Sonya Ramadlan

Mudik; Wujud Kerinduan Pada Sang Rahim

 

” Mudik, suatu kata yang sangat tidak asing terlepas apakah kita ikut mengalaminya atau tidak. Bagi saya yang dikarenakan suatu hal tidak tinggal di kota tempat kelahiran ayah maupun ibu, mudik ke kampung halaman ayah dan ibu merupakan sajian menu wajib dalam setiap tahunnya. “

 

Hampir semua suka duka mudik telah saya rasakan. Tidur di lantai terminal dan stasiun, berebut saat memasuki bis maupun kereta, berdiri karena tak kebagian tempat duduk, bergelantungan di pintu kereta, hingga naik gerbong barang. Setali tiga uang saat memakai kendaraan pribadi, misal: semotor ditumpangi oleh 4 orang, kehujanan dan kepanasan, terjebak macet, ban bocor, dll. Semua itu rela dijalani hanya untuk dapat berlebaran di kampung halaman.

 

Mudik sendiri, walau fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, telah menjadi ritual tahunan di negara kita. Sampai-sampai antara H-7 hingga H+7 televisi maupun media lainnya rela memberi porsi khusus untuk memberitakan segala hal yang berhubungan dengan mudik.

 

Seberapa berartinya kah mudik sebenarnya? Lalu kenapa mudik menjadi suatu hal akbar bagi banyak orang? Padahal kalau kita berpikir kuantitatif, dosa kita terutama dosa horizontal kepada sesama manusia, lebih banyak terjadi di tempat yang mayoritas kita habiskan. Bisa di tempat kerja, kampus, sekolah, dll. Pertanyaan retorisnya adalah, mengapa tidak berlebaran saja di tempat kita biasa habiskan, lalu beberapa hari kemudian baru pulang kampung?

 

Bagai daur air yang menguap dari lautan, membentuk awan, berubah menjadi tetesan hujan, meresap ke dalam tanah, mengalir, hingga berkumpul kembali di lautan. Mungkin seperti itu jugalah daur hidup manusia. Secara naluri kita ingin kembali ke tempat semua dimulai. Tempat dimana kita merasakan nyaman seperti saat belum direcoki oleh hiruk-pikuk dan embel-embel keduniaan. Tempat dulu kita ditimang mulai alam rahim, lembut belaian ibu, hingga mulai belajar mengenal dunia.

 

Mudik juga membuktikan bahwa kita belum lupa unggah-ungguh ketimuran marang wong kang luwih tuwo. Selain itu, tentunya belum lupa terhadap harta pemberian Allah yang paling berharga, yaitu keluarga. Sebenarnya konsep keluarga kalau dijelaskan bisa lebih panjang lagi, namun keluarga sedarah lah yang saya maksudkan di sini.

 

Konsep keluarga itulah yang menurut Mbah Nun beberapa tahun yang lalu mampu menawar, menunda, atau bahkan mungkin membatalkan azab dari Allah kepada Indonesia. Sangat banyak contoh dalam hal ini yang tak perlu saya utarakan.

 

Dalam Konsep kholidina fiha abada yaitu hidup abadi dari satu titik ke titik lainnya. Selayaknya kita yang perlu menyiapkan bekal sebelum mudik, jangan lupa pula untuk menyiapkan bekal menuju mudik yang sesungguhnya. Kembali nyawiji dengan pemilik kita, Sang Maha Rahim.

 

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali. (Al-Baqarah 156)

 

 

Oleh : Wahyoko Fajar 

*) Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar