Menyapa Allah, Mengembangkan Kosmos untuk Mengenali Diri

(Berita Singkat BangbangWetan Agustus 2019)

 

Masih terasa gelora semangat dan kegembiraan dalam memperingati hari Kemerdekaan Indonesia, hal itulah yang berusaha kami ramu saat berkumpul kembali dalam Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan, Selasa 20 Agustus 2019, di Taman Budaya Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Genteng, Surabaya.

Diawali dengan nderes Surat Al Anbiya bersama-sama sebagai setoran untuk meraih kasih sayang dan perlindungan Allah Swt. agar setia menemani setiap perjalanan hidup kita ke depan yang kemudian diteruskan dengan bersalawat dan wirid bersama-sama agar getaran kerinduan sampai kepada Allah Swt. dan Kanjeng Nabi saw.

Sebelum diskusi dimulai, jemaah yang hadir diajak untuk menyanyikan Indonesia Raya karena masih dalam nuansa semangat kemerdekaan sekaligus sebagai doa untuk menemukan kemerdekaan yang sejati. Grup keroncong malam itu turut menyumbangkan kemerdekaan mereka dengan membawakan beberapa nomor lagu, di antaranya Kesempurnaan dan Sewu Kutho. Malam itu turut hadir pula Pak Darmaji (dosen ITS yang merupakan salah satu jemaah awal BangbangWetan), Mas Zuhud yang ikut membagi kegembiraan dengan menampilkan permainan sulap kartu, dan Mas Sabrang MDP yang ketika akan hadir di depan bersamaan dengan dilantunkannya salawat dan Shohibu Baiti dengan penuh kekhusyukan batin sebagai bukti keseriusan kita untuk terus sinau bersama untuk menemukan apa yang baik dan benar.

Mas Sabrang menyapa jemaah dengan menyampaikan bahwa, “Sekarang di dunia ini, di kesadaran kita yang kita musuhi adalah orang. Padahal yang harus kau musuhi pada orang itu kesalahannya, bukan orangnya.” Mas Sabrang kemudian melanjutkan, “Ketika kamu berjalan dengan bensin nafsu pasti ilusi di depanmu. Beda kalau bensin yang digunakan untuk berjalan adalah tanggung jawab, maka akan mudah menghadapi masalah. Karena menganggap masalah menjadi bagian dari tanggung jawabmu.” Sebuah pemaparan yang menjadikan nuansa diskusi semakin asyik dan khusyuk yang mengembangkan ingatan pada badan dengan merasakan apa yang tengah berlangsung. Acara malam ini diakhiri dengan salawat dan doa yang dipandu oleh Cak Lutfi serta bersalam-salaman sebagai wujud keistiqomahan kita dalam menjaga silaturahmi antar sesama.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]