahan terjadi. Sehingga bukannya selesai, masalah malah semakin mengendap dan lama-lama endapan itu bisa semakin bertumpuk dan membesar yang bisa jadi meledak setiap saat. Tipe yang manakah kita?

Sekitar dua bulan lalu, saya mengikuti workshop “Merancang Sekolah Merdeka” yang diadakan di SALAM Yogyakarta. Satu hal yang menarik adalah anak-anak usia dini sudah dibiasakan – dan mampu – menyelesaikan konflik di antara mereka dengan metode dialog yang elegan. Ini menunjukkan dengan edukasi yang benar sejak dini, kita bisa menyelesaikan konflik yang terjadi dengan cara yang elegan. Masalahnya seringkali kita tidak mengalami pembelajaran tentang resolusi konflik yang tuntas semenjak dini sehingga pada saat “dewasa” kita belum bisa menyelesaikan konflik dengan baik dan bijak.

Kunci dari resolusi (memecahkan, mengurai) konflik adalah pada komunikasi yang efektif. Tapi sebelum sampai bagian komunikasi yang efektif, kita perlu tahu fase-fase perkembangan resolusi konflik sejalan dengan tumbuh kembang anak. Sehingga ketika kita sadar anak berada pada fase apa, kita bisa melakukan tindakan – termasuk komunikasi – yang tepat.

Ada empat tahapan resolusi konflik seiring tumbuh kembang manusia. Pertama, Resolusi konflik pasif. Fase ini terjadi pada rentang usia 0-2 tahun. Dinamakan pasif karena pada usia ini komunikasi anak masih terbatas, sehingga tidak dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas. Kita hanya bisa menangkap sinyal atau tanda yang ditunjukkan anak dengan (biasanya) dua alternatif tanda ; yaitu diam atau menangis. Nah, ayah bunda kalau ananda diam atau menangis bisa jadi dia sedang “protes”. Apa yang dilakukan ketika demikian? Bersabar dan gunakan hati – insting, terutama ibu – untuk menerka maksud ananda.

Kalau kemudian fase ini tidak terlewati – tidak diberikan edukasi yang baik – bisa jadi kemudian akan tercermin sikap ketika dewasa. Pernah nggak ayah kemudian tiba-tiba diam hingga membuat ibu kebingungan? Atau sebaliknya, tiba-tiba ibu bilang “Ayah sih nggak pernah ngertiin mama!” atau kata-kata yang semisal yang membuat dahi ayah berkerut. Betapa tidak, ketika ditanya lebih lanjut malah yang ada hanya tangisan. Kalau memang sedemikian berarti ayah-bunda belum melewati fase ini. Yuk belajar lagi!

Fase kedua adalah resolusi konflik serangan fisik. Tahapan ini biasanya mulai tampak pada anak usia 2-3 tahun. Melempar, membanting benda-benda di sekitarnya adalah salah satu tanda yang mudah kita kenali. Bisa juga kemudian dengan memukul, ataupun menggigit, menendang atau dengan serangan-serangan fisik lainnya yang terkadang tidak hanya membahayakan orang lain, namun juga dengan dirinya sendiri.

Pada manusia dewasa bila masih terjebak dalam fase ini akan menimbulkan kekerasan seperti KDRT, misalnya. Tawuran antar suporter sepak bola adalah contoh lainnya. Oleh karenanya, ketika ananda dalam fase ini, yang pertama kali harus dilakukan oleh orang tua adalah sigap mengamankan ananda agar tidak membahayakan diri dan orang lain. Setelahnya baru kemudian mencoba mengajak berbicara – meski dengan keterbatasan kosa kata – tentang kondisi yang sebenarnya terjadi. Tentu saja kesabaran harus diutamakan. Jangan sampai orang tua tersulut emosi juga.

Resolusi konflik verbal adalah fase yang ketiga. Fase ini terjadi ketika anak mulai mencerap banyak kosakata baru sehingga rasa keingintahuan tentang kosakata-kosakata baru tersebut seringkali diungkapkan dengan cara cara yang ekspresif dan berulang-ulang. Biasanya fase ini terjadi pada usia 4-5 tahun.

Setiap ada masalah, anak akan cenderung denial, menolak, menyangkal, dengan terus menerus menyampaikan argumen yang kadang kala tidak nyambung – wajar karena sesuai perkembangan logikanya. Namun bisa jadi keterusan dengan melakukan serangan-serangan verbal yang bisa jadi menyakiti lawan bicaranya – bullying.

Menyakiti secara verbal lebih membekas lama. Kita toh tentu tahu kata bijak, “lidah lebih tajam dari pisau belati.” Kalau perilaku tersebut berhadapan dengan orang dewasa yang tidak sabaran bisa berabe tuh anak. Bagaimana kita sebagai orang tua menyikapinya? Karena kemampuan berkomunikasi anak sudah mulai lancar, tentu mula-mula kita kenalkan dengan kosakata-kosakata yang baik yang sesuai dengan norma kesopanan di lingkungan kita.

Selanjutnya adalah membantu anak mengenali emosinya serta bagaimana menyikapnya – misalkan ketika sedang marah kita anjurkan untuk diam sampai tenang. Sehingga ketika anak marah atau minimal “kurang nyaman” anak bisa mengambil sikap yang tepat. Atau setidaknya aman buat semuanya. Tidak menyakiti siapapun.

Tahapan terakhir dari resolusi konflik, atau yang keempat, adalah resolusi konflik dengan bahasa – komunikasi. Nah, ini adalah level tertinggi yang harusnya dicapai oleh manusia dewasa. Sayangnya banyak diantara kita gagal mencapainya. Resolusi konflik dengan bahasa ini bisa dicapai pada anak usia 6 tahun. Ketika anak sudah mulai bisa mengkomunikasikan dengan baik apa yang dirasakan – dimauinya.

Tahapan ini bisa tercapai manakala anak cukup mendapat stimulasi kebahasaan yang tepat dan beragam sehingga anak mampu mengidentifikasi emosi, serta mampu mengungkapkan dengan artikulasi yang jelas dan terstruktur. Yang paling penting adalah adanya keteladanan atau role model dari orang tua dan lingkungan sekitar anak – dalam hal ini adalah pada kasus resolusi konflik. Anak perlu menyaksikan bahwa ayah dan bundanya dan orang-orang di sekitarnya mampu menerapkan resolusi konflik dalam fase ini. Tapi perlu diingat, mampu saja tidak cukup, harus konsisten. Sehingga input yang direkam anak pun konsisten.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi