Nasab-Nasib Generasi Kintir – Prolog BangbangWetan Juli 2017

 

” Ada semacam mobilisasi ‘ terencana dan strategis ‘ yang dilakukan oleh penguasa untuk menjadikan khalayak hanya sebagai penonton pasif, tak punya otoritas atas segala apa yang terjadi di panggung kehidupan kita sebagai sebuah negara. “

Keberpihakan pada kutub tertentu, ketidak-jelasan arah dan visi pemerintahan serta perilaku pejabat dan wakil rakyat yang kian kehilangan asas kepantasan terletak di satu sisi. Berseberangan secara lateral namun menjadi bagian penting dari sisi tersebut adalah media yang telah habis terbeli. Tidak ada lagi media yang teguh dengan fungsi kontrol dan penyeimbang. Ada memang media yang menyebut dirinya oposan namun lebih lebih tepat disebut sebagai koran kuning dan murahan.

Kedua unsur tersebut, penguasa dan media, bekerja bersama dalam satu gerakan yang sangat seiya sekata: mengaburkan pandangan khalayak dari kejernihan dan nilai hakiki sebuah kejadian, person dan keadaan. Tujuannya adalah keberlangsungan penguasaan dan jaminan hidup layak bagi anak, isteri dan handai taulan.

Lihatlah pembenturan antara Islam (beserta tokohnya) dengan.Pancasila. Seolah Islam tak memberikan sedikitpun dukungannya atas dan terhadap bangunan NKRI. Pada saat yang sama , internal Islam juga dibuat keruh. Islam a la fulan berselisih paham dengan Islam milik fulan yang lain

Perilaku pemegang tampuk eksekusi tertinggi yang cengengesan selfie setelah sebelumnya mengatakan akan meng”gebuk” siapapun yang inkonstitusional merupakan penampakan ironi. Atau betapa sebuah tulisan seorang siswi SMU yang mendapat berjuta pujian hanya karena dua alasan: orang sekarang semakin jarang membaca buku dan oleh sebab tulisan tersebut mendukung kebijakan penuh tipu. Belum lagi sebuah film bizzaro dimana kenyataan dan kebenaran dijungkir-balikkan dan justru bisa memenangkan sebuah kompetisi perfilman.

Sekian banyak contoh lain merupakan indikasi dari sedang dijalankannya skenario besar terdiri dari sekian ratus metode dan sumber daya. Salah satu target utamanya adalah menjadikan semakin banyak individu dan pihak yang sekedar mengambang, ikut arus kintir, ‘drifted’.  Pada gilirannya, mereka yang energi dan elan vitalnya hanyalah “ikut kemanapun angin atau arus bergerak” akan menjadi konsumen yang loyal, klien.yang patuh dan massa yang taat pada produsen, patron, tuan dan juragannya.

Benarkah demikian? Halaman TVRI Surabaya akan menjadi saksi atas diskusi serta tukar kesepahaman atasnya.