Prolog

Merawat Musim, Menjaga Iklim – Prolog BbW Maret 2021

“Jamaah Maiyah tidak sibuk mencari kesalahan orang lain karena terlalu asyik mencari kesalahan dan secara simultan melakukan rekonstruksi ulang atas diri sendiri” – Mbah Nun

Dari rutinan BangbangWetan Februari lalu kita mendapat satu wawasan untuk “tidak mati dulu”. Menukil Chairil Anwar, ibarat binatang jalang, kita mau hidup seribu tahun lagi. Dari frasa ini, bisa diurai setidaknya dua hal utama yakni bahwa hidup haruslah panjang karena masih banyak tugas mesti diselesaikan. Berikutnya, menggunakan metafora binatang jalang, hidup yang seribu tahun itu haruslah diisi dengan “menerjang”, “menyerang”. Alih-alih sekedar “awet hidup”, anugerah usia harus seiring dengan elan vital yang terus terjaga. 

Gelombang kenyataan bergiliran menghempas kehidupan. Ia bisa berupa anasir kekuatan eksternal yang secara definitif berasal dari luar diri. Pada sisi lain, baik karena respon alamiah atas stimulan maupun output dari komposisi organ, terdapat usikan internal. Keduanya menjadi bagian yang menyatu dengan hidup dan kehidupan itu sendiri. Ketangguhan kita menghadapi seperti apapun gelombang menjadi salah satu penentu bagi panjang-pendeknya usia; dalam terminologi peran dan fungsi. Tidak pada keterkaitannya dengan angka.

Sebagai bagian dari keluarga besar alam semesta, diri manusia terikat sepanjang hayat dengan musim sebagai situasi yang meletakkan anchor pada dimensi ruang dan waktu serta iklim yang lebih berhubungan dengan koordinat keberadaan. Keduanya hadir dalam bentuk apa adanya tanpa sedikitpun kita mampu mengendalikan. Mereka adalah semacam ketetapan yang hanya bisa disikapi. Tidak untuk diupayakan rekayasa atasnya.

Berangkat dari titik kesadaran ini, maka keniscayaan dalam meniti hitungan masa adalah memastikan kendali absolut atas diri. Jagad alit pada diri kita yang sejatinya adalah makrokosmos beserta kelengkapan instrumen serba anugerah dari Sang Maha Pencipta memiliki pula musim serta iklim spesifik. Pada domain inilah–merawat musim sekaligus menjaga iklim–peran kekhalifahan kita menemukan rentang uji validitas. Terhadap kedua kondisi di dalam kedirian ini pula festival kebaikan fastabiqul khoirot terselenggara; sepanjang nafas masih berlangsung, selama denyut nadi terus bersambung.

Dengan pemahaman elementer di atas, apa yang pernah dinyatakan Mbah Nun bahwa “Jamaah Maiyah tidak sibuk mencari kesalahan orang lain karena terlalu asyik mencari kesalahan dan secara simultan melakukan rekonstruksi ulang atas diri sendiri” akan menemukan realitas. Pada tingkat kependekaran dan kepakaran ini, kita berada pada kesiapan menjalani “roka’at panjang”. Masih dari Mbah Nun, daya tahan menyelesaikan segenap etape disebabkan oleh tiga hal berupa kesadaran mengenai (1)karena Maiyah membutuhkan waktu yang lama dan usianya lama (2)karena yang terlibat di dalam Maiyah itu mendapat jatah usia yang panjang. Sebab medan perjuangan di Maiyah membutuhkan waktu yang panjang. Di kesempatan forum Bangbang Wetan Maret, mari kita bicarakan know how dari upaya menjaga musim, merawat iklim. Batasannya jelas: lelaku ini merujuk pada semua usaha yang berhubungan dengan diri sendiri. Sebuah langkah sadar yang oleh Mas Sabrang disebut sebagai “berfokus hanya pada lingkar / zona kendali”. Peran aktif dan antusias dulur-dulur di kehangatanperbincangan bulqnqn kita bersama adalah unsur utama cerahnya cuaca forum kita tercinta.

—oOo—

Oleh: Team Tema BangbangWetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *