Kolom Jamaah

Menulis: Sebuah Usaha Kecil yang Bermanfaat Besar

Oleh: Ryan Anjasmara

(Refleksi BangbangWetan Mei 2022: Kapan Datang, Engkau Menjelang)

Majelis BangbangWetan, 30 Mei 2022, adalah majelis pertama saya. Biasanya saya mengikuti Maiyahan hanya yang dekat dengan daerah tempat tinggal saya, yaitu: Malang. Walau sesekali ikut hadir juga pada Padhangmbulan di Jombang dan Mocopat Syafaat di Jogja.

Kemarin, saya sangat tersentak dengan kata-kata Mas Sabrang yaitu tentang literasi. Terutama tentang menulis segala sesuatu, minimal dari apa yang kita dengar karena menulis akan memperpanjang usia ide dan juga kita bisa mengutarakan ide kita sendiri. Berbekal pernah melihat Habib Novel mempraktikkan ilmu tersebut–yang juga sempat viral–saat mengikuti pengajian Buya Yahya dalam pengajian ilwu tasawuf, dari situlah saya memutuskan untuk menulis. 

Menurut KBBI, salah satu definisi dari literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Tetapi literasi adalah hal yang sangat dinamis dan kompleks. Dewasa ini sangat sulit untuk menemukan orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Saat orang bisa membaca, maka orang itu terbuka atas khasanah banyak ide yang pernah dituliskan. Saat orang bisa membaca, maka orang tersebut dapat memahami ide-ide dari orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu.

Usaha kecil yang memiliki manfaat besar. Belajar satu tahun tetapi dapat dipakai seumur hidup. Beberapa orang dalam sejarah kita pernah menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kalimat diatas ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, salah seorang penulis hebat yang pernah dimiliki Indonesia.

Sayangnya, budaya literasi kita kebanyakan adalah membaca dan jarang sekali didorong untuk menulis. Padahal banyak sekali ilmu-ilmu yang sekarang kita kenal dengan nama ilmu titenyang sangat bagus dan kalau kita menggalinya lebih dalam, mungkin kita bisa menemukan samudra ilmu yang sangat luas. Sayangnya nenek moyang kita lebih memilih menikmati hidup dengan sangat sedikit menulis. Ide-ide nenek moyang kita yang tidak pernah ditulis dan hanya mengandalkan ilmu titen akan tergerus zaman, bahkan mengalami distorsi maksud dan tujuan karena diturunkan lewat kata-kata saja tanpa ditulis.

Sebenarnya menulis adalah memperpanjang ide seseorang karena jatah hidup setiap manusia memiliki limitasi, maka menitipkan ide dan gagasan di tempat yang memiliki jangka hidup lebih lama akan sangat fundamental sekali yaitu dengan menulis, entah itu menulis di prasasti, buku, dan lain-lain tergantung teknologi di masing-masing zaman.

Seperti halnya tidak ada keharusan untuk mengingat masa lalu. Namun, menurut Mas Sabrang manfaat mengingat masa lalu adalah untuk mengingat perubahan kita bagaimana dan apakah ada yang perlu dibongkar dari masa lalu. Mungkin sudah waktunya masa-masa menikmati hidup harus sedikit kita ubah sehingga nantinya kita bisa memberi sumbangsih lebih besar kepada dunia lewat sejarah nenek moyang kita yang panjang. Yaa, walapun kita sudah menderita lewat gempuran-gempuran teknologi yang kian masif ini. Tetapi, bukankah hidup adalah rangkaian penderitaan, maka pilihlah penderitaan yang baik.

Kemajuan teknologi yang begitu masif menjadikan sekarang bukan lagi zamannya menimba ilmu, karena ilmu yang hadir sudah seperti hujan deras. Tugas kita hanya memfilter ilmu yang ada, hal itu bertujuan agar kita memiliki tujuan karena waktu dan energi kita yang terbatas. Minimal kita isi gelas dengan ilmu yang kita tertarik didalamnya, karena yang gampang masuk kedalam pikiran kita dan gampang diingat adalah apa yang berguna bagi diri kita saja. Kosongkan gelas ketika kita mendapatkan ilmu, tetapi jangan lupa minum isi gelasnya kalau sudah penuh.

Biasanya ketika sudah mendapatkan ilmu, kita tidak mengerti gunanya untuk apa. Pun, tulisan ini saya tidak mengerti akan berguna atau tidak, tetapi saya percaya setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri dan semoga nantinya tulisan ini bisa berguna. Ngelmuiku kalakone kanthi laku. Cari ilmu sebanyak-banyaknya karena manusia cuma bisa membuat model dan ide dari ilmu yang dipunyai saja. Ketika model hidup kita lengkap, maka tidak akan mudah heran dengan yang terjadi, seperti kata Eyang Semar dalam sejarah kita yaitu, “Ojo gumunan lan ojo kagetan”.

Tidak mudah memang mengubah budaya dan mungkin memerlukan waktu yang agak lama. Kita tidak bisa membuat sistemyang baru kalau tidak tahu tujuan, limitasi, dan modalnya apa. Minimal ide dalam diri kita yang sering kita obrolkan dengan diri kita sendiri itu tulislah. Sebab sistem kita sekarang kurang mengakomodir demokratisasi ide. Padahal kemampuan menyederhanakan abstraksi adalah ciri-ciri orang yang pandai. Tidak apa-apa pelan-pelan saja, minimal dari diri sendiri dulu karena tidak ada cara cepat dalam mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang didaptkan secara cepat memiliki resiko kepleset yang juga besar, dan prosesnya tidak dapat dinikmati padahal yang membuat berharga adalah prosesnya. Apalagi sesuatu yang dipicu dari luar membuat kecanduan. Teknologi hanya membantu kita bukan kita yang harus teperdaya teknologi. Saat kita digempur dengan hujan informasi pada era sekarang, didalamnya juga terkadang kita bisa menggempurnya dengan informasi dan ide-ide Maiyah kita yang luar biasa ini. Bukankah setahu saya Maiyahan mempunyai passion seperti Mbah Nun, peran tak terlihat, hasil tak tercatat, bahkan alamat pastinya adalah bombardir cemoohan manusia modern. Yang berharga bukan teknologi atau pandangan terhadap Maiyah, tetapi cara kita menyikapi dan menggunakannya.

Kalau kita menemukan sesuatu yang tidak bisa kita hindari, maka kita harus berusaha untuk menemukan manfaat di dalamnya. Dunia yang semakin kompleks maka jawaban atas apapun juga semakin kompleks, semoga sinau-sinau bareng seperti Majelis Bangbang Wetan, Padhang mbulan, Mocopat Syafaat, dan lain-lain akan tetap ada karena sekecil apapun ilmu dan setidak penting apapun ilmu akan berkoherensi satu sama lain. Perubahan pasti akan datang, yang paling penting kita siapkan perangkat kita agar kompeten di dalamnya. Kapan datangnya? Kita siap menjelang.

Surabaya, 31 Mei 2022

Ryan Anjasmara. Penulis merupakan Jamaah Maiyah biasa. Bisa disapa melalui akun Instagram: Ryan Anjasmara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *