Kolom Jamaah

Menggali Harta Tersirat di dalam Tersurat

old-letters-436503_1920

Catatan oleh : Yopi Delanuari

Sedikit geli menonton tivi, tiap hari diliputi informasi dekai (DKI). Dari Jokowi sampai basuki, dari kronologi reklamasi nganti kasus kopi. Belum lagi panggung padepokan kontroversi, aliran aliran, perpolitikan dan buanyaak lagi cerita cerita “inspiratif” yang bisa diangkat di negeri ini. Sepertinya bisnis pertelevisian kian hari kian cerah karena suplai bahan mentah yang namanya peristiwa bisa “ditambang” dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi produk berupa informasi.

Saya pernah berandai andai, seandainya di tempat manapun tidak ada peristiwa kriminalitas entah itu di lingkup politik, budaya, sosial masyarakat, pendidikan, agama, idiologi dan sebagainya, apakah televisi dan media media informasi akan gulung tikar? Atau mungkin menambah daya kreatifitas dengan liputan tentang keragaman Indonesia yang meliputi keunikan suku sukunya, kulinernya, usaha usaha lokalnya, pariwisatanya, permainan permainan anak tradisionalnya, yasinannya, kendurinya, gamelannya, mocopatnya, jaipongnya, kecaknya, dan lain lain.

Apakah bisa seperti itu keadaannya? Ataukah memang semua tragedi ini sebelumnya telah diskenario untuk memenuhi kebutuhan pasar media? Atau media itu merupakan alat yang telah ditunggangi untuk kepentingan pribadi? Biarlah pertanyaan pertanyaan tersebut sejenak menjadi file di pikiran kita masing masing atau biarlah menguap bersama asap polusi polusi kapitalisme dan liberalisme.

Kita lebih suka ditawari pancing atau ikan, itu tergantung pada poin tersirat yaitu jika yang kita terima pancing maka boleh jadi kita menggerutu sebab ikan lebih enak dipandang, dapat diolah dan dimakan, tetapi di sisi lain jika kita diberi ikan esoknya kita tak bisa makan ikan lagi sebab tak punya pancing untuk mencari ikan. Jika digali lebih dalam lagi pancing ternyata mampu menghidupi perekonomian keluarga misalnya dengan tangkapan ikan sehari hari kemudian budidaya ikan dan seterusnya. Posisi pancing dan ikan tersebut menjadi 2 poin tersurat. Tersurat kalau saya artikan sebagai sesuatu entah itu informasi, pengetahuan yang terlihat mata, tertulis di kertas, terucap di bibir, terdengar di telinga dan semua yang tertangkap oleh panca indera kita.

Sedangkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita itulah tersirat. Walaupun suatu tersirat akan menjadi surat tersurat bagi sirat tersirat berikutnya. Pada kitab suci, Tuhan berfirman : Alhamdulillahirobbil’alamiin,  (segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam) keberadaan firman Tuhan tersebut didalam pembukuan yang kita sebut kitab itu berposisi tersurat. Jadi menurut saya secara tersirat keberadaan Tuhan itu meliputi segala alam dan dimensi  ruang dan waktu.

Baik itu alam manusia, alam jin, setan, flora dan fauna semua tak lepas dari kendali dan pengawasan Tuhan. Oleh karena itu boleh tidak kita memposisikan nomor satu Tuhan di aktivitas kita seharihari? Tidak Cuma boleh , tetapi mau tidak mau Tuhan jelas terlibat di situasi dan kondisi apapun, la wong seluruh alam hingga semesta alam. Jadi ketika ada ungkapan “Tuhan ada dimana mana” lantas Tuhan ber staf staf wira wiri mengurusi jagad raya ini? Alam semesta inilah yang berada di dalam Tuhan bukan Tuhan berada di dalam alam semesta tentunya. Itu kira kira apa yang tersirat dari Al Fatihah ayat 1 versi saya. Ketika apa yang tersirat di pikiran kita lalu kita tuangkan dalam tulisan maka disebut tersurat, Dan seterusnya berkembang berangkairangkai.

Kebanyakan orang menganggap firman Tuhan hanya dituangkan dalam bentuk tulisan pada kitab. Saya yakin padahal Tuhan maha tersirat sebab ilmu kita berbanding terbalik dengan ilmu Tuhan , di luar jangkauan dan batasan pemikiran kita tentu semuanya siratan Tuhan yang belum dan mungkin mustahil kita bisa menggalinya. Sesungguhnya Tuhan memperkenankan diriNya menyapa hamba hambaNya melalui pepohonan, lautan, gunung gunung, dan alam raya ini bumi dan langit yang termuat di dalam firman yang tersurat.

Misal kita melakukan penelitian mengenai tanaman dan serangan hama, tak akan ada yang kita temukan kecuali batasan batasan ilmu kita untuk memahami, bahwa proses memahami objek sampai ke tingkat batasan itulah apa yang disebut firman yang tersirat, outputnya kita menemukan manfaat dari penelitiannya, menemukan solusi solusi mengatasi serangan hama dan seterusnya. Bahwa ada seorang penemu lantas menjadi angkuh lantaran dia bisa mengelola penemuannya padahal sesungguhnya dia baru menggali ilmu Tuhan yang tersirat tidak lebih dari setetes air dibanding lautan yang luas.

Pada kitab suci umat Islam sendiri banyak firman Tuhan yang jika dibaca dengan ilmu mainstream yang berlaku pasti membingungkan sebab firman Tuhan begitu musikal dan sastrawi dengan perumpamaan, pendekatan akal , perasaan, perbandingan yang sebetulnya  siapapun mampu memahamimya tinggal dengan akal yang objektif, pikiran jernih dan hati yang tertata.

Firman Tuhan yang komprehensif meliputi bagian yang tegas bahwa Tuhan menjadikan hukum hukum yang tegas tentang perintah dan larangan, ada yang pertimbangan untuk dimusyawarahkan, ada sejarah orang orang dahulu, ada peringatan , ada kegembiraan dengan sedikit candaan akan nikmat nikmat Nya. Lalu kebanyakan manusia tidak menggali suatu yang tersirat pada kalam ilahi ini dan langsung menerapkan pada kehidupan sehingga sedikit menyalahi perintah Tuhan untuk menggunakan akal supaya berfikir. Wong Tuhan saja menyuruh kita berfikir dengan firmanNya, kok kita gampang sekali percaya dengan berita berita yang beredar yang belum jelas asal usulnya?

Sedang tren kata kata penistaan agama yang menyangkut salah satu surat dalam Al Quran. Yang saya bingung ada orang bukan penganut Islam sehingga dia menyimpulkan sendiri apa yang tersirat pada suatu ayat menurut dirinya sendiri, langsung tumpah ruah kembang api menyala menyerang malam yang gelap. Mestinya cukup perwakilan atau tokoh satu atau dua orang yang mengingatkan kalaupun kelewatan. Sedangkan dimana mana terdapat pencurian struktural kenegaraan, pungutan tanpa hak, penindasan martabat secara halus apakah semua itu bukan penistaan kebenaran? Atau yang mencakup korupsi itu urusan KPK saja dan bukan urusan kita semua yang dirugikan struktural?

Apakah agama dan kebenaran itu 2 benda yang berbeda? Peta model bangsa kita sudah terbiasa dengan pencurian penipuan dan penindasan secara halus maupun tersirat melalui berbagai aturan aturan baru, kebijakan yang mengesankan dipandang mata namun mengiris hati dan martabat. Naskah sejarah otentik seolah hilang ditelan zaman, produk otentik Tuhan juga diposisikan sebagai identitas semata, bukan menjadi pedoman hidup secara rahmatan lil’alamin, sehingga jika ada identitas A mengatakan sesuatu tentang identitas B diluar pemahaman B maka sebagian orang B akan terjaga. Bahkan Tuhan sendiri menantang jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan firman firmannNya untuk membuktikan bahwa tak ada yang akan pernah bisa menandinginya atau merubah kesucian firman firmanNya.

Semoga kita diberi kekuatan oleh Tuhan untuk lebih mampu menggali firman Nya baik yang tersurat di tulisan maupun tersirat di alam dan pikiran serta hati kita yang diiringi hidayah berupa keadilan, objektifitas, sportivitas, kejernihan, keluasan, rasional dan ketidak sumbangan dalam nada.

Penulis bisa ditemui di : yopidelanuari@gmail.com