Oleh: Ibnu Raharjo

Perkenalkan, namanya Jon. Nama lengkapnya Jon Pakir. Umurnya kisaran 30an, masih tergolong muda. Profesinya asyik: bikin kopi. Kalau jaman sekarang orang mungkin memberinya julukan yang keren: Barista. Sungguh, itu bukan julukan yang berlebihan buat Jon. Ia adalah peracik kopi yang handal. Entah belajar dari mana Jon ini, kopi yang ia bikin selalu terasa pas bagi yang menikmatinya.

Kopi yang Jon suguhkan, aslinya rutin dinikmati oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya di era 80an. Saat itu Jon yang masih muda adalah redaktur harian Masa Kini. Ia kebagian tugas menyuguhkan secangkir kopi secara rutin buat pembaca surat kabar itu. Kopi yang dimaksud adalah tulisan ringkas, seperti sketsa. Kebanyakan bisa dibaca sekali duduk. Kalau Anda membaca satu tulisan Jon sembari merokok, kiranya akan rampung sebelum habis satu batang rokok.secangkir kopi jon parkir

Meski singkat, tak berarti sketsa Jon tak berbobot. Justru di situlah tampak kelebihan Jon. Ia piawai membikin racikan sehingga meski yang dibahas kebanyakan adalah hal-hal keseharian yang ringan, namun tulisannya tetaplah memiliki bobot. Dan sebaliknya, tatkala ia membawa tema yang tidak ringan, bahkan berat, ia sanggup menyajikannya ke hidangan pembaca sedemikian rupa sehingga mudah dicerna siapa saja. Apa penyebabnya? Tampaknya karena Jon bergelut total dengan tema yang ia olah. Ia menyelami persoalan-persoalan hidup masyarakat di mana ia hidup. Dan lebih dari itu, ia memiliki sikap yang jelas dalam memandang persoalan-persoalan orang banyak.

Dari sekian banyak tulisan yang tersaji, tentu ada satu dua yang nempel di hati. Cerita Jon berikut ini salah satu favorit saya. Syahdan kakaknya Jon sangat ingin menunaikan haji. Berbagai upaya halal sudah ditempuh, namun berkali-kali gagal. Pernah sang kakak ini berhasil mengumpulkan uang, namun seminggu sebelum mendaftar haji, tiba-tiba madrasah yang dibangun oleh ayah mereka ambruk. Walhasil sang kakak langsung menggunakan uangnya tadi untuk merenovasi madrasah.

Di kali lain, ketika uang ongkos naik haji siap, rupanya niat haji harus kembali tertunda karena masjid di dekat rumah harus pindah karena terkena pelebaran jalan. Pada kesempatan ketiga, uang telah terkumpul, namun sang kakak mendengar informasi bahwa banyak jejaka di desanya ingin nikah namun terkendala biaya. Akhirnya kakak Jon menggunakan uangnya tadi untuk melaksanakan nikah massal muda-mudi di balai desa. Masih ada satu cerita lagi ketika sang kakak kembali harus mengurungkan niatnya berangkat ke Makkah karena ia gunakan uangnya untuk membantu tetangganya yang memerlukan biaya rumah sakit akibat diseruduk truk gandeng.

Ketika Jon menanyakan kebenaran hal itu, kakaknya mengiyakan dan menjawab ringan “Aku bersyukur karena Allah yang Bijak selalu mempertemukan aku dengan kewajiban kifayah seperti ini. Mataku masih awas dan telingaku masih diberi lobang sehingga info-info dari tetangga cepat masuk”. Sungguh cerita yang luar biasa. Betapa cerita itu mengandung hikmah soal kesabaran, kerelaan, dan pengorbanan. Di antara cerita-cerita (maaf) klise tentang seseorang yang berlomba-lomba ingin berhaji, bahkan sampai berhutang.

Juga cerita orang yang berhaji  berkali-kali bahkan untuk memuaskan diri perlu menambahkannya dengan umroh di tengah masyarakat yang timpang kesejahteraannya, cerita kakak Jon di atas adalah butir permata yang berkilauan yang kita peroleh dengan cuma-cuma dan simpan untuk suri tauladan kehidupan.

Kisah-kisah yang dituang Jon dalam buku “Secangkir Kopi Jon Parkir” ini dipungut Jon dari pergaulannya yang intens dengan berbagai lapisan masyarakat. Jon berkisah tentang apa saja: tentang bagaimana beringasnya manusia terhadap sesamanya yang melakukan pencurian kecil (Pencuri Sepatu itu, Ya Allah), tentang keengganan manusia Indonesia belajar sejarah kecuali perihal kekuasaannya semata (Listrik Majapahit), kritik terhadap seruan azan yang kurang memperhatikan soal estetika (Azan dari Jauh), tentang pergaulan segitiga Allah-Muhammad-kita yang amat karib (Christ kepada Muhammad), tentang peran filsafat, ketahanan moral, dan nilai-nilai kejiwaan dalam membentuk orang kecil menjadi tangguh dan sanggup memanusiakan dirinya di tengah derita dan kemelaratan (Tuhan Yang Maha Jowo), dan puluhan tema lain.

Bercangkir-cangkir kopi dari Jon ini amatlah nikmat namun untuk mendapatkan sesuatu darinya akhirnya terpulang dari kita sendiri, seberapa jauh kita bersedia memungut keping-keping hikmah yang berserak. Jon tak kasih khotbah namun pembaca awam pun akan dengan mudah menangkap religiusitas dan penghayatan agama Jon yang mendalam dan tercermin dalam pembelaannya terhadap nilai-nilai mendasar dalam hidup. Jon sepintas tampak ndeso dan urakan namun mata polos tak dapat mengelak bahwa perkataan dan sikap Jon itu unik,  otentik dan konsisten.

Dengan keluasan topik yang dibicarakan, pembaca punya kebebasan untuk mulai nyruput kopi Jon ini dari mana. Dari depan asyik, dari tengah juga oke, dari belakang enak juga. Cuma ada satu masalahnya, Secangkir Kopi Jon Pakir ini lama hilang dari peredaran. Bukan apa-apa, ia terakhir dicetak oleh Mizan pada tahun 1990an. Ya mungkin masih bisa ditemukan di loakan kalau beruntung. Atau bisa coba berburu di lapak buku bekas online yang makin menjamur itu. Syukur-syukur kalau Penerbit Mizan, yang akhir-akhir ini kembali menerbitkan buku-buku lama Mbah Nun, tergerak untuk menghidangkan kembali sajian Jon Pakir ini ke khalayak pembaca seantero dunia. Semoga.

Oleh: Ibnu Raharjo
“Jape Methe Ngalam”

“Secangkir Kopi Jon Pakir”
Emha Ainun Nadjib
Penerbit Mizan, C1, 1992
395 halaman.