Menghadirkan Dimensi Rasa dalam Tubuh Tulisan ( Catatan Workshop Kepenulisan, Mentoro, Jombang. 8-9 Juni 2017 )


Redaksi _
. Pelataran Ndalem Mentoro Jombang diramaikan oleh 50 peserta Workshop Kepenulisan yang diadakan kamis, 8-9 Juni 2017. Sejak pagi, para peserta workshop mulai mendatangi lokasi yang biasa digunakan untuk penyelenggaraan Maiyah Padhang mBulan. Sebagian panitia bahkan sudah bersiap di Mentoro sejak tanggal 7 malam. Koordinasi akhir dan pengecekan peralatan pendukung terus dilakukan demi menciptakan kelancaran acara.

Workshop Kepenulisan ini pada mulanya diinisiasi oleh Cak Nang dan Cak Yus. Bersama Bangbang Wetan dan Padhang mBulan, Redaksi Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ), dan Redaksi Caknun.com, kegiatan pelatihan kepenulisan tersebut berlangsung sukses. Selain sebagai pengisi kegiatan bulan Ramadhan, acara ini juga dimaksudkan untuk menguatkan kembali budaya menulis Jamaah Maiyah dan belajar dari Cak Nun sebagai sosok penulis yang masih sangat produktif karyanya.

Tepat pukul 13.00, beberapa peserta yang sudah datang siap untuk mengikuti pelatihan hari pertama. Tercatat 50 orang laki-laki dan perempuan melingkar bersama. Diawali ucapan selamat datang dan sambutan singkat, Mas Rio dari redaksi BMJ langsung membagi peserta yang datang dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang. Masing-masing kelompok menunjuk satu orang di dalamnya untuk menjadi juru bicara, memperkenalkan satu-persatu anggotanya. Metode ini ternyata sukses merekatkan kekeluargaan antar individu. Terlihat dari bagaimana mereka seksama mendengar dan merespon poin-poin perkenalan.

Dari sesi awal tergambar profil peserta workshop. Sebagian besar berusia antara 20-25 tahun. Latar belakang pekerjaan adalah pelajar, mahasiswa, guru, pegawai negeri, wirausaha, bahkan juga penulis novel. Domisili peserta yakni Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jombang, Blitar, Malang, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan Mas Affan Ebbo yang sengaja terbang dari Kupang – Nusa Tenggara. Beliau dulunya sempat mengikuti Padhang mBulan. Tetapi karena menetap di kampung halamannya, menuju ke Jombang untuk workshop ini sekaligus mengobati rasa kangennya akan kebersamaan saudara-saudara di Maiyah.

 

  • Menulis Itu Harus Diawali Kepekaan

Cak Yus yang saat itu ikut menyambut para peserta mengingatkan mereka mengenai pentingnya mengungkapkan sesuatu melalui tulisan yang baik. Beliau berharap agar para peserta mampu menggali sendiri muatan tulisan yang akan dibuat.. Tidak hanya copy-paste tetapi mampu meramu dengan kepekaan yang dimiliki. Penulis-penulis Maiyah diharapkan mampu mengisi kekosongan yang dialami dunia kepenulisan mainstream. Kekosongan yang dimaksud adalah kemalasan menggali informasi dan hilangnya kepekaan mereka atas lingkungan sekitar.

Bab kepekaan dalam kepenulisan juga diurai kembali oleh Mas Rio. Baginya, menulis  adalah salah satu proses menumbuhkan kepekaan. Kejelian menangkap peristiwa merupakan salah satu modal dasar yang harus dimiliki oleh penulis. Sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi sangat orisinal. Peserta juga diajak menemukan kesalahan-kesalahan yang sering dijumpai di sebuah tulisan. Identifikasi kesalahan kepenulisan ini penting pula sebagai koreksi kemampuan diri. Supaya mampu mengadakan perbaikan untuk tulisan-tulisan yang akan datang.

Sesi berikutnya para peserta didampingi Mas Prayogi dari redaksi BMJ. Beliau yang pernah menulis buku Spiritual Journey ini mengajak peserta untuk menilik kembali dirinya. Mas Prayogi menekankan bahwa setiap individu itu unik. Ada banyak sudut pandang terhadap satu kejadian atau fakta. Maka ketajaman yang lahir dari diri sendiri mesti digali. Dari pengetahuan atas diri sendiri, peserta workshop diajak untuk menemukan jenis tulisan seperti apa yang menyamankan mereka dalam proses menulis.

 

  • Menghadirkan Nuansa dalam Teks Tulisan

Jeda pukul lima sore di hari pertama dimanfaatkan para peserta untuk bersiap menjelang berbuka puasa hingga selesai tarawih. Segar setelah mengisi energi untuk tubuh, sesi workshop dilanjutkan bersama redaktur caknun.com. Satu video Cak Nun pada acara Forum Umar Kayam diputarkan. Para peserta diajak untuk menuliskan apa saja dari materi video itu. Usai tiga puluh menit, Mas Helmi dari redaksi caknun.com memberi pertanyaan: “Apa hal menarik yang anda temukan di video tadi?”

Peserta menjawab beragam, semua menceritakan apa saja yang diwejangkan oleh Cak Nun di momen dalam video bertajuk Denotasi – Konotasi. Mas Helmi kemudian mengungkapkan ada hal penting yang luput dari perhatian penulis, yakni Nuansa. Ketika semua perhatian tertuju pada apa yang disampaikan Cak Nun, tidak ada yang memperhatikan bagaimana beliau menyampaikan. Apa saja yang ada di sekitar beliau. Seperti apa keadaan pada saat acara berlangsung. Dan suasana di dalamnya.

Penangkapan para peserta atas nuansa dalam sebuah peristiwa masih belum terlihat jelas. Mas Helmi memaklumi hal ini karena tidak banyak yang bisa menulis dengan khas Maiyah. Ungkapan “Bad news is a good news.” sampai saat ini masih populer sebab sedikit orang mampu menemukan kebaikan di berbagai situasi. Sedangkan Maiyah sangat menekankan agar kita bisa menemukan sebanyak-banyaknya kebaikan dan menyajikan kebaikan itu dengan baik kepada orang lain.

Menangkap nuansa untuk dibubuhkan bersama sebuah tulisan adalah penting. Karena penyajiannya bisa memperkaya muatan naskah tertulis. Untuk tulisan berjenis News Item misalnya, mata pembaca tidak hanya kaku pada teks saja. Tetapi penulis harus bisa mengisahkan baik materi maupun suasana yang ada kepada pembaca. Sehingga dengan membaca tulisan tersebut, pembaca bisa diajak hadir dalam peristiwa yang diberitakan.

Mas Jamal dari caknun.com kemudian menambahkan, salah satu cara yang bisa dilakukan agar penulis bisa menghadirkan suasana adalah dengan metode ‘bertutur’. Maksudnya, tulisan seolah-olah menceritakan kepada pembaca sebagaimana seseorang mendengarkan orang lain bercerita. Dengan demikian penulis bisa mengoreksi lagi tulisannya dengan membaca ulang. Apakah alurnya sudah enak atau masih perlu dibenarkan lagi.

Kemampuan penulis untuk menuangkan nuansa dalam sebuah tulisan membantunya berkarya otentik. Dengan demikian pengetahuan seorang penulis mesti diperluas dan kepekaan rasanya ditingkatkan. “Penulis harus mampu berpikir asosiatif dan memahami sebab-akibat”. Demikian disampaikan Mas Saiful, kontributor caknun.com yang juga bergabung malam itu.

Meski padat materi, peserta masih menyala hingga sesi akhir hari pertama ditutup tengah malam. Mereka disilakan beristirahat hingga sahur di hari berikutnya.

 

  • Menulis Yang Baik Agar Bermanfaat Dengan Baik

Sesi pertama hari ke-dua, peserta workshop kembali didampingi redaktur caknun.com. Kali ini mereka diajak untuk evaluasi tulisan malam sebelumnya setelah melalui proses penyuntingan. Hal-hal lebih teknis terkait tata bahasa, alur, pemilihan diksi, konjungsi, hingga membangun kalimat efektif dijabarkan lebih detil. Kesalahan yang ditemui diperbaiki bersama untuk perbaikan tugas berikutnya.

Sebagai penulis, tata bahasa dan aturan-aturan kepenulisan juga wajib ditaati supaya tulisannya bisa dipertanggung-jawabkan. Oleh karena itu, pekerjaan menulis adalah sesuatu yang serius. Bukan sekadar mengungkapkan sesuatu secara spontan asal-asalan, seperti apa yang seringkali di-post melalui media sosial.

Hingga sesi terakhir para peserta terlihat semakin akrab satu sama lain. Pak Samsul, peserta paling senior, sempat mengajak semua untuk wirid Hasbunallah bersama. Beliau meski berumur 50 tahun lebih ternyata aktif dari awal hingga akhir. Buku catatan dan pena menemaninya mencatat segenap materi yang diberikan. Membaur dengan para peserta yang juga tak kalah antusiasnya. Sesi tanya jawab selalu diramaikan rasa ingin tahu mereka semua. Menulis ternyata butuh banyak modal intelektual. Juga butuh keluasan dan kedalaman rasa.

Pada momen tanya jawab pula para peserta sekaligus pemateri dibuat takjub dengan sosok Cak Nun dan tulisan-tulisannya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari beliau menulis di tengah jadwal yang padat. Tulisannya sangat berkualitas dan terkini. Tulisan yang hadir dari keseimbangan antara analisa data dan kepekaan rasa. Dari beliau semua belajar meramu warisan tekstual untuk masa depan.

Workshop Kepenulisan yang berlangsung dua hari kemarin terasa masih belum cukup untuk mencetak penulis handal. Namun sebenarnya bukan penulis yang ingin dihasilkan, tetapi mereka yang mau menulis untuk meninggalkan jejak-jejak kebaikan dan menebar kebermanfaat lebih luas lagi.  Red.vh/ht



GALERI WORKSHOP
 :