Waktu seringkali menampakkan impresinya sendiri. Begitu angkuhnya ia sehingga tanpa sempat kita meniti dengan cermat perjalanannya, masa-masa keterkungkungan sebagai dampak dari Covid-19 telah mengantarkan kita ke hari-hari “bar bada“. Bada dengan segala keunikan yang hanya generasi kita saat ini saja bisa menjadi saksi hidupnya.

Dari logika keteraturannya, “bada” tentu saja didahului oleh bulan puasa. Bulan yang spesial bagi pelaku puasa–syiam maupun shaum. Kehadiran Covid-19 di Ramadan tahun ini menjadi semacam komplemen dari Tuhan untuk menyadarkan manusia agar kembali memahami batasan hidup sebagai manusia, makhluk dan hambaNya. Salah satu yang pasti adalah agar manusia tak terjerumus kepada tindak perusakan, penindasan, dan eksploitasi pada alam dan sesama makhluk serta manusia. Tindakan yang berawal dari persangkaan yang tak presisi atas sangkan paran juga paran sangkan keberadaan dirinya.

Berfokus pada strategi menghadapi pandemi, kita sedang diajak atau mungkin lebih tepat dipaksa untuk ikut tatanan baru yang diistilahkan sebagai “New Normal”. Kurva waktu terminologi ini dalam struktur lengkapnya adalah “normal-abnormal-new normal-normal”. Meski hitung-hitungan sementara mengisyaratkan kemustahilan kembalinya tatanan ke arah normal secara denotatif, sebagai awam pilihan kita hanya mengiyakan dan hanyut dalam arus besar keseharian sekitar.

Pada level pemahaman sederhana, New Normal adalah segala mekanisme hidup sebagaimana belum datangnya Virus Corona namun dilengkapi oleh protokol dan aturan teknis yang ditetapkan otoritas kesehatan dan pemerintah. Protokol tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menekan sebanyak mungkin jumlah manusia yang terpapar dan–yang pasti–beban penanganan pasien dengan status positif. Satu kerja tambahan yang membuat pemerintah terengah-engah.

Bila pertanyaan retorik kita ajukan, kenormalan yang bagaimana yang semestinya kita terapkan?

Setelah kiat-kiat luar diri berupa social and physical distancing, maupun PSBB tak cukup adekuat  menjawab persoalan pandemi sepenuhnya, maka saatnya kita masuk ke dalam diri sebagaimana hadis Rasulullah,  “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.” (HR. Muslim). Pintasan logisnya adalah segala kerusakan bumi dan hadirnya pandemi lahir dari kerusakan moral yang merupakan pancaran isi hati sehingga formula terbaik untuk itu seharusnya adalah perombakan “Old moral” dan bersama-sama menentukan rumusan  “New moral“.

Sejauh manakah manusia mau berubah? Secara asertif, Mbah Nun menuliskan “Maka kalau memang harus ditanyakan apa yang akan berubah pada kehidupan manusia pasca-Corona nanti, hanya bisa dibayangkan perubahan pada barang-barang yang tidak penting itu. Hal-hal yang sekunder, seriuh-rendah apapun, hal-hal yang di luar rentang garis abstrak Sangkan-Paraning Dumadi.” (Emha Ainun Nadjib, Muter-muter Lama Ke Muter-muter Baru, 18 April 2020). Artinya, merujuk pada catatan-catatan peristiwa, tidak akan ada banyak perubahan bisa kita harapkan pasca-insiden global pandemi. Karenanyalah, kembali ke diri sendiri dan berkhidmat pada lingkaran-lingkaran kecil kita menjadi titik tumpu keberhasilan New Normal yang ditenagai New Moral.

Bagaimanakah cara merumuskan New Moral? Mari kita diskusikan via daring live streaming Youtube BangbangWetan pada Minggu, 7 Juni 2020 mendatang. Rambate rata hayo.

 

Oleh : Tim Tema BangbangWetan