Kolom Jamaah

Menjadi Delegasi Santri

Kemlagen #12

Oleh: Samsul Huda

Di antara pembaca ada yang masih ingat P4 lengkap dengan 36 butir-butir pengamalan Pancasila? Kalau tidak ingat, setidaknya pernahkah anda mendengar istilah itu ? Daripada berlama-lama dalam ketidakjelasan, ijinkan sedikit saya uraikan. P4 adalah singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Secara sederhana, P4 terdiri dari 36 butir-butir pengamalan Pancasila.

Di era 80-an, saat Orde Baru masih menjadi pemegang kendali pemerintahan,  ada kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk hafal Pancasila. Tidak sekedar hafal lima sila, kewajiban itu berlanjut hingga ke pemahaman penjabarannya yang tertuang ke dalam 36 butir pengamalan. Menyangkut hafal dan paham ini, Pemerintah membuat program sosialisasi dalam bentuk Penataran dan simulasi P4. Kedua program ini harus dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat sampai ke tingkatan RT dan semua jenjang persekolahan mulai SD/MI hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Semua orang diwajibkan memiliki sertifikat Penataran P4. Selembar kertas yang sangat dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan atau melamar kerja di instansi pemerintahan kala itu. Adapun simulasi P4 adalah semacam permainan yang melibatkan sejumlah orang (5-25 peserta)  dengan mengelilingi sebuah alat peraga.  Bukan sekedar dimainkan, simulasi ini juga dilombakan. Lingkupnya mulai dari tingkat RT, desa dan kecamatan, kabupaten, provinsi sampai Nasional.

Tahun 1983 saat kelas satu Madrasah Aliyah, saya dan kawan-kawan yang mewakili Pondok berhasil merebut juara 1 Simulasi P4 tingkat SMA se-kabupaten Mojokerto. Karena prestasi ini, kami dikirim untuk membawa nama Mojokerto ke jenjang perlombaan yang lebih tinggi di Gresik. Perlombaan ini lingkupnya adalah beberapa daerah tingkat 2 yang tergabung dalam wilayah Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan).

Lomba diadakan di gedung Auditorium Petrokimia Semen Gresik. Dari Mojokerto, kami diantar dengan mobil sejenis minibus berisikan saya dan teman-teman, beberapa guru dan sejumlah orang yang mungkin pejabat dari Kantor Departemen terkait. Kelompok kami memakai baju seragam batik yang diberikan beberapa hari sebelum keberangkatan serta sejumlah uang saku.

Sesampainya di gerbang kawasan pabrik,  kami dijemput dengan bus perusahaan  yang telah disediakan. Seusai lomba, istirahat dan makan, kami diantar oleh pihak PT Petrokimia berkeliling pabrik yang begitu besar dan megah. Sebelum meninggalkan tempat, kami mendapat bingkisan dan uang saku. 

Walau kami tidak berhasil merebut satu pun gelar, kami tetap bergembira dan bangga. Di sisi lain ada kekaguman tersendiri terhadap kemegahan pabrik Petrokimia.  Maklum, kami orang desa. Saya dan teman-teman adalah santri pondok pesantren, kaum sarungan. Di era 80-an ada pencitraan tertentu yang menjadikan anak-anak pesantren terkesan sangat “ndesit”, kampungan dan terbelakang.

Karena dalam perlombaan di Gresik itu  kami mewakili Kabupaten, maka kami harus menyiapkan diri dengan berlatih simulasi secara intensif. Latihan dilakukan setiap hari. Upaya ini sejalan dengan dawuh murobbi ruhi, KH. Zainul Arifin Arif pengasuh pondok pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon sekarang. Beliau sering menyampaikan pesan kepada para santrinya; “lomba iku gak lomboh, reek“, (ikut lomba itu tidak apa adanya atau asal ikut tanpa persiapan dan kesiapan diri yang matang).

Di Madrasah Aliyah, saya mempunyai seorang guru super yang serba bisa dan mumpuni untuk pelajaran umum. Penampilannya selalu rapi. Orangnya tampan, kebapakan. Murah senyum dan kalem. Saya bangga menjadi muridnya. Bapak Amin Malamy nama lengkapnya.

Saya tahu Napoleon Bonaparte karena beliau mengajar sejarah dunia, mengenal Empu Gandring dari ajaran beliau tentang sejarah Indonesia. Kronologi Perang Salib  karena beliau mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Gaya bahasa hiperbola karena beliau mengajar bahasa Indonesia. Beliaulah yang menunjukkan posisi Indonesia di sekian derajat bujur timur dan barat, lintang utara dan selatan ketika mengajar ilmu bumi. Bahkan hafal Panca Sila, UUD 1945 dan GBHN dari beliau saat mengajar PPKn. Beliaulah yang membimbing dan mempersiapkan kami menjadi duta Mojokerto untuk lomba simulasi tingkat wilayah di Petrokimia Gresik. Tiap hari kami latihan simulasi bersama beliau demi untuk menang karena lomba itu tidak “lomboh”.

Surat Al-Baqarah (2) Ayat 148

وَلِكُلٍّۢ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Beliaulah yang menemani kami mulai persiapan, latihan, pemberangkatan, pelaksanaan lomba sampai kembali ke pondok. Terima kasih Guru, terima kasih Ayah, Terima kasih Bapak. Engkaulah yang telah mengantar anak-anakmu menelusuri dan menemukan jati dirinya. Sehingga menjadi saya dan kami hari ini.

Semoga Allah Swt mengampuni dosa dan kesalahanmu. Menerima semua amal bakti kebaikanmu. Jariah ilmu dan nilai hidup darimu akan terus-menerus mengalir. Semoga aku bisa menapaki jejakmu yang baik dan indah. Aamiiin.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

One thought on “Menjadi Delegasi Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *