Kolom Jamaah

Model di Jagat Kecil

Oleh: Marhamah

Forum BangbangWetan terhelat di ujung Mei menjadi penanda “turun gunung” atau “usia ledak”-nya sosok ilmuwan sekaligus putra Simbah, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang menjelang 43 tahun. Forum kental nuansa pergelaran ide-ide bertaut realitas dalam relasi analogi-analogi yang pas. Konon, ciri pemahaman yang baik atas pengetahuan adalah kemampuan memberi gambaran sederhana dan mudah dimengerti dari kompleksitas pengetahuan, tanpa mengurangi esensi nilai yang dikandungnya, malam itu terjadi. Dalam balutan kaos berwarna merah, nyaris setiap kalimat terlontar dari Mas Sabrang adalah pengetahuan yang memantik ruang pikir bagi pendengarnya.

Ide-ide membetahkan saya menyimak forum mulia BangbangWetan dari kejauhan melalui channel Youtube dengan menggelar karpet, wedang uwuh, dan jajan sisa lebaran. Diskusi malam itu bagaikan menu all you can eat dengan catatan kita tahu pasti kapasitas “perut” dan akal kita sendiri, teristilahkan limitasi. Forum inti diawali dengan membuka pertanyaan oleh Mas Amin. Dengan pertanyaan-pertanyaan ini forum berjalan lebih tepat sasaran pada kebutuhan para penikmatnya.

Sebagaimana penyaji ide all you can eat, setiap pertanyaan yang merupakan potongan-potongan masalah terjawab dengan cara komprehensif, terhubung satu dengan yang lain dalam pengejawantahan pemahaman prima dari Sang Rektor BbW. Saya akan mencoba membuat anyaman kata dari rangkaian tanya jawab dari forum malam itu.

Disinggung oleh Mas Sabrang akan ada channel pribadi yang dikelola tim untuk mewadahi pemahaman yang hendak dibagikan olehnya. Channel ini akan memuat skema. Skema bicara tentang jagat gede, jagat kecil, dan jagat sedang. Setiap kita sedang membangun jagat kecil. Di sinilah kita perlu merdeka dalam arti yang sesungguhnya agar memiliki jagat kecil yang sehat. Membangun jagat kecil yang sehat artinya keluar dari penjara-penjara jagat kecil yang tersimpan dalam ruang bawah sadar diri kita sendiri. Satu proses paling penting untuk keluar dari penjara jagat kecil ini adalah dengan mengeksternalkan pikiran. Mengeksternalkan pikiran dapat dilakukan dengan ngobrol, ngobrol dengan diri sendiri. Membiasakan berefleksi, ngobrol dengan diri sendiri sangat efektif sebagai media bertumbuh manusia. Tips sederhananya dengan menulis. Apa saja yang berkeliaran di pikiran dituang menjadi tulisan. Dari waktu ke waktu kita dapat melihat diri kita sendiri melalui tulisan yang kita buat.

Setiap manusia memiliki kemampuan membuat model. Model dianalogikan dengan globe, tahu globe? Globe menggambarkan bumi yang kita tinggali, tapi bumi itu sendiri bukan globe. Globe bukan bumi yang sebenarnya, namun membantu kita memperoleh pemahaman tentang bumi. Model ini letaknya pada ruang abstraksi, keunggulan dimiliki manusia yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Model yang kita miliki berasal dari perhelatan ruang publik, bangunan pikiran dari jagat kecil-jagat kecil lain yang bertemu di jagat sedang. Ruang publik yang sehat dipenuhi oleh jagat kecil-jagat kecil yang sehat. Kita terpahamkan alasan kenapa setiap diri kita perlu untuk terus sinau dan membangun model untuk sehatnya jagat yang lebih besar, jagat sedang.

Gejala bahwa kita perlu meng-update model biasanya dengan dengan ketertarikan atau terkejut. Tanda ini menunjukkan bahwa ada sesuatu dengan model yang kita punyai. Ketertarikan yang memperbarui model, istilahnya reorienting reflex. Kita terkejut dengan bertanya, apa ini? Kenapa begitu? Apa ini benar? Kenapa ini benar? Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar selain kita dapat memperbarui model, kita jadi terhindar dari ilusi pengetahuan. Ilusi pengetahuan ini semacam jebakan.  Misalnya kita membaca buku, kita jadi tahu, tanpa mempertanyakan “kenapa ini benar?”. Kita sekadar tahu, namun tidak tahu kegunaannya, kita masuk pada ilusi pengetahuan.

Dalam pemahaman bahwa dunia ini koheren, dunia ini tidak ada yang konflik, maka ketika ada masalah, sebenarnya yang bermasalah adalah modelnya. Ada yang perlu di-update. Ini urusan sepanjang masa. Dan, di kepala kita isinya semua model. Sepanjang hidup kita membangun model.

Lalu, apa sebenarnya kegunaan model? Bisakah manusia tanpa memiliki model? Terjawab lugas bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa mempunyai prediksi ke depan. Dan, guna dari model adalah memprediksi masa depan. Analogi memusingkan jika kita diletakkan di ruang gelap, benar-benar gelap. Model tentang ruang tersebut tidak dimiliki, maka di awal kita biasanya akan diam dan pelan-pelan membangun model, sehingga terbayang harus melakukan apa berikutnya.

Urusan menjaga kesehatan jagat kecil sering dibahas oleh Mas Sabrang. Jagat kecil yang pelik namun menentukan kesejahteraan jagat sedang memiliki urgensi tinggi untuk diperbaiki. Menyongsong bulan-bulan ke depan, kita bersama berdo’a semoga terselesaikan proyek sistem berupa teknologi untuk membantu kita membangun jagat kecil kita semua. Jika pekerjaan fisik telah banyak teknologi yang membantu, ranah pikiran menuju kesadaran belum ada hingga saat ini. Saya rasa hukum wajib mengenai kita semua untuk mendukung dan berdoa untuk proyek tersebut.

Forum BbW akhir Mei itu menyisakan pekerjaan mencari tahu yang boleh dikerjakan oleh siapa saja. Soal lapis logika: first order thinking, second order thinking, third order thinking, dan higher order thinking. Lapisan logika akan membantu kita memahami cara kerja logis dari pemahaman dan memahami. Contohnya soal agama. Agama itu logis dan lapisan logika yang dapat mencapainya, mau tidak mau, adalah higher order logic. Mendengar istilahnya saja membikin keliyengan. Tapi apakah cara terbaik untuk tidak keliyengan adalah melupakan? Jawabannya ada pada ruang pribadi kita sendiri. Terngiang-ngiang kalimat dari Mas Sabrang, “Dunia tidak pernah punya hutang pada kita” yang saya pahami bahwa hal-hal baik itu tentang diri sendiri, tabungan kita pada diri sendiri, untuk jagat kecil kita. Tujuannya sederhana, kita menemukan cara mengubah derita menjadi kenikmatan menjalani.

Selamat bertambah usia, Mas Rektor. Semoga sehat selalu, panjang umur, senantiasa menyebar berkah dari Allah…aamiin. Selamat “meledak”.

Marhamah. Penulis merupakan Ibu dari tiga anak homeschooler, tinggal di Pandaan – Pasuruan. Jama’ah BBW sejak 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *