Merasakan Hawa Surga dan Bergembira Bersama

 

Al-Mutahabbina fillah. Ya, al-mutahabbina fillah yang menjadi dasar ikatan kita untuk bersaudara dan mempersaudarakan satu sama lain. Tidak hanya sebatas sesama manusia, melainkan semua penduduk bumi dan semesta kita pangku dalam ikatan cinta untuk saling menjaga nyawa, harta, dan martabat mutahabbina kepada Allah. Bulan November adalah momentum waktu bagi  perjuangan arek-arek Surabaya untuk menegakkan martabat tanah air dan bangsanya yang selama ini terjajah. Prana perjuangan itu kami hirup, kita endapkan dalam akal dan hati, dihembuskan dengan teknologi laku yang sophisticate. Bertepatan dengan momentum putaran waktu kelahiran manusia Muhammad–Yang kelahirannya dielu-elukan oleh manusia, seluruh penduduk bumi dan semesta untuk menerangi dan mencerahkan segala kegelapan dan ketidakseimbangan tata kosmos semesta, nilai, dan hidup dalam sunnatullah.

Manifestasi dari rasa syukur kita sebagai umat Muhammad adalah dengan merenungi kembali laku Siaga Sorga kita ditengah sistem dan hawa peradaban Dhaluman Jahula. Siaga Sorga kita dalam Maiyah adalah menjaga nilai kesetian kepada kehidupan dan nilai-nilai kasih sayang satu sama lain, ketulusan dalam persahabatan, mencerdaskan akal, kedewasaan berpikir, pendalaman batin, dan kebijaksanaan hidup. Renungan Siaga Sorga kami selenggarakan di Halaman TVRI Jawa Timur sebagai kesepakatan tempat kami berkumpul demi rasa rindu bersaudara dan bergembira bersama.

Diawali dengan nderes Surat Al-Ankabut, disambung dengan Wirid Akhir Zaman, dan dipuncaki dengan bersholawat bersama sebagai rasa kristalisasi kerinduan kepada Kanjeng Nabi dan manifestasi Siaga Sorga untuk selalu lahir dalam diri, kesadaran dan memancarkan cahaya Rahmatan lil alamin. Selanjutnya, sesi diskusi yang dipandu oleh Mbak Tama dan Mas Yasin untuk membeberkan tema Siaga Sorga dengan diawali dengan penampilan dari Resty D’acoustic dari Unair.

Resty D’acoustic menyapa dengan mengajak bersholawat bersama, selanjutnya mencoba merangkul hati jamaah dengan membawakan nomor Kartonyono Medot Janji. Mbak Resty juga menyampaikan kesan pertama kali merasakan suasana dan hawa Maiyahan, bahwa menurut Mbak Resty maiyahan asyik dan sangat unik, “di maiyah semua gender duduk bersama tanpa dibedakan, menerima segala hal dan apa adanya.” Ketika tampil membawakan nomor-nomornya, Mbak Resty merasakan kegembiraan karena semua yang dibawakan diterima dengan kegembiraan dan bernyanyi bersama.

 

Penampilan Ludruk The Luntas Surabaya

 

Penampilan ludruk “The Luntas” Surabaya melengkapi kegembiraan–yang melepaskan beban dan kepenatan hidup sehingga siap  berdiskusi dan mendalami pengertian Siaga Sorga dan siap mengamalkan. Menurut Cak Robet, tujuan grup ludruk “The Luntas” adalah mengajak pemuda surabaya untuk melestarikan kesenian ludruk tanpa tendensi apapun. “Ludruk berasal dari cara membaca dan ngarani masyarakat tentang tari remo pada zaman Cak Durasim adalah Kela kelo sama gedruk-gedruk, maka diarani ludruk”, tambahnya.

Kyai Muzzammil turut membersamai sinau Siaga Sorga malam itu dengan memberikan pondasi cara berpikir kita, “Semua filosof itu radikal, kalau tak berpikir radikal itu bukan filosof, karena radikal berpikir sampai keakarnya. Jika dirimu menuntut sesuatu diluar dirimu, maka sebenarnya dirimu sedang terjajah.” Kyai Muzzammil juga memberikan kuda-kuda pertimbangan dalam mendefinisan nilai bahagia, “Jika sampean membayangkan bahagia kalau punya banyak uang, itu sebenarnya cara berpikir neraka. Karena menggantungkan terhadap sesuatu diluar dirinya. Sekarang yang dibangun adalah kecurigaan. Kecurigaan lahir karena kita tidak percaya kepada Allah. Sedangkan orang bahagia itu percaya kepada Allah. Kalau orang memakai akal untuk menghayati surga, maka sangat banyak yang tak bisa disaksikan, karena akal banyak batasannya. Orang tidak bisa merasakan surga, jika masih memakai pandangan mata dan akalnya. Untuk bisa merasakan surga itu harus menggunakan pandangan basyirah (hati). Maiyah itu memang bagian dari surga yang luar biasa.” Kyai Muzzammil juga urun pandangannya pada kesenian ludruk. Menurutnya, Hakikat ludruk adalah cara berpikir hidup yang cair, sehingga tidak spaneng menjalani hidup.

 

Kyai Muzzammil Pengasuh Ponpes Rohmatul Umam Kretek, Bantul, Yogyakarta.

 

Kesimpulan dari Kyai Muzzammil dalam sinau Siaga Sorga malam itu bahwa, “Maksud Siaga Sorga adalah menikmati hidup ini, tak merasakan neraka sebelum masuk neraka. Dengan berbahagia menjalani hidupnya. Cara hidup surga adalah tidak pernah merumuskan bahaya atau ancaman dalam hidupnya, karena percaya kepada Allah.”

Diakhiri dengan penyerahan simbolik berupa kalender maiyah 2020, sebagai rasa terima kasih Bangbang Wetan kepada The Luntas karena sudah bersedia membersamai kegembiraan dengan ludruk malam ini. Dilanjutkan dengan bersholawat bersama dipandu oleh Cak Lutfi dan doa oleh Kyai Muzzamil. Semoga maiyahan Siaga Sorga kita malam ini memancarkan kegembiraan yang mengkristal dalam akal dan hati kita dalam menjalani hidup dan menyimpan rindu untuk selalu berkumpul dan bertemu pada rutinan maiyahan mendatang.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]