Merdeka

Menyadari Nikmatnya Ketidakmerdekaan

” Aku hidup tidak merdeka, dan tidak ada kenikmatan melebihi hidup tidak merdeka. 

Aku hidup tidak merdeka, dan kusyukuri keadaan tidak merdeka ini di siang dan malam, di pagi dan sore, di semua menit detik, di setiap peluang yang sesempit apapun. 

Aku bersyukur, aku bersyukur, aku bersyukur karena Allah tidak membiarkanku melangkah berjalan merdeka. Aku bersyukur, aku bersyukur, aku bersyukur karena Allah mengikatku, memelukku erat-erat dan tidak mengizinkanku keluar dari pelukanNya. ”  

( Emha Ainun Nadjib ) 

Puisi berjudul “Aku Hidup Tidak Merdeka” karya Emha Ainun Nadjib di atas, menurut saya, sangat kontras dengan kondisi zaman akhir-akhir ini, dimana kebebasan atau kemerdekaan individu atau kelompok menjadi sesuatu yang diagung-agungkan bahkan menjelma sebagai tujuan bagi apapun aktivitas atau kerja-kerja yang dilakukan.

Kemerdekaan – yang entah kenapa – diidentikkan dengan kebebasan (tanpa batas) dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan, karena di dalamnya, orang bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Sebagai contoh, ketika orang memiliki kemerdekaan atau kebebasan finansial, maka seolah-olah apa pun bisa dibelinya, karena jumlah uang yang dimiliki sangat banyak.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan apa yang ingin disampaikan dalam puisi Mbah Nun di atas, dimana pada dasarnya, tidak ada manusia yang benar-benar merdeka, karena tak ada satu pun makhluk yang lepas dari kendali atau penguasaan Sang Khalik atau Penciptanya. Dan ketika dilihat dalam perspektif cinta, “ketidakmerdekaan” ini justru perlu disyukuri, karena itu berarti Tuhan tidak membiarkan manusia mengarungi kehidupannya tanpa ilmu, petunjuk dan bimbingan dari-Nya.

Dalam keseharian, dapat dengan mudah kita temukan, betapa “ketidakmerdekaan” ini selalu dialami oleh siapa pun setiap hari. Misalnya saya janjian ketemu dengan teman saya di tempat A pada hari B di jam C. Setelah melakukan kesepakatan ini, baik saya maupun dia akan menyesuaikan jadwal aktivitasnya, sehingga pada hari B di jam C, kita berdua dapat bertemu. Apakah saya dan dia pasti bertemu? Belum tentu… Apakah saya dan dia pasti tidak bertemu?… Belum tentu juga. Ada 1001 variabel yang membuat saya dan teman saya bisa bertemu atau tidak bertemu. Jadi, dimana letak kemerdekaan manusia dari situasi seperti ini? Merdeka saat membuat rencana, merdeka mengupayakan terwujudunya rencana dan merdeka menyikapi apapun hasil dari yang telah direncanakan dan diupayakan. Menurut saya, hanya ini kemerdekaan yang dimiliki oleh manusia, selebihnya adalah “ketidakmerdekaan”, akibat adanya 1001 variabel di luar kuasa saya dan teman saya, namun tidak lepas dari kekuasaan Tuhan.

Contoh di atas tentu sulit dipahami bagi mereka yang selama ini tak pernah melibatkan peran Tuhan dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Bila suatu rencana berhasil terwujud, maka hal tersebut semata-mata karena matangnya perencanaan, profesionalnya pelaksanaan, terkawalnya proses pelaksanaan serta adanya evaluasi dan perbaikan yang terus-menerus dalam realisasi rencana-rencana selanjutnya. Dan ketika terjadi kegagalan, maka pastilah karena ada yang salah dalam alur kerja yang dilakukan, entah karena faktor kelalaian manusia (human error), kerusakan sistem (system error) atau penyebab lainnya. Tak ada kaitannya sama sekali dengan keberadaan atau peran Tuhan. Barangkali inilah yang membuat manusia menjadi arogan, karena merasa “merdeka menentukan nasibnya sendiri” di satu sisi dan menjadi sangat rapuh di sisi lain, ketika menghadapi problematika hidup yang tak dapat dipahami oleh logika atau akal pikirannya yang serba terbatas itu. ( LF )

Salam Merdeka dalam Ketidakmerdekaan!!!…

 

 

Penulis : Lukman Febrianto .

Salah seorang bagian dari Jamaah Maiyah BangbangWetan, bisa disapa di Facebook: Lukman Febrianto