Oleh: Rio NS

 

Assalamualaikum, Aksana…

 

Hal pertama yang ingin kupastikan di awal adalah bahwa kau tak akan menyulitkanku dengan jawaban atas pertanyaan mengapa; Alasan di balik tiada pernah kukirimkan kabar dan apa gerangan yang melatari kutuliskan surat ini untukmu secara tetiba.

 

Benakku masih sulit membayangkan bagaimana rentang waktu satu tahun memisahkan suratku sebelumnya dengan catatan yang kutulis ini. Coretan impresi berisi sejumlah anasir yang masih melekat di lapisan antara otak dan hati, antara lingkar pengaruh dan lingkar peduli. Segenap ingat dengan mana hanya kau yang masih mau menjadi media tumpahan tiada batas akan penuh terisi.

 

Kandang ayamku telah terisi lagi. Masa lima bulan tanpa produksi sungguh berat bagiku dan keluarga. Seperti kau tahu, di kandang jauh sebelah timur kotaku itulah harap akan nafkah kami sandarkan. Peluang menjajakan face shield darimu tak banyak membantu karena komoditas itu datang saat orang mulai abai atas persebaran virus SARS-COV-2.

 

Tepung bumbu yang dititipkan Hate pun gagal kujual habis. Beberapa alasan penyebabnya biarlah kusederhanakan menjadi satu: keterdesakan tidak kunjung menajamkan naluriku untuk berbisnis. Rajutan pertemanan yang terus kujalin kubiarkan begitu saja dengan tanpa elevasi ke arah interaksi mutualisma dengan nilai finansial tertentu di dalamnya.

 

Kembali ke persoalan ternak ayam, jatuhnya harga ke titik tak terperi membuat perusahaan inti yang dengannya aku bermitra terpaksa menutup usaha. Susah payah aku mencari firma lain yang mau menerima plasma. Satu kondisi pemberatnya adalah pandemi yang menyeret pasar dan daya beli ke garis beku, hidup enggan mati tak mau.

 

Ketika surat ini kau baca, insya Allah aku sedang panen periode ke-tiga dengan mitra yang baru. Satu korporasi besar yang konon menjadi pemegang kunci perniagaan ayam dari hilir sampai ke hulu. Meski syarat untuk bergabung cukup berat, kuupayakan pemenuhannya dengan angka investasi nyaris separuh dari yang sudah kutanam di fase terdahulu. Hehehe…situasinya seperti pameo saat ku masih jadi karyawan bahwa kerja mumet ra kerja tambah ngelu.

 

Pembelajaran lain yang kudapatkan dari budi daya ayam adalah pengetahuan tentang ular!. Iya, ular dalam arti harfiahnya. Posisi kandangku yang dibatasi sungai kecil dengan sebidang tanah menurun (karena menyebutnya tebing teramat berlebihan), sawah di sisi utara dan tanah kosong bekas kebun Sengon di bagian selatan membuat ular-ular hidup nyaman, mencari mangsa dan meneruskan garis keturunan. Syukurlah, satu-satunya ABK yang kami tugaskan menjaga kandang penyuka hewan dan rajin menambah pengetahuan serta keterampilan handling binatang. Termasuk ular. Entah karena sifat kanibal atau makanannya memang sesama ular, mereka yang melata masuk ke area kerja kami hanya yang berbisa tinggi dan mematikan. Maksudku, mungkin yang bisanya tidak berbahaya sudah dimakan predator sesama ular. Tiga yang sempat dievakuasi adalah penyembur ulung Naja sputatrix, si belang Bungarus candidus, dan buntut merah Trimeresurus albolabris.*

 

Ular bagiku tidak terlalu menjadi ancaman yang begitu menakutkan. Sepanjang kita tidak menginjak, mengganggu atau sengaja menyerang, saat bertemu manusia, mereka pun cenderung menghindar. Ada spesies dari ordo dan genus lain yang keganasannya semakin tak terkalahkan. Sepanjang tahun kemarin, pranata sosial kebangsaan kita koyak moyak oleh keganasan bisa dan racun mereka.

 

Terhadap sekian ribu nyawa yang disikapi hanya sebagai angka, juga enam jiwa yang meregang di penghujung tahun, penanganan pandemi yang diawali dengan guyon receh–pengabaian, diskriminasi bagi tokoh kelompok tertentu dan pembubaran sebuah Ormas menjadi sebagian warna yang dominan. Masih bisa kutambahkan bagaimana bumi rela berkompromi dan menyembunyikan keberadaan Harun Masiku, semangat nepotisme yang disulut dan diperjuangkan melalui Pilkada, seorang pemimpin negara besar menemui dan mengunggah kebersamaannya dengan itik ketika ribuan generasi pemegang tampuk lanjutan negara menunjukkan sikap mereka terhadap Undang-undang Cilaka, tertangkapnya petinggi yang sial sekaligus sialan atas tuduhan korupsi, ayo Aksana, penuhi daftar panjang kaleidoskop nyeri dan segera karamnya kapal keIndonesiaan kita.

 

Terhadap invasi jutaan virus tak kasat mata, belum sanggup kita tunjukkan kedigdayaan sebagai manusia. Pengaturan lalu lintas orang antar lokasi-antar kota, pembatasan kegiatan, kewajiban mengenakan tameng muka dan anjuran membasuh tangan dengan sabun sesering mungkin menjadi petunjuk sedang terjadi krisis kepatuhan rakyat kepada pemimpin terpilihnya. Tampaknya ketakberdayaan dan ketakberdaulatan kita ada di garis terendah, Aksana. Lihat saja reaksi pengampu negara atas terungkapnya drone laut dan sejumlah warga asing di sebuah bandara. Semuanya berasal dari kawasan endemik Panda.

 

Keprihatinan atau lebih tepatnya kesedihanku bertambah melihat bagaimana Maha Guru kita mencoba mengajukan langkah strategis bagi kesembuhan negara kesatuan ini. Namun semua itu karam di keriuhan simpang siur kepentingan yang merajalela. Parahnya, banyak di antara kita yang merasa cukup dengan hanya berempati pada situasi batin beliau. Atau malah menyebarluaskan seruan internal di keluasan media sosial yang menurutku sangat tidak relevan, tidak perlu.

 

Baiklah Aksana, kuakhiri surat kesekianku. Hidup mesti kita lanjutkan. Apa-apa saja menyangkut yang di luar sana, kita letakkan di sebuah ruang data pembelajaran. Selebihnya, saling mendo’akan dan memberi semangat terus kita lakukan. Jeda keterlenaan beberapa bulan dengan buah kerisauan menjejakkan langkah kita lokalisir saja di suaka rasa. Tengok ia sesekali untuk memastikan betapa masih awamnya aku, kau, kita semua.

 

—oOo—

Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.

 

*Naja sputatrix: ular Kobra Jawa (Dumung)

*Bungarus candidus: ular Weling

*Trimeresurus albolabris: ular hijau berekor merah (Luwuk)