Kolom Jamaah

Menitipkan Barang dan Harapan – Romantika Kamar Kost Mahasiswa (1)

Kemlagen #29

Oleh: Samsul Huda

Mondok (nyantri di pondok pesantren) sambil sekolah atau sekolah sambil mondok? Dari keduanya, manakah yang menjadi niat utama dari santri dan wali santri zaman sekarang? Hingga era 80-an, niat orang mencari ilmu itu jelas. Kalau sekolah, ya sekolah. Kalau nyantri ya nyantri. Karena niat akan menjadi standart koreksi amal/pekerjaan seseorang dihadapan Allah Swt. Niat yang benar, dijalani dengan ikhlas, dan menerima apapun hasilnya dengan ridho merupakan elemen dasar dari hati yang mulia. Kalau niatnya baik maka baik pula amalnya. Sebaliknya, kalau niatnya rusak maka rusak pula amal atau pekerjaannya. Niat yang salah berpotensi menjadikan amal/pekerjaan seseorang menjadi sia-sia.

Nabi Muhammad saw. mengingatkan dengan sabdanya:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya sahnya amal/pekerjaan manusia itu ada pada niat. Sesungguhnya bagi setiap orang itu mendapatkan apa saja yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasulnya maka hijrahnya itu akan mendapatkan Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk mendapatkan dunia atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya itu akan mendapatkan apa yang ia hijrahi”. (Kitab Al-Arba’in Al-Nawawiyah).

Begitu pula apa yang saya alami di saat tahun pertama kuliah. Hampir setiap kali berangkat kuliah, saya membawa dagangan onde-onde untuk dijajakan. Kalau kuliah dimulai pagi, saya niat kuliah (mencari ilmu) sambil membawa dagangan untuk dijajakan setelah kuliah. Kalau kuliahnya siang, saya niat bekerja sambil kuliah. Berjualan dengan rute dari rumah juragan menuju kampus dan menitipkan dagangan di kamar kost atau rumah kontrakan teman saat tiba waktunya masuk kelas.

Tak jarang, kaleng onde-onde beserta isinya saya titipkan di warung langganan. Dari warung tempat saya biasa makan itu, saya berangkat kuliah. Di waktu lain, saya singgah dan istirahat di musala-musala dan masjid-masjid yang saya lewati sambil belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Tentu saja, bila tiba waktunya salat, saya saya ikut berjama’ah.

Tidak banyak teman yang mengetahui kalau setiap masuk kuliah saya membawa dagangan yang harus saya jajakan. Hanya teman tertentu yang mengerti dan saya singgahi rumah kostnya. Sebenarnya, tidak setiap hari saya singgah di rumah  kost teman, hanya ketika terpaksa. Hal ini disebabkan beban berat psikologis yang harus saya pikul. Di samping itu, saya juga harus menjaga perasaan teman.

Secara kejiwaan, masa-masa itu adalah fase hidup yang saya rasakan begitu lambat. Ini pasti disebabkan beratnya beban hidup yang berdampak pada kondisi mental. Secara lahir maupun batin, saya mengalami pembelajaran yang sangat keras. Kondisi itu berupa rentang jarak yang Jauh dari keluarga di Lamongan, menjalani kuliah sambil berjualan keliling kampung sebagai pedagang asongan. Hal yang saya lakukan setiap hari adalah menyemangati diri sendiri, menguatkan jiwa, dan badan saya sendiri Rasa malu, gengsi, dan putus asa sering menghampiri. Namun kesadaran untuk tetap kuat harus selalu saya tanam dan pupuk agar tumbuh subur kepercayan diri, kekuatan jiwa, semangat berusaha, dan kegigihan dalam meneruskan perjuangan hidup.

Membangun hubungan baik dengan teman-teman sesama mahasiswa terlebih teman seangkatan dan sejurusan adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Wajib hukumnya kalau mau lulus kuliah. Bagaimana tidak, tugas individu maupun kelompok harus diketik. Sementara itu, tidak banyak mahasiswa yang memilikinya–termasuk saya. Mesin tulis manual yang kini hanya bisa dilihat di museum itu masih menjadi barang langka dan mewah. Terlebih bagi saya yang lulusan pondok pesantren salaf di mana makna menulis adalah hanya dengan goresan pena. Belum pernah sekalipun memegang mesin ketik apalagi mengoperasikannya. Maka saat menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan pada tahun 1985, saya harus benar-benar berupaya keras agar bisa memenuhi semua persyaratan dan kelengkapannya. Alhamdulillah, do’a restu orang tua, kyai, dan guru serta saudara-saudara menjadikan itu semua satu cerita panjang yang bisa saya lalui.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *