Menggali Simpanan Nilai, Menemukan Ketepatan Ekspresi Zaman

 

Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan, Selasa 15 Oktober 2019, yang bertempat di Taman Budaya Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Surabaya, berlangsung dalam suasana penuh kemesraan, kehangatan, dan kekhusyukan. Sebab, pada rutinan bulan ini pusat sinau bertempat tepat di pendopo utama Taman Budaya Cak durasim–yang biasa menjadi tempat rutinan pagelaran seni dan budaya Jawa Timur. Suasana mesra, hangat, dan khusyuk tersebut tetap kami ramu dalam setting panggung bernuansa Maiyah yang egaliter. Dengan membawa tema “Calling All #Z” yang sengaja kami khususkan untuk menyambut semangat juang dan pencarian generasi Z. Juga sebagai sangu bersama dalam keseimbangan laku, kedewasaan berpikir, wungu kesadaran, dan kristal pendalaman batin menyongsong masa depan.

 

Majelis diawali dengan nderes Surah Annaml oleh perwakilan salah satu jemaah, yang disambung dengan mewiridkan bersama “Wirid Akhir Zaman” yang dipandu oleh Cak Huda, dan dipungkasi bersalawat bersama untuk merayu cahaya syafaat Kanjeng Nabi Muhammad; itulah cara kita merayu kasih sayang Allah dan rasa tak tega hati Kanjeng Nabi kepada umatnya yang cinta kepada Allah dan Allah mencintainya. Semoga itu menjadikan diri kita lebih kuat ruh-jasad, hati, dan badan dalam tugas pengabdian menjalani hidup di dunia ini. Selanjutnya Sesi diskusi dipandu oleh Cak Amin dan Mas Yasin dengan meminta perwakilan jemaah yang termasuk generasi Z untuk menceritakan pengalamannya dalam bermaiyah dan menjalani hidup zaman now. Kejenakaan penyampaian jemaah yang maju juga jokes balasan dari Cak Amin menambah gerrr suasana.

Turut hadir pula grup musik akustik Risya and Friends yang kehadirannya membangkitkan semangat dan kegembiraan dalam menikmati kemesraan sinau bersama. Di tengah kemesraan kita dalam kegembiraan diskusi dan menikmati nomor-nomor dari Risya and Friends, Mas Sabrang, dan Kiai Muzammil hadir menemani kita yang disambut applause jamaah sebagai bukti rasa kangen jemaah kepada mereka dan tanda kesiapan untuk menyambut ilmu yang akan dipantik oleh beliau. Sebelum sesi diskusi dimulai, perwakilan Jemaah Maiyah Bangkalan hadir dan memohon izin atas gagasan lahirnya simpul baru di wilayah Bangkalan dengan nama “PaddhangAte”. Diskusi inti dilambari oleh Mas Acang dengan menyampaikan, “Ada masa yang tua-tua ini merasa tidak tahu apa-apa, karena percepatan teknologi yang pesat.”

 

Mas sabrang menyapa jemaah dengan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan karena telah menciptakan berbagai keunikan makhluk beserta keindahan perilakunya. Kita ini masih berada masa syok peradaban karena kita masih belum bisa bersikap dan menempatkan mudarat media sosial di tempat yang tepat. Kalau melihat fenomena generasi Z sebenarnya tidak berubah dari generasi sebelumnya. Hanya teknologi yang dikembangkan berbeda dari generasi sebelumnya sehingga terlihat baru. Yang perlu dipertahankan adalah nilai dari ekspresi nilai. Nilai yang akan bisa bertahan sebagai dasar ekspresi diri sesuai perkembangan zaman. Karena ekspresi diri adalah memilih tidak memproduksi. Yang menjadi berbeda sekarang karena ekspresi diri lebih mengarah pada memilih bukan memproduksi. Orang muda penuh potensi sedangkan orang tua penuh aktualisasi. Yang muda menang belajar, yang tua menang pengalaman. Pengalaman harus disertai dengan kemampuan mentransfer pengalamannya sebagai bahan belajar generasi muda.

Kiai muzammil juga urun ilmu dengan menyampaikan bahwa urusan manusia pada makna istikamah dan mustakim. Boleh sampean mengelap kaca mobil atau bekerja di angkringan asalkan melakukan sesuatu berdasar pada perilaku yang disukai Allah. Baik-buruk apa yang kita lakukan berasal dari menjalankan atau tidaknya amanat dari Allah. Seno sebagai salah satu perwakilan generasi Z malam itu mengungkapkan apa yang telah kita lakukan setelah datang Maiyahan adalah salah satu wujud kita menjalankan amanat Allah. Fenomena generasi Z bukan berasal dari dekonstruksi dari dirinya sendiri, melainkan dari hasil dekonstruksi dari generasi sebelumnya. Pesan Mas Sabrang kepada generasi gen Z, “Kita harus membuat ruang publik baru untuk memunculkan orang yang berkualitas, karena ruang publik kita selama ini lebih menyediakan orang yang populer dari orang yang capable. Dan menyumbang energi optimistis kepada seluruh jemaah sebagai sangu semangat esok hari bahwa kadang perjalanan tampak gelap. Yang membuat kita terus berjalan adalah keyakinan menemukan cahaya. Maka, kencangkan kuda-kudamu, asahlah pedangmu, persiapkan dirimu, dan ketika kesempatan telah tiba, mari kita ambil cahaya itu.”

 

Majelis diakhiri dengan bersalawat antal adhim bersama oleh Mas Hakam sebagai cara kita memohon kepada Kanjeng Nabi keberkahan ilmu yang mengalir dalam sinau dan kebersaman kita . Dan doa dipimpin oleh Kiai Muzammil dengan memohon kepada Allah cahaya hidup, kasih sayang, dan kebersamaan persaudaraan kita agar tetap istikamah menjaganya. Merupakan tradisi Maiyah bahwa setelah acara kita bersalaman bersama Mas Sabrang dan Kiai Muzammil untuk menautkan rasa persaudaraan kita agar semakin kuat dan persaudaraan kita terjalin sampai surga.

 

Surabaya, 16 Oktober 2019