Oleh : Nafisatul Wakhidah

Kurang lebih 10 tahun lalu, di kala usia saya belum genap 17 tahun, saya pernah mengungsi hampir satu bulan lamanya karena erupsi Merapi 2010. Kami mengungsi di sebuah sekolah negeri di Muntilan, Magelang. Penduduk satu desa tidur dibawah satu atap dalam sebuah aula besar. Maklum daerah kami juga masih masuk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi.

Dalam momen luar biasa itu, seolah-olah tiada lagi hari esok. Merapi terus mengeluarkan abu hitam pekatnya dan ribuan kubik lahar dingin. Suara gemuruh dari gunung mewarnai tak peduli siang ataupun malam. Listrik di beberapa kabupaten dimatikan untuk menghindari hal berbahaya lainnya, hujan abu tak henti-henti dan jalanan serta tanaman penuh dengan guyuran material Merapi. Hati kecil saya cukup sedih melihat keadaan itu.

Di salah satu hari ketika kami sebagai pemuda-pemudi desa mengadakan sekolah darurat untuk adik-adik desa kami yang turut mengungsi. Datang pula bantuan dari beberapa mahasiswa Psikologi Undip. Radio-radio menyiarkan akan pencarian sukarelawan yang berlatar belakang kedokteran, keperawatan, maupun psikologi. Dalam hati saya sempat mbatin, “Ya Allah, semoga suatu saat nanti bisa menolong jika ada kondisi seperti ini lagi entah sebagai perawat, psikolog, maupun dokter.“ Karena waktu SMA itu saya masuk di jurusan IPS, jelas harapan untuk ke arah kedokteran ataupun keperawatan menjadi sebuah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Tak lama berselang saya diperjalankan Tuhan untuk masuk jurusan Psikologi di UIN Malang. Empat tahun pun usai dengan cepat. Pendek cerita tersebab lahirnya laboratorium pertama Psikologi ada di Jerman, maka saya pun berkeinginan untuk melanjutkan S2 di Jerman ini. Apalah daya setelah dua setengah tahun ternyata saya belum bisa masuk kuliah master di Psikologi juga. Malah dengan teramat “mudahnya” Tuhan memasukkan saya ke jurusan keperawatan di Jerman ini. Dalam hati saya sering sekali berkata, mungkin ini doa 10 tahun lalu yang baru dikabulkan Tuhan akhir-akhir ini. Maka dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk mempelajarinya.m, meskipun sejak kelas dua SMA sudah tidak belajar Biologi.

 

Jalan CintaMu

Tahun ini ialah tahun kedua saya belajar di jurusan Keperawatan, kebetulan pula di awal Maret 2020 ini saya di tempatkan di Chirurgische ambulanz, semacam unit gawat darurat (UGD) di sebuah rumah sakit di Negara bagian Baden-Württemberg, Jerman Selatan. Karena berkecimpung dengan dunia medis, saya cukup mengikuti berita-berita sejak awal meledaknya virus dari Wuhan, Covid-19.

Pada tanggal 24 Januari 2020, Prancis, Negara pertama di Benua Eropa melaporkan 3 kasus pasien terinfeksi virus ini. Tak lama kemudian pada tanggal 27 Januari, sebuah pertemuan bisnis Perusahaan Webasto di Starnberg yang dihadiri kolega dari China berujung pada positifnya 14 orang Jerman akan virus tersebut. Maka tindakan langsung diambil oleh pemerintah Negara bagian Bayern dengan mengarantina hingga 400 orang yang berinteraksi dengan para pasien itu. Karantina pun berlalu, tak terdengar lagi kasus positif dalam waktu dekat akan virus Corona di Jerman.

28 Januari Menteri Kesehatan Jerman, Jehn Spahn memberikan pujian kepada pemerintah negara bagian Bayern atas cepat tanggapnya terkait pasien positif terinfeksi Corona di Bayern. Selain itu ia juga menyatakan bahwa wabah virus Corona akan mencapai Jerman namun sesuai pernyataan lembaga Kesehatan Robert Koch Instituts (RKI) potensi bahayanya masih kecil bagi warga Jerman.

25 Februari 2020, kasus pasien positif terinfeksi pertama virus Corona di Negara bagian Baden- Württemberg. Dia berusia 25 tahun dan tinggal di daerah Göppingen, kemungkinan dirinya terkena saat sedang liburan di Milan, Italia. Selang beberapa jam Negara bagian NRW juga melaporkan kasus pertama pasien terinfeksi Corona. Di negara bagian ini juga tepatnya daerah Heinsberg menjadi pusat Episentrum Corona di Jerman, paska karnaval yang dihadiri 300 orang, berakhir pada dikarantinanya hampir 1000 orang disana.

Pimpinan Instituts für Virologie dari Charite Universitätsmedizin Berlin, Prof. Dr. Christian Dorsten pada 28 Februari 2020 memberikan hasil analisis yang cukup menggemparkan yakni hampir 60-70 persen dari 83 juta penduduk Jerman akan terinfeksi virus Corona. “Namun kita belum tahu kapan waktunya, kemungkinan itu bisa dalam waktu dua tahun atau bahkan lebih lama lagi“ .

Beliau merupakan Pakar Virus Jerman yang pada tahun 2003 lalu juga menemukan Virus Sars bersama peneliti lain. Saat ini hampir semua orang Jerman mengenal namanya. Analisis beliau tentang Virus Corona sangat membantu Pemerintah Jerman dalam mengambil keputusan untuk rakyatnya.

Tertanggal 9 April 2020, data aktual dari Johns Hopkins University & Medicine menyebutkan lebih dari 115.523 warga Jerman terinfeksi virus ini, dengan total kematian sebanyak 2451 dan 50.557 warga yang sembuh.

Deteksi dini disini memiliki peran sangat penting dalam memperlambat penyebaran Virus Corona. Setiap orang di Jerman diwajibkan untuk memiliki asuransi kesehatan baik yang umum ataupun privat. Contohnya saya menggunakan Asuransi DAK, rata-rata tiap bulan diharuskan membayar sekitar 80 hingga 100 euro. Dengan asuransi ini kita mendapatkan banyak kemudahan seperti setiap orang harus memiliki Hausarzt (Dokter Rumah) atau bisa diartikan jadi dokter pribadi kita. Jadi setiap kita sakit rujukan pertama ialah memeriksakan diri ke dokter tersebut. Sedang jika kita memerlukan perawatan lanjutan seperti periksa di rumah sakit dan segala tindakan lanjutan bisa di überweisung atau diberikan surat pengantar dari sini. Pun jika tiba-tiba kita mengalami kecelakaan lalu harus perawatan di RS dan rawat inap juga tidak perlu membayar lagi. Kecuali tindakan-tindakan pemeriksaan lanjutan yang tidak ditanggung oleh Krankenkasse (Lembaga yang mengurus asuransi kesehatan, menentukan perawatan mana yang ditanggung dan tidak biayanya).

Dalam masa krisis karena virus Corona ini orang-orang yang dalam 14 hari baru pulang dari daerah beresiko terkena Corona juga bisa langsung telfon ke Hausarzt dan akan dilakukan pengetesan gratis. Ada juga yang setelah mendapat persetujuan dari Hausarzt langsung bisa di tes Corona di Drive Thru atau Rumah sakit. Pengetesan laboratorium sebenarnya selesai dalam lima jam, namun faktor transportasilah yang membuat hasilnya tidak langsung dapat diketahui harus menunggu satu hari. Jika diketahui hasilnya positif, Gesundheitsamt (Dinkes) akan menginfokan via telefon dan jika tidak dalam kondisi kritis pasien bisa melakukan Ambulanz-Quarantäne (Karantina di Rumah selama 14 hari) dan menunggu hasil pemeriksaan akhir sampai dinyatakan sembuh.

Jadi, meskipun misalnya di Negara bagian Baden Württemberg yang dinyatakan positif sudah lebih dari 2000 an orang, kebanyakan mereka cukup melakukan isolasi diri. Sehingga Rumah Sakit yang memang kapasitasnya terbatas bisa mempersiapkan diri untuk perawatan pasien Covid 19.

Sejak Pemerintah Federal Jerman menghidupkan alarm Kebencanaan Pandemi maka diberlakukanlah Penutupan Batas Negara bagi orang yang tak berkepentingan. Menutup segala macam tempat orang berkumpul dalam hal ini segala acara seperti sepakbola, Hannover Mess, ITB Berlin, hingga UEFA, Klub Malam, tempat bermain, Sekolah, Universität, Mall dll. Dan yang tak kalah penting update data setiap harinya dari tingkat Negara hingga daerah kota. Menjamin ketersediaan pangan dan mendukung berjalannya proses belajar mengajar online.

 

Suasana disekitar tempat tinggal penulis

 

Dari pihak Rumah Sakit tempat saya bekerja misalnya mulai menunda segala macam jadwal Operasi yang sifatnya tidak darurat dan dialihkan ke bulan Mei, Pasien yang sudah cukup sembuh disegerakan untuk dipulangkan ke rumah sehingga ruangan bisa dipersiapkan untuk penanganan pasien Covid-19. Koordinasi via video conference setiap hari. Mulai membagi jadwal dan mengurangi jam kerja untuk persiapan nanti ketika Pasien Covid-19 mulai kondisi kritis. Pemerintah mulai mendata tenaga-tenaga medis yang baru pensiun dua hingga tiga tahun terakhir, mahasiswa kedokteran dan keperawatan tingkat akhir untuk siaga ketika setiap saat dibutuhkan. Memperbarui semua nomer telefon aktif tenaga medis. Kebetulan juga rumah sakit saya memiliki dua bangunan utama di dua kota yang berbeda, sehingga satu bangunan rumah sakit sebagi pusat penanganan pasien Covid-19 dan bangunan lain untuk menangani keadaan darurat selain covid-19.

 

Positif Corona

27 Maret lalu, seorang kolega mengajak saya untuk melakukan Tes Swab PCR, karena baru-baru ini ada seorang dokter ahli bedah yang sempat bertugas dalam satu bangsal yang sudah dikonfirmasi positif terkena virus corona. Keadaan beliau cukup serius karena dalam beberapa hari kondisi kesehatan menurun sehingga memerlukan bantuan alat pernafasan (ventilator).

Saya pun mengiyakan ajakan itu, karena jauh-jauh hari sebelumnya saya sempat membatin bahwa kemungkinan akan terkena virus ini pun sangat besar karena bekerja di rumah sakit. Sehingga terkena atau tidak itu hanya semacam soal waktu saja. Hal ini juga tak lain sebagai bentuk kewaspadaan dan kerendahan hati, bukan sebagai bentuk kekhawatiran yang irasional.

Tiga hari berselang, akhirnya pada tanggal 30 Maret pagi hasil pun keluar dan ternyata saya dinyatakan positif terkena virus ini. Awalnya saya tidak merasa suatu kejanggalan yang berarti, apalagi memang cuaca tak menentu antara musim dingin dan musim semi. Tanggal 20an Maret itu jika malam hari suhu terasa bahkan hingga minus 13 derajat, siang hari juga kadang mencapai 14 derajat. Namun setelah diingat-ingat ada beberapa tanda yang mungkin sempat menghampiri.

Dua hari berturut-turut sebelum tanggal 27 maret 2020 saya sempat muntah. Hari-hari sebelumnya sempat demam meskipun tidak berskala berat. Mulai dihitung demam ketika suhu tubuh sudah diatas 37,5 derajat celcius. Hal lain yang sempat terjadi mungkin ketika tubuhnya merasakan cepat sekali lelah meskipun sebenarnya bekerja normal seperti biasanya.

Menurut sumber dari Robert Koch Institut (RKI), semacam lembaga resmi independen penelitian dan kesehatan di Jerman gejala terbanyak dari pasien positif corona seperti demam tinggi, batuk kering, keletihan, keluarnya dahak (apabila berwarna mencolok atau kuning misalnya wajib diwaspadai), sesak nafas, nyeri saat mengunyah dan nyeri di rahang, timbulnya gangguan pada indra penciuman dan perasa, sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, hidung tersumbat dan diare.

Setelah saya dinyatakan positif, orang pertama yang saya infokan adalah Bapak Guru saya di Malang, dr. Christyaji I, SpEM. Karena beliau sendiri juga spesialis emergensi dan bertugas di UGD RSAA Saiful Anwar, Malang. Diantara pertimbangannya, saya tidak ingin membuat orang tua saya di desa khawatir dan berpikiran macam-macam karena pengaruh media memang sangat luar biasa di era ini. Menurut Bapak Guru di sini ada pertimbangan Kedokteran Individu, Kedokteran Komunitas dan Keilmuan Psikologi. Ketika sakit, maka hal pertama yang dilakukan adalah primum non nocere (Pertama-tama jangan menambah masalah).

Meskipun sudah sarjana Psikologi dan sedang menggeluti dunia keperawatan, ternyata menerima diagnosa positif corona ini memang tidaklah mudah. Ada banyak tanya dibelakang kepala terhadap penyakit yang cukup riskan ini jika menyerang orang dengan imunitas lemah ataupun sebelumnya memiliki riwayat sakit pada jantung, paru-paru, diabetes dll. Namun, Alhamdulillah, kondisi sampai saat ini stabil. Berkah dari doa dulur-dulur, dari Mbah Nun dan rahmat serta kasih sayangNya, saya masih bisa menyelesaikan tulisan ini meskipun belum keluar dari masa karantina 14 hari.

Diantara saran yang bisa dicoba ketika terkena virus ini yakni pertama menenangkan diri, menerima iradahNya, mulai menguatkan diri dengan mengonsumsi makanan sehat seperti banyak makan buah, sayur dan minum. Termasuk juga kecukupan vitamin C dan doa meminta kemurahan hatiNya untuk menolong kita dalam melewati ujian ini.

Ada sisi lain dari pengalaman empiris yang saya jalani di negeri orang. Pengalaman sekaligus pembelajaran yang nampaknya sedikit saja orang bisa mendapatkannya. Sebagai bagian dari yang di Indonesia disebut sebagai garda depan, saya melihat secara langsung bagaimana Protap kegawatdaruratan dijalankan. Komitmen semua pihak dan ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada sangat mendukungnya.

Pada saat yang sama, sebagai pasien, saya menghayati dan menemukan apa-apa yang ditulis Mbah Nun dalam sekuel Khasanah. Diantaranya adalah bahwa pada atau terkait Corona terdapat puluhan aspek penyerta berupa peluang untuk terus belajar, mengenal Tuhan melalui pemahaman diri sendiri, sudut pandang kesehatan dan anatomi rasa takut yang sunguh human being, ada di setiap manusia.

 

Penulis adalah Jamaah Maiyah yang sedang diperjalankan di Jerman.