Menulis tentang Padhang mBulan, mungkin seperti seekor burung yang diminta bercerita tentang udara. Di tengah silang sengkarut dan penjajahan manusia atas kata, membuatku merasa harus menemui lelaki bertubuh kecil itu di Pagerwojo, tempatnya “beralamat” saat ini, setelah mengawali hidupnya di Kedungcangkring, hanya beberapa puluh meter dari pusat semburan lumpur sekarang.

img_0407

Mbah Ud yang diharapkan bisa menuliskanku sebuah cerita yang “pantas”, malah menyeretku ke Mojoagung, ndingkik-ndingkik mengintip seorang lelaki yang sedang berjalan ke rumah tetangganya, menanyakan ayam yang dititipkannya disana. Mbah Lathif Sumobito, yang menitipkan ayam-ayamnya pada tetangga-tetangganya hanya untuk menemukan alasan berkunjung ke rumah tetangganya dan menanyakan kabar si tetangga dan keluarganya hari itu, mengukur apa yang bisa dilakukan untuk membantu tetangga-tetangganya.

Sialnya, Mbah Ud sudah tak bersamaku ketika aku larut pada peristiwa service-to-others itu. Kutemukan diriku mendengarkan Cak Nang berkata singkat, “Kalau ingin mengerti bagaimana pengabdian sosial komunal Mbah Lathif, lihatlah Cak Nun sekarang.” Dan akupun “terdampar” di tanah Menturo, yang meskipun jalannya jauh dari disebut bagus, toh Google masih “mengutus” mobil street-view-nya ke titik ini, mengabadikannya dalam gambar. Di tempatku terdampar, sedang berlangsung sebuah forum yang konon ceritanya, adalah untuk memberikan alasan bagi keluarga besar memanggil pulang anak keempatnya yang bernama Muhammad Ainun Nadjib, di tengah putaran aktifitas beliau yang sangat padat.

Forum itulah Padhang mBulan, yang rutin dilakukan setiap padhang bulan, ketika bulan disebut mencapai bentuk bulat sempurna. Sebuah forum yang sudah berjalan istiqamah mudawam selama 24 tahun, dan insyaAllah, akan terus berlangsung. Ayat-ayat qawliyah ditadabburi dengan tawaddhu’, ayat-ayat kawniyah dieksplorasi lapisan-lapisannya dengan tadharru’. Senyum, sesenggukan, tawa dan tangis menghiasi detik-detiknya. Menata hati dan menjernihkan fikiran.

Tidak pada tempat dan kepantasan bagiku menceritakan muatan, kandungan dan pendaran nilai pengajian Padhang mBulan. Bukan hanya sekedar dan sesederhana ‘bagaimana menceritakan rasa asin dan pedas pada mereka  yang tak mengenal garam dan lombok’, tetapi lebih serius dari itu. Ialah bahwa aku sendiri tidak memiliki secuilpun keberanian untuk menyebut bahwa aku sudah merasakan kesempurnaan rasa ‘asin dan pedas’ itu. Kalau mau jujur, mungkin hanya sepersekian persen dari rasa ‘asin dan pedas’ suguhan Padhang mBulan yang berhasil aku cecap. Kurang pas juga kalau aku menceritakan kejadian-kejadian dan peistiwa di Padhang Bulan, sebab sudah banyak sedulur lainnya yang bercerita mengenai hal tersebut dan tersebar di media online, di dunia maya.

Maka aku hanya bisa berbagi rasa. Karena rasa ini lebih privat dan subjektif, setidaknya meminimalkan resiko ketika harus mempertanggungjawabkannya. Maklumlah, karena aku ini seorang pengecut yang menyembunyikannya dibalik kebesaran-kebesaran yang artifisial.

***

Tunggu dulu, yang tampak di depanku saat ini adalah menantu Mbah Lathif, Ibu Halimah, sedang mengajak makan bersama intel-intel kodam dan kepolisian yang mengawasi pengajian ini. Ibu Halimah yang juga memberikan penghargaan kepada beberapa jama’ah PB atas “pengorbanan yang dilakukan” untuk bisa hadir di pengajian ini, memintakan maaf untuk putranya, Muhammad Ainun Nadjib, sebab menurut beliau yang teduh, putranya lebih besar peluang dan kemungkinannya berbuat salah akibat tulisan dan ucapannya didengarkan banyak orang. Hal itu dilakukan dan disampaikan beliau secara langsung, muwajjahah, tidak dengan pamrih, ikhlas, dan penuh rasa sayang, silaturrahim.

Muwajjahah, di Padhang mBulan adalah bertemunya wajah dengan wajah. Disaksikannya raut wajah dan air muka. Didengarkannya tinggi rendah nada suara. Ikhlas, di Padhang Bulan, semuanya datang dengan hanya membawa dirinya dan niat baiknya, meninggalkan segala hal yang bersifat kesementaraan. Silaturrahim, saling menyambungkan hati satu sama lain dalam sebuah paseduluran sepanjang jalan, paseduluran tanpa tepi. Laksana para Muhajirin yang disedulurkan dengan Anshar.

***

Padhang Bulan adalah Ibu

Dilahirkan selepas tadarus pada 13 Ramadhan (ada beberapa yang menyebutkan dilahirkan tepat ketika sang ibu sedang tadarus, yang sadar telah melahirkan seorang bayi karena seusai tadarus ia merasakan sang bayi sudah di luar), Emha kecil sangat takdhim pada sang Ibu. Hanya mau belajar membaca al-Quran dari sang Ibu. Hanya berkenan menjadi imam sholat karena sang Ibu menyuruhnya. Pernah berkampanye untuk salah satu parpol karena perkenan sang Ibu.

Masih banyak kisah lain, atau bahkan kita sendiri mengalaminya, yang merujuk pada barakah dan karamah perkenan dan pangestu seorang Ibu.

Muwajjahah, keikhlasan dan silaturrahim adalah sifat dasar seorang Ibu … dan Padhang Bulan adalah Ibu bagi simpul-simpul maiyah yang saat ini sedang mengembang, menebarkan wewangian rahmatan lil ‘alamin. Maka tidaklah berlebihan jika seorang anak ngalap berkah dan karamah dari Ibunya.

Penulis: Moch. Hasanuddin