Nandur Kebaikan, Puasa Pengakuan

  Kita hidup di zaman ketika menegur penyebrang jalan sembarangan yang hampir tertabrak tetapi balas dimaki-maki. Kabur mana yang salah dan mana yang benar. Yang menyentak duluan, atau yang terlihat sebagai penderita dibela. Sehingga yang benar justru meminta maaf pada yang salah. 

Dari stasiun Gubeng, saya pulang ke rumah menggunakan taksi online. Driver mengantar saya melewati jalanan padat Surabaya pada jam-jam makan siang. Di tengah jalan beliau rem mendadak. Refleks “Astaghfirullah!” terucap darinya sembari mengeluhkan penyebrang jalan yang tiba-tiba muncul di sela lalu lintas. Karena hampir tertabrak, si penyebrang selintas menyela sopir saya, katanya “Kalau nyetir hati-hati dong!” Sumbang memang ketika ucapan yang kalau diketik terbaca seperti anjuran, tetapi diucapkan dengan nada kesal dan membentak.

                  “Maaf ya, Mbak.” kata Pak Sopir.

Saya tersenyum. Sebenarnya beberapa kali saya mengalami kejadian serupa. Hampir menabrak penyebrang jalan di daerah itu. Kadang kena umpatan juga. Padahal tidak sampai 50 meter dari posisi kami ada jembatan penyebrangan jalan. Artinya, menyebrang di jalanan yang padat bisa membahayakan jika tidak menggunakan fasilitas yang disediakan. Tapi kalau sudah tegang begitu, apa sempat diskusi mana benar dan mana salah?

Sopir taksi saya tidak sedang ngebut pada saat hampir menabrak seorang penyebrang di jalan. Saya rasa beliau kemudikan dengan sadar dan tidak mengantuk atau melamun. Seandainya tertabrak, mungkin mobil yang kami tumpangi dipersalahkan. Kalimat ‘kalau nyetir hati-hati, dong!’ tidak akan mudah kami lempar ulang padanya dengan ‘kalau nyebrang jangan sembarangan dong!’

Betapa rumit ketika hidup dihukumi hanya benar-salah. Masing-masing dari kita punya berbagai sisi untuk menuntut kebenaran pada orang lain, tetapi tidak mudah menerima saat kita yang salah. Kita akan punya berbagai sisi pula untuk berkilah. Saya tidak yakin apakah secara naluri manusia memang susah menerima kritik. Tetapi melihat kenyataan di lingkungan sekitar akhir-akhir ini, saling tuntut menuntut menjadi sangat lumrah.

***

Kita hidup di zaman ketika menegur penyebrang jalan sembarangan yang hampir tertabrak tetapi balas dimaki-maki. Kabur mana yang salah dan mana yang benar. Yang menyentak duluan, atau yang terlihat sebagai penderita dibela. Sehingga yang benar justru meminta maaf pada yang salah.

Sementara itu, kita juga hidup di zaman masuk toilet umum pusat perbelanjaan disambut riang oleh penjaganya: “Selamat datang. Silahkan…” Dan ketika selesai diantar ke dekat pintu keluar dengan ucapan terima kasih. Keramahan yang aneh bagi saya, karena pergi ke ‘kamar-kecil’ adalah ruang kegiatan sangat privat. Menjadi wagu ketika memulainya saja diberi sambutan orang lain.

Jangan-jangan nanti kita masuk masjid juga disambut marbotnya. Disilahkan dari pintu masuk menuju tempat wudhu, ditunggu selesainya, kemudian diantar hingga sajadah digelar. Selesai sholat diberi ucapan terima kasih karena telah menggunakan masjidnya untuk beribadah.

***

Betapa aneh bentuk penyikapan manusia akhir-akhir ini. Saya sering heran, apa manusia memang butuh alasan untuk berbuat baik pada orang lain? Rasanya semakin minder atas dirinya, sehingga masih harus meyakinkan diri supaya bisa menghormati orang; Butuh visi dan misi untuk memperlakukan orang lain secara manusiawi.

Kepekaan sosial luntur di tengah mati rasa kita terhadap lingkungan sekitar. Mudah sekali kita hakimi sesuatu tanpa tahu runtut kejadian yang membangun peristiwanya. Kita habis-habisan membenci seseorang tanpa mempertimbangkan kebaikan kecil yang mungkin pernah dia lakukan. Dan sebaliknya.

Semakin tua, semakin kita dihadapkan beragam situasi tak semestinya. Kondisi di mana perencanaan batin dan harapan dibantah mentah-mentah oleh kenyataan yang ada. Tidak perlu lagi kita dikagetkan dengan orang baik yang dimaki-maki. Juga kita tak terhenyak oleh para pejuang yang tidak pernah diakui perjuangannya.

Namun seburuk apapun penerimaan orang lain terhadap kebaikan yang dilakukan tidak lantas membuat kita menyerah, bukan? Untuk jujur, empati, taat, ramah, kasih sayang, dan lembut terhadap orang lain tentu tetap kita jalankan. Seperti nasehat Mbah Nun agar kita menyebar kebaikan dan keindahan islam secara terus menerus. Sembari menyembunyikan komponen lain pada kamar kearifan sosial islam.

Bentuk puasa kita mungkin dimulai dari terus menerus berlaku baik. Tetapi sunyi dan bersedia untuk tidak mengharap pengakuan dari siapapun kecuali Allah.

Semoga latihan puasa kita Bulan Ramadhan ini menguatkan puasa-puasa kita di masa depan.

 

 

Penulis : Dalliyanayya Ratuviha. 

Jamaah Bangbang Wetan yang ninggal jejak di ratuviha.tumblr.com.