Oleh : Mery Yulikuntari

Suatu ketika saking terfokusnya dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan, kewaspadaan seorang gadis menumpul. Dia Asyik mengerjakan tugas dan menghiraukan angka-angka penunjuk waktu di smartphone. Dia pun tak tahu kapan terakhir dia bersiap-siap untuk tidur. Mungkin saja malam itu telah lewat tengah malam. Tugas yang semalam dia kerjakan belum selesai sempurna sehingga harus melanjutkan lagi sampai pada waktu yang seharusnya dia gunakan untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya di pagi hari. Setelah melayangkan tugas tersebut, dia pun bergegas mandi dan bersiap-siap. Kemudian ketika dia harus mengeluarkan kendaraannya dari rumah, dia terkejut karena tempat itu kosong. Percaya atau tidak bahwa detik itu hatinya hampir runtuh, karena mengingat kendaraan itu pemberian orangtua dan bingung mau langsung menerima atau tidak.

Apabila kehilangan barang yang kecil dan tidak ada sangkut pautnya dengan orangtua,  itu akan mudah untuk diterima. Namun, apabila barangnya terlihat jelas dan kelihatannya berharga serta memiliki keterpautan dengan orangtua, ini akan menjadi akhir kehidupan. Tamat sudah!!! Jadi bukan hanya tanggung jawab terhadap barang yang semula ada lalu tidak ada. Ketiadaan barang itu sebenarnya tidak mengurangi fungsi kemanusiaan kita, hanya saja adanya tanggung jawab kepada orangtua itu yang dikhawatirkan.

Setelah kejadian itu dia penasaran, bagaimana seorang mengambilnya dari rumah. Dia melangkah mendekati pintu dan membukanya. Dia terkejut, lagi-lagi ketidakjelasan antara harus bersyukur atau mengumpati diri sendiri. Bagaimana bisa dirinya seteledor itu membiarkan kendaraan yang dapat menjadi sasaran empuk orang lain untuk membawanya. Ketidaksadarannya dimulai pukul 10.00 malam sampai 08.00 pagi. Waktu yang sekian lama, apa yang membuat kendaraan itu tetap berada di situ dan sejauh penglihatannya tidak ada yang berubah ataupun berpindah. Akhirnya pikiran pun melayang. Apa jenis motor-motor semacam ini tidak laku di pasarannya. Pikirannya ngglambyar ke mana-mana. Namun di sisi lain, ini adalah kebersyukuran luar biasa. Dia merasa alam sedang berkonspirasi menjaga sesuatu yang dia punya.

Kendaraan pun dipanasi sembari dia duduk semlengeran karena beberapa detik lalu perasaanya terguncang. Pikirannya dibiarkan berkeliaran jauh ke mana pun dia inginkan. Ngerasani Gusti Allah, apa hal yang telah dilakukan sampai kali ini Tuhan menjaga kendaraan itu. Apakah ini berhubungan dengan aktivitas sosialnya? Karena di sisi lain dia memang sedang mengistiqomahkan   menjaga suatu hal di dalam masyarakat. Menurutnya ini sebagai prasangka positif dan  dijadikan tadabbur alam. Bahwa seteledor kamu, bila Tuhan tidak menghendaki pun tidak akan terjadi apa yang ditakutkan oleh manusia. Namun, hal ini tidak membuatnya lantas senang. Malah, dia harus berwaspada dua kali lipat. Bahkan hingga berkali-kali lipat dengan kepadatan aktivitas yang sedang menjamah pemuda milenial itu.

Untuk menemukan momen-momen semacam ini dia harus  berpikir meluas, tidak henti-hentinya dan  itu tidak bisa disengaja. Di antara ruang, waktu, dan situasi akan beriringan pula momentum. Momentum hanya bisa ditunggu, diharapkan, dan dalam keadaan sadar.

Berselancar di dunia kekinian

Momentum memang perlu diharapkan namun juga tak hanya menunggu dia datang saja. Jemput dengan tidak berhenti bergerak setiap hari. Entah apa saja yang bisa diperbuat, asalkan itu membuat tubuhmu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara berkala dan tidak membiarkannya stagnan pada satu tempat. Menurut seorang guru bahwa hidup itu tidak berhenti pada tahap tumbuh dan kembang saja. Bila dicermati kembali, tidak adil menggunakan bahasa tumbuhan pada perkembangan manusia. Padahal setelah tumbuh, kembang, berbuah, terjadi proses pembusukan, mati, proses pembenihan kembali dan siklus ini terus berulang.

Setiap fase kehidupan memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Maka, bila merasa tugas belajar hanya sampai lulus sekolah saja atau lulus perguruan tinggi, apa artinya bagi mereka yang tidak pernah mengenyam dunia sekolah. Terus apa mereka tidak belajar. Manusia setiap hari belajar dalam memahami area sekitar mereka untuk bertahan hidup. Mengapa harus bertahan hidup? Tak lain untuk memperpanjang kehidupan di dunia. Secara alamiah manusia akan cenderung untuk memilih memertahankan kehidupannya dan menghalau segala rintangan. Kembali pada topik yang tidak pernah mengenyam dunia sekolah. Apakah mereka tidak dididik? Tentu saja tetap dididik. Mereka punya orangtua yang mengajari bahasa ibu, diajari bagaimana hidup di lingkungan sosial, bagaimana bersikap dengan orang tua, masyarakat, dan bahkan bagaimana memahami dan menjaga alam tetap pada tatarannya. Masuk pada tahap selanjutnya bagaimana bertahan hidup, menganalisis kondisi sosial dan peluang yang bisa dikerjakan. Itu tak pernah luput dari perhatian orangtua kepada anak-anaknya. Sampai kapanpun, belajar bukanlah sebuah tuntutan melainkan kebutuhan dan proses kenikmatan.

Bagaimana belajar bisa diartikan  proses kenikmatan? Ada sebuah cerita dari seorang guru yang lain lagi. Ketika itu temannya yang sudah lulus dari sarjana di luar negeri pulang untuk melamar seorang wanita yang sangat ia cintai. Dia mempersiapkan segala cara untuk melamar termasuk mengundang semua sahabatnya. Mereka mengadakan rapat untuk membuat strategi-strategi pelamaran serta persiapan apa saja bila ditolak. Ada plan A, plan B, sampai plan C.  Setelah hari H yang ditentukan tiba, dia pergi menemui ayah dari sang pujaan hati. Dia mulai memperkenalkan diri dan sesuai dengan persiapan dia sanggup menyampaikan maksud dengan baik. Namun, apa yang terjadi. Dia diterima begitu saja oleh ayah sang pujaan hati. Sang ayah mempersilakannya untuk bertanya langsung kepada anaknya. Apakah mereka berdua sama-sama saling suka? Dia pun merasa glethek (gitu saja). Mengingat persiapannya sebegitu besar yang menjadi alasan dia terburu-buru pulang ke tanah air karena ingin segera melamar wanita yang ia cintai sehingga dia membuat berbagai macam strategi.

Hidup memang terkadang seperti itu, usaha-usaha kecil yang konsisten dilakukan ternyata telah membangun mimpi itu untuk menjadi kenyataan. Dan pada saatnya tiba, maka kamu akan terkejut karena itu terjadi begitu saja. Beda rasanya ketika masih “proses” mendapatkan dengan “telah” mendapatkan. Seperti itulah belajar dapat disebut proses kenikmatan. Dalam proses itu berbagai hal ditemui, dirasakan, diraba, ditelan, dicerna lalu diolah. Kadang juga senang kadang juga apes.  Perlu kebijaksanaan yang tinggi untuk memahami dan menerima keadaan suka dan duka. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di hadapan manusia yang berperasaan, keadaan berbeda dapat menyebabkan nggumun bahkan panic atau shock.

Jika dengan kesadaran manusia memilih untuk belajar terus dan menjadikan belajar menjadi kebutuhanya, mungkin hidupnya tidak akan sulit.

Mery Yulikuntari : Berkelana dalam hutan belantara , Jatuh dalam kubangan tak berkesudahan, Sehingga membuat diri terus belajar menjaga kesadaran. Gadis asal Kediri yang masih tersangkut di Malang sampai saat ini.