Menulis itu Melukis Kenyataan

” Menulis itu sebenarnya merupakan salah satu peran kenabian “annaba”, bahwa setiap penulis punya peran sebagai pembawa kabar dari Tuhan. Bisa saja, semakin sering nengabarkan berita dari Tuhan, Asalkan bukan kebencian, hoaks dan permusuhan, semakin berkah hidup kita…dan mumpung ramadhan, menulislah… ” 

Beberapa waktu terakhir, seorang kawan baik meminta saya menulis di salah satu web official suatu perkumpulan,  sebagai bagian dari perjuangan literasi katanya. Ah…saya merasa bagaimana gitu..hahahaha..

Ketika diam-diam saya coba, ah…betapa sangat sulit saya tuangkan ide atau pokok pikiran dalam kepala saya. Jangankan merangkai kata, menulis status di beranda sosial saja tak mampu. Saya punya kelemahan salah satunya kurang mampu mengungkapkan kegelisahan pikiran. Dan itu sebenarnya mungkin bentuk dari rasa tidak percaya diri, saya paling takut menggurui, atau malah nanti lebih terlihat bodoh karena ide-ide saya dan apa yg saya tulis. Kalau hanya dicibir, diremehkan itu mungkin sudah otomatis dan biasah….hahaha.

Tapi baiklah, demi niat baik..kali ini saya mencoba dengan sekuat tenaga…

 

  • Menulis kenyataan

Pada momentum tertentu, karena beberapa sebab, saya dan beberapa kawan sepermainan setiap bulan mengelola sebuah majalah perkumpulan sosial “khusus”, kemudian bisa disebut juga sebagai perkumpulan pergerakan, atau ada yg menyebutnya sebagai gerbong kemesraaan dan cinta, dengan beberapa tag line-nya, misalnya ; terang dalam kegelapan, menata hati menjernihkan pikiran, kaya dalam kemiskinan, teruslah menanam dan berkebun kebaikan, dan lain sebagainya.

Keterlibatan kami, atau saya khususnya pada kesibukan tersebut, menurut salah satu sesepuh perkumpulan yg saya hormati, lebih karena sebab utama “diperjalankan”, artinya bukan kita pada posisi yg bisa dan mampu melakukan, tetapi lebih karena keikhlasan dan setia pada proses menjalani tanggung jawab. Dan yg terpenting kesediaan untuk belajar terus menerus, mengeja a,b,c,d… kehidupan ala dan semampu kita.

Ketika pada saat mempersiapkan pengumpulan naskah dan penerbitan, pada saat itu pula saya selalu merasa takjub dengan apa yg saya alami dan saya rasakan. Bersama, kami berusaha saling mengisi dan menyediakan diri mengambil peran dan apa yg harus dilakukan. Utamanya kepada para penulis, redaksi, dan terlebih pada para guru, orang tua  yg bersedia mencurahkan pokok pikiran dan merangkainya dengan begitu baik dan indah menjadi satu naskah yg siap kami terbitkan.

Oh, ya..melalui satu perjalanan yg cukup panjang, dengan tanpa kenal lelah…bahkan majalah ini pernah punya tagline “terbit ketika waktunya terbit” yg artinya kalau tidak terbit karena satu atau beberapa sebab berarti memang belum waktunya terbit, dan syukur alhamdulillah, beberapa tahun terakhir kita berusaha selalu terbit pada waktunya.

 

  • Dunia menulis, dunia  berkah

Dulu, Saya pernah diam-diam punya keyakinan, kalau setiap saat kita mampu menulis dan menuangkan ide-ide pikiran kita yg baik. Maka otomatis akan melatih kontruksi cara berpikir kita menjadi lebih baik, sehingga mempengaruhi kehidupan pribadi kita di dunia nyata. Otomatis kalau kontruksi cara berpikir kita benar, maka hidup lebih benar…”baca”- lancar kata kawan saya…hahahaha.

Itu dulu dan keyakinan saya diam-diam. Kenyataannya mungkin bisa iya juga bisa tidak…tidak perlu menjadi persoalan. Tapi kalau boleh saya simpulkan korelasinya, menurut seorang penjalan sunyi, yg sangat saya hormati dan saya kagumi…”menulis itu sebenarnya merupakan salah satu peran kenabian “annaba”, bahwa setiap penulis punya peran sebagai pembawa kabar dari Tuhan. Bisa saja, semakin sering nengabarkan berita dari Tuhan, Asalkan bukan kebencian, hoaks dan permusuhan, semakin berkah hidup kita…dan mumpung ramadhan, menulislah…

Salam .

 

 

Oleh : Muhammad Ahid Anfal 

Penggiat jamaah BangbangWetan / PimRed sebuah majalah komunitas . Bisa disapa di fb : M Ahid Anfal