News : MUPUS , MUNGGAH LEVEL

 
Berita : Bangbang Wetan 14 Januari 2017_

Seberapa sering kita menghakimi keadaan? Hampir setiap hari kekecewaan dihadapi manusia karena ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan.
Beberapa jamaah BangbangWetan sempat berbagi pengalaman saat sesi diskusi awal sebelum pembahasan oleh Mas Sabrang dan Kyai Muzammil. Pengalaman dikecewakan atau kegagalan diceritakan spontan dan sangat personal, mulai dari urusan percintaan, pekerjaan, sampai perkara negara. Dari sekian banyak yang dikisahkan, jamaah sepaham bahwa dibalik sebuah kejatuhan pasti ada buah yang bisa dipetik. Harus ada satu dua optimisme yang tersisa meski dalam kesusahan jiwa dan raga.

Kyai Muzammil mengawali _ngaji_ Mupus dengan mengingatkan kembali bahwa tidak ada satupun sandaran yang pasti kecuali pada Allah. Saat ini manusia sangat mudah dibuat kecewa karena harapan-harapan mereka disandarkan kepada selain Allah, bahkan sangat anthroposentris* dan meniadakan Tuhan sebagai faktor utama penentu kehidupan. Manusia sekarang menjadi mudah _disetir_ persepsinya, memberi penilaian kepada diri sendiri sesuai dengan apa yang dikatakan media, tanpa disesuaikan dengan berbagai perspektif yang lain. Kesalahan-kesalahan tersebut yang menggiring manusia pada kekecewaan berkepanjangan. Konsekuensinya manusia harus selalu gravitatif pada Allah, dan ada pada ujung segitiga cinta** bersama Allah dan Nabi Muhammad.

Sementara itu Mas Sabrang mentadabburi tema Bangbang Wetan bulan ini dengan penjabaran, bahwa baginya Mupus itu salah satu teknologi (atau sarana) yang dimiliki Orang Jawa. Dalam menghadapi permasalahan mereka punya *rentang* — yakni jarak penyikapan atas suatu hal sehingga memungkinkan manusia untuk bisa berkontemplasi. Proses kontemplasi ini penting untuk mengantarkan manusia pada *kesadaran aktor* ke *kesadaran script dan kesadaran sutradara*.

Pada _kesadaran aktor_, manusia mudah merasa kecewa terhadap situasi, hanya mengeluh jika tidak sesuai harapannya. _Kesadaran script_ (naskah) adalah ketika manusia mulai mengevaluasi dan merumuskan langkah yang bisa diambil untuk mengatasi kekecewaannya, kemudian kesadaran sutradara memungkinkan manusia untuk berperan dalam sebuah situasi yang dihadapi. Artinya, manusia yang sudah ada pada kesadaran sutradara tidak lagi hanya menghakimi peristiwa. Sebab mereka sudah mampu mengatasi kekecewaan yang telah berlalu dengan mengambil hikmah. Hikmah yang diambil manusia berarti pembelajaran hal baru, menemukan alasan yang baik, sehingga mengantarkannya lebih dekat kepada Tuhan.

Sebagai sarana, Mupus adalah sikap yang bisa diambil untuk *selalu siap* dengan berbagai kemungkinan yang dihadapi manusia. Segala ikhtiar keputusan akhirnya diserahkan kepada hak Tuhan sebagai penentu takdir. Tidak kemudian lupa atau meninggalkan, *tetapi terus menerus mempelajari, mengambil hikmah*, dan menjadi manusia yang ‘munggah level’ alias lebih baik dari waktu ke waktu.
—–
*) _Antroposentris adalah cara berfikir yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan, pusat dari eksistensi adalah manusia itu sendiri._
**) https://caknun.com/2016/meletakkan-solusi-bulatan-ke-dalam-solusi-segitiga-cinta/

red : vh/ht/IsimBangbangWetan