Oleh: J. Rosyidi

Salah satu aktivitas yang bisa ayah bunda lakukan bersama dengan anak dalam suasana “lockdown” akibat wabah Corona ini adalah aktivitas membaca. Tapi anak saya tidak suka membaca bagaimana? Eh, sebentar! Jangan-jangan ayah bunda pun tidak memiliki kegemaran membaca. Frekuensi memegang gadget jauh lebih tinggi daripada memegang buku. Dalam sebulan tidak ada buku yang diselesaikan.

Baiklah lupakan itu semua. Pertama, kita harus sepakat dulu manfaatnya membaca. Kalau tidak bermanfaat, lantas kenapa “Iqra!” menjadi perintah pertama dalam agama Islam, alih-alih perintah yang lainnya.

Sampai sini tentu kita sudah sepakat bukan? Nah, kalau kemudian sudah tahu manfaat membaca, adakah keinginan ayah bunda untuk menanamkan kecintaan membaca pada anada? Kalau ada, itu sudah bagus sekali. Sebuah langkah awal. Bukankah perjalanan seribu mil pun dimulai dari sebuah langkah?

Setelah niat, maka yang harus segera dilakukan adalah merubah perilaku (kebiasaan) orang tua terlebih dahulu. Yang semula jarang megang buku, sekarang dalam sehari harus terlihat oleh anak, minimal sekali memegang (membaca) buku. Durasinya tentu saja durasi yang moderat. 30 menitlah minimal. Sanggup, ayah bunda? Siap!

Kenapa sih harus merubah perilaku kita (orang tua) terlebih dahulu? Ingat, anak-anak adalah mesin fotokopi terbaik. Peniru yang ulung. Kalau ananda tetap asik dengan gadgetnya bagaimana? Ingat semua butuh proses bukan?

Kita pun tentu harus ingat bahwa saat ini media baca tidak hanya buku (kertas) melainkan juga ada yang berbentuk buku digital. Nah, kalau memang ananda memang belum bisa beralih dari gadgetnya, perkenalkan saja dengan ebook. Sehingga aktivitas anak dengan gadgetnya bisa tambah jenisnya, yaitu membaca ebook. Meski saya sendiri tetap lebih menyarankan membaca bookpaper dibandingkan ebook. Alasanny a kenapa? Biarlah itu menjadi pilihan personal saya saja.

Tentu sebelum memulai untuk menyarankan ananda membaca -baik bookpaper atau ebook– terlebih dahulu ananda dijelaskan manfaat membaca. Tentu dengan bahasa yang dimengerti anak anak.

Tak lupa, pilihan bacaan yang kita sarankan pertama kali kepada ananda adalah buku buku yang terkait dengan minat anada. Misal ananda lagi senang dengan robot-robot, ayah bisa menyarankan untuk membaca buku “Bagaimana menggambar robot” misalnya. Ayah-bunda sudah tahu kan minat anada. Kalau belum tahu ya segera atuh ngobrol dengan anada, mumpung kesempatan lagi banyak gegara Corona.

Di awal-awal anak sudah mulai membaca, janganlah menetapkan target yang muluk-muluk. Biasanya, obsesi orang tua, ingin semuanya cepat -karena asumsinya itu terbaik buat ananda. Ingat ayah-bunda, dunia anak anak adalah dunia bermain yang penuh kebahagiaan. Maka aktivitas membacapun harus menyenangkan buat mereka. Kalau tidak menyenangkan, maka untuk menjadi kebiasaan akan sangat susah. Bayangkan saja, jika ayah-bunda diminta melakukan hal yang tidak disukai. Apakah maksimal? Begitupun yang dialami ananda.

Bacaan-bacaan yang membebani, terutama pada subjek akademik yang tidak disenangi, sebaiknya dihindari jauh-jauh. Biarkan ananda memilih bacaan yang disukainya, karena tujuan awal adalah ananda senang dulu dengan aktivitas membaca. Setelah senang, lama-kelaman itu akan menjadi kebiasaan. Nah setelah sudah terbentuk kebiasaan barulah, kita bisa berdialektika dengan anak tentang bacaan – bacaan yang bisa meningkatkan kualitas diri ananda.

***

Tentang membaca ini, pada prinsipnya, perintah Iqro tidak hanya terbatas pada teks semata. Tapi juga pada fenomena-fenomea sosial maupun fenomena yang terpampang di segenap penjuru semesta. Maka kemudian next step, dari kegiatan membaca konvensional, adalah membaca yang tidak termaktub dalam lembaran buku (maupun terpampang dalam dunia digital). Muara akhirnya kemana? “Iqro’ bismi robbika alladzii kholaq!”.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi