NEGARA KERTAMAYA

“Tujuan tertinggi satu Negara Nasionalis (folkish) adalah perhatian untuk melanggengkan elemen-elemen rasial asli yang melimpahkan budaya menuju keagungan dan martabat umat manusia yang lebih mulia.”

[Adolf Hitler, Mein Kampf]

Perjalanan panjang sejarah umat manusia mencatat bahwa pencarian konsep sebuah kedaulatan wilayah, pangan, dan energi menjadi Grand Central Vision sebagai upaya untuk melegitimasi dan memenuhi hajat kekuasaan.

Muatan yang sama bisa kita lihat dari titik nol lahirnya peradaban yang terus mengalami dinamisasi data. Fakta geografis selalu menyeret nama Mediterania sebagai pusat sejarah tentang kisah Cinta bangsa Mycenaea, Kreta, Fenisia, Lidya, Yunani, Roma, serta begitu banyak budaya kuat perdana lain yang  bertemu dan berbaur.

Atas dasar tersebut, ruang diskusi akan tumpah dengan pertanyaan tentang eksistensial uang saku sejarah yang masih tersisa, yaitu tentang Negara dan Pemerintahan, Negarawan dan Politisi, Borjuis dan Proletar.

Pada tahap pemahaman yang lebih santun dan fundamental, Mpu Prapanca yang memurut sejarah hidup pada tahun Aktasisurya, tahun saat kerajaan Majapahit menjadi pusat kekuasaan Nusantara, beliau merumuskan ide dan konsep dalam bentuk lontar Kakawin Negara Kertagama, sebuah Memory of the World yang telah diakui oleh UNESCO. Kitab ini menjelaskan dengan seksama tentang pemisahan fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan, mungkin kata milenial dan sibuknya parpol membangun kepentingan, sedikit membuat pembahasan ini tidak lagi relevan untuk dikomparasi sebagai konstitusi sejarah.

Hari, menit, detik ini, mari kita menundukkan kepala, memaksa kepongahan itu jatuh di atas sajadah pembebasan. Coba mundur satu atau lima langkah untuk memaknai sedikit saja literasi masa lalu sebagai bahan pertimbangan membenahi masa depan, karena DNA literasi leluhur kita mengedepankan akal budi dan senantiasa melibatkan Tuhan untuk menyusun kebijakan dan membangun tatanan negara.

Kami yakin, proses ijtihad dengan mengelaborasi literasi masa lalu akan menghasilkan pengetahuan baru untuk menemukan kembali sisi kearifan bernegara.

Seorang Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Mbah Nun, sebelum memperkenalkan Maiyah ke ranah publik, beliau menempuh proses pergolakan empat kekuasaan yang berisi banyak kesukaran yang kami yakin itu tidaklah mudah untuk ditoleransi, dimulai ketika Orde Lama berada di penghujung masanya, Orde Baru, Reformasi, dan kekuasaan yang berlangsung saat ini.

Bung Karno sebelum melahirkan konsep Marhaenisme dan menjadi Presiden Republik Indonesia, beliau mengalami intimidasi dan penindasan pemikiran oleh Belanda.

Tan Malaka dalam menyelesaikan buah tangan MADILOG dan memperjuangkan kelas proletarnya, sempat menjadi buron komintern dan merasakan pahitnya jeruji besi sebelum akhirnya beliau menawarkan konsep republik dari ide Naar The Republik Indonesia yang dia gagas dalam pelarian.

Atas dasar proses inilah dengan segala daya upaya beban konstitusi mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan. Karena pada dasarnya Allah sudah menegaskan pada literasi suciNya,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

 

Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” QS. Saba’ [34:15]

 

Semoga dalam forum BangbangWetan di Taman Budaya Cak Durasim, kerinduan menyatu sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai hamba yang rindu akan ilmu.

 

[Tim tema BangbangWetan]