NGURAS , SUDAH BIASA

 

BangbangWetan , 14 Januari 2017

bangbangwetan.org . Cuaca cerah yang menaungi langit Kota Surabaya sejak pagi tiba-tiba berubah menjadi gelap, disusul hujan yang begitu lebat pada Sabtu (14/1) sore. Beberapa penggiat yang berada di Taman Budaya Cak Durasim untuk mempersiapkan BangbangWetan pun melakukan langkah antisipatif demi lancarnya acara malam harinya.

Terpal-terpal yang digunakan sebagai alas duduk jamaah, yang sebelumnya dijemur, akhirnya kembali dilipat dan diletakkan di depan panggung. Kru dari sound Paramarta juga segera menutupi sound dari terpaan hujan menggunakan terpal. Tidak ada lagi yang dilakukan setelahnya, persiapan-persiapan lain yang berkenaan dengan acara Alhamdulillah sudah selesai dikerjakan sebelum hujan turun.

Di sela-sela suara hujan lebat, tiba-tiba terdengar bunyi “kraak”. Rupanya salah satu dahan pohon beringin di sisi kiri belakang panggung roboh karena derasnya hujan dan kencangnya angin. Beruntunglah dahan dengan diameter cukup besar ini tidak patah. Jika patah maka kemungkinan besar akan menimpa panggung BangbangWetan, serta tiga motor milik penggiat yang berada di bawahnya. Alhamdulillah atas perkenaan Allah, dahan ini tidak juga roboh sampai berakhirnya acara.

Hujan lebat cukup lama mengguyur Surabaya, ketika akhirnya hujan mulai mereda dan berganti menjadi gerimis tipis, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. Penggiat BangbangWetan pun mulai bergotong royong melanjutkan persiapan acara.

Genangan air di depan panggung mulai dibersihkan untuk kemudian dipasang karpet yang sebelumnya dilapisi terpal. Beberapa jamaah yang sudah datang tak ketinggalan ikut berpartisipasi membantu. Mereka bergotong royong tanpa ada perintah, tanpa ada paksaan, tak mengharapkan apapun.
Saat berakhirnya acara pun juga demikian. Jamaah beserta penggiat BangbangWetan bahu-membahu membereskan beberapa perlengkapan, melipat karpet dan terpal, dan membersihkan sampah. Semua dilakukan juga tanpa paksaan, melainkan dilandasi kesadaran, keikhlasan, dan rasa ikut memiliki.

Situasi demikian lazim ditemui saat Maiyahan. Dan bukan sesuatu yang aneh. Maiyah bagi JM dirasakan sebagai rumah yang hangat, yang menampung semuanya, timbul rasa tentram dan nyaman saat memasukinya.

 

Red : wd/ht/ISIMBangbangWetan