BangbangWetan Januari 2017

Tahun 2016 telah kita lewati sekelebat saja, meninggalkan tumpukan permasalahan-permasalahan yang belum juga selesai. Berbagai anomali dan ketidak-seimbangan yang sepanjang tahun dihadapi oleh manusia ternyata masih berkutat di perkara yang sama. Manusia Indonesia juga, sepanjang tahun seumur hidupnya, terpaksa menghadapi problem Politik, Sosial, Ekonomi, Kebudayaan, dan sebagainya. Hal tersebut sebagai akibat dari warisan ketidak berhasilan manajemen negara mengelola kekayaan selama berpuluh tahun. Sekian banyak draf formulasi dan resep apapun tidak juga cocok untuk meringankan beban senasib-sepenanggungan sebagai warga negara.

Sementara riuh sorai televisi membuyarkan endapan pekat permasalahan sepanjang waktu, ditambah komunikasi tanpa terbatas yang ditawarkan oleh media virtual mengaduk-aduk suasana sehingga semakin buram jarak pandang kita terhadap fakta. Pilihan mudahnya adalah kita lagi-lagi melarutkan diri dalam kekaburan pandang, dan tenggelam skenario cara berfikir yang salah. Tidak mudah memang untuk ‘mentas’ dari pusaran tersebut. Tetapi bukan berarti kita tak bisa melakukan apapun.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Cak Nun, dunia dan segala permasalahannya ibarat sebuah bulatan yang ternyata kita selalu coba selesaikan dengan bulatan (permasalahan) itu sendiri. Ibarat bersuci, selama ini yang kita gunakan untuk membasuh adalah air keruh, sehingga tidak juga menemukan titik temu. Bahkan Agama dijadikan komoditas, dijadikan penunjang manusia lain untuk menyokong kepentingan pribadi. Tuhan dan Nabi diperjual belikan, ditempatkan di etalase, sehingga kesuciannya tidak lagi mengobati namun justru menambah beban.

_Dalam Solusi Segitiga, subyek yang bisa mengatasi kerusakan dunia ini berada di puncak tertinggi segitiga, yakni Tuhan. Dan wasilah atau alasan Tuhan akan mengatasinya adalah kekasihNya, Rasulullah Muhammad saw yang berada di titik ke dua dalam segitiga cinta itu. Maka manusia berada di titik ke tiga harus melibatkan kedua titik itu dalam mengupayakan solusi atas kehancuran dunia ini.

Pada sebuah kesempatan, Cak Nun pernah mengingatkan kembali bahwa orang Jawa punya istilah Mupus. Di dalam budaya Jawa ada kata “mupus”: menganggap tak ada sesuatu yang bikin pusing tapi tak pernah bisa diselesaikan. Penderitaan berkepanjangan oleh kemiskinan struktural oleh rakyat cukup dijawab dengan “Gusti Allah mboten sare”. Tuhan tidak tidur. Mupus memang tidak gampang, terlebih bila sesuatu yang kita hadapi itu sudah dan sedang berlangsung dalam waktu yang lama. Manusia yang Mupus tengah berusaha untuk menanamkan kesadaran bahwa ada beberapa hal yang bisa terjadi di luar batasan kemanusiaannya. Melibatkan diri sepenuhnya dalam koneksi dengan Allah.

Maiyah kita awal tahun ini kemudian menjadi awal dari perbaikan pijakan atas keputus-asaan yang mungkin sedang kita hadapi. Menumbuhkan harapan baru bahwa pasti ada yang bisa kita tanam untuk kebaikan yang akan datang.

 

ISIM BangbangWetan