Oleh : Prayogi R Saputra

Sore  merambat perlahan. Namun, suasana hari ini tak kunjung beranjak dari wajah muram.  Gerimis sejak pagi hari mempercepat kelam. Orang-orang lalu lalang di sepanjang jalan kecil di samping Universitas Pavia. Mereka mengenakan mantel tebal, menegakkan kerah dan memasukkan tangan ke dalam saku. Langkah-langkah mereka tergesa. Beberapa berlindung di bawah payung hitam. Udara dingin meremas tubuh sekuat-kuatnya.

Samar mengambil sepiring saltimbocca dan memilih tempat duduk tepat di depan Jambu. Jambu nampak sedikit gugup. Samar pura-pura tidak tahu dengan menggeser  panel nomor meja di hadapannya.

“Mejanya kecil, ya?” kata Samar berbasa-basi.

Jambu tersenyum mengiyakan. Mereka terdiam beberapa menit. Samar mencicipi makanan yang dipesannya. Sementara, Jambu memainkan gawai yang dibalut cover warna merah muda. Sesekali,  dia menatap orang-orang yang keluar masuk cafe.

“Nggak nyangka ya, kita ketemu di sini?”

Kembali Jambu hanya tersenyum mengiyakan.

“Jadi, sudah berapa lama kamu tinggal di sini?”

“Tiga. Emm..Ya..tiga tahun.”

“Wah! Sudah lama juga ya?”

“Iya. Lumayan.”

“Bagaimana kabar keluarga?”

“Ayahku masih sehat. Ibuku alhamdulillah juga masih sehat. Semua baik.”

“Orang tua masih tinggal di dekat pasar burung, apa nama kampungnya?”

“Loh…kamu kok tahu?”

“Ya tahulah. Dulu aku sering lewat  depan rumahmu,” Samar tertawa kecil.

“Memangnya mau kemana?”

“Ya nggak kemana-mana. Cuma mau lewat depan rumahmu saja.”

Jambu hanya tersenyum. Dia mengangkat gelas late-nya dan memindahkan beberapa senti dari tempatnya semula.

“Anakmu sudah berapa?” tanya Samar.

“Satu.”

“Kelas berapa?”
“Kelas dua. Elementary.”
“Suami?”

“Emmm…” Jambu nampak sedikit kikuk.

“Bisakah kita tidak membahas soal itu?”

“Oh, OK. Maafkan aku.”kata Samar menampik rasa bersalah.

Jambu tersenyum. Sepasang kekasih melintas di samping meja mereka.

“Kamu sendiri, anakmu sudah berapa?”

“Satu.”

“Sudah gede pasti.”

“Ah, belum. Baru masuk TK kecil.”

“Cowok atau cewek?” kejar Jambu.
“Cewek.”

“Wah.  Bisa besanan kita.”

“Ahahhahh”. Mereka tertawa kecil.

Bayangan Samar kembali ke masa-masa SMA mereka di sebuah kota di Jawa.

“Iya, siapa teman-teman yang pernah ketemu?” tanya Samar.

“Nggak ada. Paling satu dua orang. Pernah sih, si Doman.”

“Doman? Anak musik itu?”

“Iya.”

“Ahai..dimana dia sekarang?”

“Dia jadi perwira. Pernah ketemu di Kedutaan, Roma. Waktu Doman tugas kesini.”

“Doman. Kamu masih ingat acara festival musik di sekolah dulu?”

“Yang mana? Kan beberapa kali.”

“Mencari Dewa. Yang di Gedung Mahardika.”

“Oh iya iya.” Wajah Jambu sedikit berbinar.

“Aku dulu mau nonton loh, sudah beli tiket. Dua,” kata Samar. Sedikit ragu-ragu.

“Setahuku, kamu kan nggak suka musik,” kilah Jambu.

“Iya, sih.”

“Kok mau nonton musik? Beli tiket dua lagi?”

Samar mengelakkan kepalanya sambil meringis.

“Aku bilang nggak apa-apa, ya?”

“Memang kenapa?” Jambu heran.

“Emm….”

Jeda

“Rencananya sih, yang satu buat kamu.”

“Hahh!” Wajah Jambu sedikit memerah.

Samar tertawa kecil. Tersipu.

“Tapi, aku nggak pernah berani memberikan kepadamu.”

Jambu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, setengah menunduk.

“Samar!” katanya lirih.

Samar menyeruput Ristretto-nya.

“Sampai sekarang, masih ada kok tiketnya,” katanya.

“Ehemmm heheh. Yang benar?”

“Iya. Aku simpan di  buku. Aku rekatkan.”

Jambu kembali tertawa kecil. Wajahnya bercahaya.

“Mau ngajak nonton sekarang?” tanya Jambu.

“Hahha….sudah sangat terlambat. Acaranya sudah lewat bertahun-tahun,” kata Samar.

Mereka tertawa kecil.

“Ya nggak apa-apa,”kata Jambu.

Samar menyeruput lagi kopinya. Merasa serba salah.

“Kenapa dulu nggak jadi ngajak?” tanya Jambu.

Samar tersenyum.

“Siapa sih aku, kok berani-beraninya ngajak “Jambu Merah Jambu”. Aku cuma anak

desa. Nggak ada apa-apanya sama sekali dibanding sama anak-anak kota. Apalagi, Ayahmu tokoh agama. Ya, belum maju sudah keder duluan,” sambung Samar.

Mereka berdua kembali tertawa kecil.

“Ayahmu pasti tahu aku anak desa mana. Di pipiku, sudah ada stempel daerah merah.

Nggak akan mungkin diizinkan masuk ke rumahmu.”

“Ah…Bisa aja kamu, ya nggak juga lah! Itu kan sejarah yang sudah lewat. Biasa aja

kok. Eh ngomong-ngomong, julukan “Jambu Merah Jambu” itu siapa dulu yang bikin?”

“Ya anak-anak lah.”

“Anak-anak mana?”

“Ya, anak-anak kelasku yang mulai. Kan lebih gampang manggil daripada

Khuimairoh.”

Jambu menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Samar membiarkan

saja makanan  pesanannya.

“Nggak dimakan?”

“Sudah! Nggak cocok dilidah.”

“Ya, memang kalau makanan di sini bumbunya nggak kuat. Orang-orang lebih suka ke rasa orisinal. Kalau nggak doyan, bakalan susah cari makan selama di sini,” kata Jambu.

“Eh, memang berapa lama program residensimu?”tanya Jambu.

“Satu bulan.”

“Owh…Kupikir jauh lebih lama,”nampak segaris kecewa terbit di wajah Jambu,

”Departemen apa?”lanjutnya.

“Molekuler medis,” kata Samar.

“Kapan-kapan, kalau luang, mampirlah ke apartemen!”

“Baik. Mudah-mudahan.”

“Tapi di rumah cuma ada aku sama anakku, Anatha. Itu pun, si Anatha pulang

sekolah sudah sore.”

Samar berpikir sejenak. Lantas mengangguk.

“Ya! Ya!”

“Kamu nggak ada rencana njenguk orang tua ke Indonesia?”

“Iya. Mungkin, aku cuma akan habiskan kontrak kerjaku di universitas. Setelah itu,

aku akan pulang.”

“Pulang?”

“Ya. Sulit hidup cuma sama anak di negeri orang.”

Samar hanya diam. Jambu pun terdiam. Suara gesekan biola Andre Rieu samar-samar

terdengar melantunkan A Time for Us. Malam telah turun. Samar melihat jam. Suara detak jam di dinding seperti terdengar dari dalam dada kiri Jambu.

“Tempat tinggalmu jauh dari sini?” tanya Samar setelah beberapa menit tenggelam

dalam diam.

“Enggak, cuma 15 menit jalan kaki. Nggak jauh dari gedung Opera.”

“Kalau kamu mau, aku bisa antar kamu sampai depan apartemen.”

Jambu tersenyum sambil menatap Samar. Matanya berkilauan, seperti buliran

permata.

“Tapi nggak ada acara nonton opera,  ya. Tiketnya sudah lama hangus,” canda Samar.

Jambu tertawa kecil. Matahari terbit dari sudut matanya.

Di luar caffe, hari sudah lama gelap. Lampu-lampu pertokoan menyala aneka

rupa. Lampu-lampu jalanan membuat wajah Samar seperti bayangan. Gerimis belum juga reda. Jambu merentangkan payungnya.

“Kamu nggak ikut berlindung di bawah payung?”

Samar tersenyum.

“Terima kasih. Aku sudah terbiasa kehujanan.”

Lantas, mereka berdua melangkah menembus gerimis. Berjalan agak berjauhan.

102019

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra